
Agam POV
"Kamu di mana Gam.?! Keluarga Arumi sudah menunggu.!" Papa sedikit membentakku di telfon. Aku hanya bisa mendengus kesal dengan sikap pemaksa Papa yang menjadikanku seperti bonekanya.
Sepertinya Papa tidak mengambil pelajaran dari rumah tanggaku bersama Karina. Pernikahan yang di dasari oleh perjodohan hingga kami berdua sepakat untuk membuat surat perjanjian tanpa sepengetahuan orang tua kami masing-masing.
"10 menit lagi aku sampai, banyak pekerjaan di kantor jadi aku pulang terlambat." Aku menjawab datar, setelah itu memutuskan panggilan telfon tanpa memberikan kesempatan pada Papa untuk bicara lagi.
Walaupun sudah menolak berulang kali, Papa tetap saja kukuh untuk mempertemukanku dengan keluarga Arumi dan membahas soal perjodohan itu.
Dengan alasan aku belum bisa menemukan calon istri sendiri, Papa melarangku untuk menolak permintaannya.
Seharusnya aku memperkenalkan Bianca pada Papa sebagai calon istriku, tapi mengingat Bianca yang masih berstatus istri orang, tidak mungkin aku membawanya ke hadapan Papa.
Karna sekali aku mengenalkan Bianca sebagai calon istriku, Papa pasti tak akan tinggal diam begitu saja, dia akan mencari tau asal usul Bianca bahkan sampai ke akarnya.
Sudah pasti Papa tidak akan memberikan restu jika mengetahui status Bianca yang masih menjadi istri Dirga.
"Sial.!!" Umpatku seraya melayangkan pukulan pada stir mobil, aku hanya bisa mengumpat tanpa bisa berbuat apapun saat ini. Perceraian Bianca baru akan di daftarkan besok, pasti butuh beberapa hari sampai Bianca resmi pisah dari Dirga.
Sedangkan aku tidak punya waktu lagi untuk mengundur pertemuan dua keluarga ini. Sudah ke tiga kalinya aku menolak untuk bertemu dengan berbagai alasan. Tapi kali ini aku tidak bisa menolak lagi.
Memarkirkan mobil di halaman rumah, aku bergegas masuk dan langsung menuju ruang makan. Rumah besar ini hanya di huni oleh Papa dan Mama saja sejak 3 tahun lalu karna aku memutuskan untuk tinggal di rumah sederhana setelah menikah.
"Sayang,, kemari nak,," Mama menyambut ku dengan senyum lebar. Gurat keriput di bagian bawah matanya sedikit terlihat di usianya yang sudah 55 tahun.
Aku berjalan pelan menuju meja makan panjang itu. Disana ada 5 orang, termasuk bocah ingusan yang akan di jodohkan denganku.
Sebenarnya aku sudah mengenal dekat keluarga Arumi. Kami menjalin kerja sama dengan baik. Beberapa kali kami makan malam bersama keluarga dan menghadiri acara yang sama.
Aku tentu sudah melihat Arumi sejak bocah itu baru lulus SD.
__ADS_1
Ck,,!! Mengingat perbedaan usiaku dengan Arumi, aku jadi merasa sangat tua.
"Malam Om, Tante,," Sapaku yang berusaha tersenyum ramah pada keduanya. Sedangkan aku enggan melirik Arumi sedikitpun. Wajahnya yang menjengkelkan membuatku malas menatapnya.
"Kenapa cuma Papa sama Mama yang di sapa.? Om nggak mau nyapa calon istri sendiri.?" Suara yang setengah merengek itu membuat kedua orang tuaku menetap tajam padaku. Mereka pasti ingin memintaku menyapa Arumi, sesuai keinginan bocah ingusan itu.
Dengan terpaksa aku melirik ke arahnya. Gadis yang membalut tubuhnya dengan dress warna dusty itu benar-benar masih sangat kecil.
"Malam Arumi. Aku pikir kamu nggak ikut, terlalu kecil jadi nggak kelihatan." Ujarku yang langsung mendapatkan wajah cemberut darinya.
"Ckk, menyebalkan.!" Gadis itu mengumpat pelan, tapi sepertinya di dengar oleh semua orang.
"Jangan begitu, kamu harus bersikap sopan dan berhenti memanggil Agam dengan sebutan Om. Kamu bisa memanggilnya Kakak." Tante Riana menegur putri bungsunya yang menjengkelkan itu. Tentu saja Arumi hanya mengangguk tanpa mencoba untuk bersikap sopan dan memanggilku dengan panggilan yang benar.
"Duduk Gam,, kita makan malam dulu." Papa mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku bergabung di meja makan dan duduk berhadapan dengan gadis kecil itu.
Sikap dan fisiknya sudah pasti jauh di bawah Bianca. Bocah ingusan itu pasti hanya akan menyusahkan saja nantinya.
Tidak seperti Bianca yang jelas sudah matang dari segi usia dan pemikirannya. Dia tau betul bagaimana cara menyenangkan pasangannya dengan hal-hal kecil sekalipun.
...******...
Bianca POV
Suara petir yang bergemuruh dan gemercik air hujan yang sangat deras, membuatku bersembunyi di balik selimut tebal.
Aku paling tidak suka suasana seperti ini di malah hari, takut tiba-tiba lampu padam dan hanya akan membuatku ketakutan setengah mati.
"Dek,,, kamu baik-baik saja kan.?" Aku menyibak selimut setelah mendengar suara Mas Dirga di luar kamar. Mas Dirga tau betul kalau aku akan merasa takut jika sedang hujan besar di sertai petir. Mungkin itu yang membuatnya berada di depan kamarku, padahal sekarang sudah pukul 11 lewat.
__ADS_1
"Kalau takut keluar saja Dek, nanti Mas temenin di ruang tengah." Mas Dirga kembali bicara.
Aku belum memberikan respon apapun karna bingung. Rasanya enggan berinteraksi lagi degan Mas Dirga, tapi keadaannya tidak memungkinkan untuk tetap di dalam kamar seorang diri. Sudah pasti aku tidak akan bisa tidur sebelum suara petir dan gemuruh hujan berhenti.
Sempat berfikir beberapa menit, aku memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar. Nyatanya aku memang setakut itu dalam situasi seperti ini. Apalagi hampir tengah malam, takut tiba-tiba lampu padam dan aku terjebak sendirian di dalam kamar ini.
Hal pertama yang aku lihat saat membuka pintu adalah senyum teduh Mas Dirga yang mengembang. Tidak ada kekecewaan dan kebencian dalam sorot matanya saat menatapku, padahal dia telah mengetahui fakta tentang hubungan terlarangku dengan Mas Agam.
Tapi mungkin sudah seharusnya Mas Dirga bersikap seperti itu karna sadar bahwa semua yang terjadi bermula dari kebohongannya.
"Duduk di ruang tengah aja ya.? Nanti Mas bikin teh hangat buat kamu," Ucapnya dengan suara yang selalu lembut dan teduh seperti biasa.
Aku mengangguk dan bergegas ke ruang keluarga. Sedangkan Mas Dirga beranjak ke dapur untuk membuat teh.
"Minum dulu Dek,," Mas Dirga kembali dengan menyodorkan secangkir teh padaku.
"Itu nggak terlalu panas, sengaja biar kamu bisa langsung minum." Jelasnya yang tak mendapat respon apapun dariku. Aku memilih bungkam sejak tadi, tapi aku tidak menolak untuk meminum teh buatannya.
Mas Dirga sudah duduk di sebelahku, dia membuat sedikit jarak dan tampak canggung. Mungkin karna aku hanya diam saja sejak tadi.
"Kapan kamu mau mengajukan gugatan cerai.?" Setelah beberapa saat saling terdiam, Mas Dirga mengajukan pertanyaan dengan nada bicara yang terdengar pasrah.
Mungkinkah dia sudah bisa menerima keputusan ku.?
"Besok pengacara ku akan mendaftarkan gugatannya." Mas Dirga tampak tertunduk lesu setelah mendengar jawabanku.
"Aku harap Mas nggak mempersulit prosesnya." Pintaku yang kemudian di tanggapi dengan anggukan kecil oleh Mas Dirga.
Aku menatapnya lekat, ada rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak di hati saat melihat reaksi Mas Dirga.
Tak hanya itu saja, perasaanku tiba-tiba kacau dan gelisah. Entah perasaan apa ini.
__ADS_1