
Dirga POV
"Maaf Dek,," Lirih ku dengan suara tercekat. Ku tatap wajah cantik Bianca yang sedang terlelap di sofa ruang tamu. Dia pasti menunggu ku pulang sampai ketiduran di sofa.
Aku bergegas menggendongnya dan memindahkan Bianca ke kamar.
Ku usap lembut pucuk kepalanya sebelum mendaratkan kecupan di kening.
Bianca, wanita kedua dalam kehidupanku. Tapi dia sangat spesial dan berharga hingga aku menjadikannya sebagai tempat pelabuhan terakhir.
Tak peduli meski di mata orang-orang Bianca belum menjadi wanita sempurna karna belum melahirkan seorang anak. Tapi bagiku tidak ada wanita lain yang lebih sempurna dari Bianca.
Duduk di sisi ranjang, ku belai lembut pipi putih Bianca. Selalu ada rasa bersalah yang menyeruak di dalam dada setiap kali aku memandang wajah polos Bianca saat sedang tertidur.
Aku telah membuat kesalahan besar padanya beberapa minggu yang lalu dengan tidur bersama Ziva. Aku benar-benar sangat menyesali hal itu. Tanpa sepengetahuan Bianca, aku sudah menodai pernikahan kami dengan perbuatan gilaku.
Aku benar-benar khilaf, meski harus ku akui yang kedua kalinya di lakukan secara sadar.
Entah bagaimana caranya aku menebus kesalahan ku pada Bianca. Istri yang selama ini begitu setia dan tak pernah membiarkan pria manapun mendekatinya untuk menjaga harga diriku sebagai suami. Sedangkan aku justru Melak hal gila di belakangnya.
Bianca menggeliat, perlahan mata indahnya mulai terbuka.
"Mas.? Sudah pulang." Ucapnya dengan suara lirih dan serak khas bangun tidur.
Aku mengangguk sambil terus mengusap pipinya.
"Maaf, kamu jadi terbangun."
"Tidur lagi saja Dek, Mas mau mandi dulu." Aku menarik selimut ke atas tubuhnya.
"Kenapa bau parfum vanilla.?" Bianca menatap menelisik dan hidungnya terlihat berusaha untuk mengendus aroma parfum yang dia sebutkan tadi.
Aku buru-buru beranjak dari rajang dan bergeser menjauh. Aku baru ingat kalau tadi Ziva sempat memelukku sebelum aku pergi dari rumahnya. Parfum itu pasti menempel di kemeja kerjaku.
"Masa sih Dek.? Kamu salah nyium kali." Mencoba untuk santai, tapi tetap saja aku gugup karna sadar telah melakukan kesalahan.
"Mas mandi dulu ya, badan udah lengket." Aku mengusap pucuk kepala Bianca dan berlalu ke kamar mandi.
Semoga saja Bianca tidak curiga dan tak berfikir macam-macam. Aku benar-benar takut jika suatu saat Bianca mengetahui kedekatanku dengan Ziva.
__ADS_1
...****...
Bianca POV
Aku sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Mas Dirga yang memelukku dari belakang. Aroma parfum maskulin miliknya begitu menguar dan menusuk indera penciuman. Dulu aku sangat menyukai aroma parfumnya yang menenangkan, tapi akhir-akhir ini tidak lagi.
"Kamu kok belum siap-siap Dek.? Memangnya nggak ke kantor.?" Mas Dirga bertanya dengan nada manja. Hal yang jarang dia lakukan.
"Aku agak siang berangkatnya." Aku menjawab sambil menuangkan makanan ke dalam piring.
"Kalai gitu Mas nggak bisa antar kamu, Dek."
"Nggak papa Mas, aku bisa naik taksi." Jawabku dan meminta Mas Dirga untuk melepaskan dekapannya, kemudian membawa makanan ke meja makan.
Aku menikmati sarapan di meja makan tanpa banyak bicara. Walaupun Mas Dirga banyak melontarkan pertanyaan soal pekerjaanku di kantor, tapi aku hanya menjawab seperlunya tanpa bercerita panjang lebar.
Mood ku sedang buruk akibat parfum vanilla yang menempel di kemeja Mas Dirga.
Sebenarnya ingin sekali aku bersikap acuh dan masa bodo. Ingin tak peduli Mas Dirga mau berbuat apa dengan wanita itu. Tapi entah kenapa aku benar-benar kesal padanya. Lebih tepatnya kesal karna Mas Dirga terlalu pandai mencari alasan untuk membohongiku.
"Mas berangkat dulu ya Dek,," Mas Dirga pamit seperti biasa dan mengecup keningku. Kali ini bibirku menjadi sasaran, dia mengecup dan sedikit membubuhkan lu-matan.
Apa ciuman itu bisa di katakan sebagai pengkhianatan.? Apa artinya aku juga sudah berselingkuh dari Mas Dirga.?
"Hati-hati Mas,," Ku lambaikan tangan sebelum Mas Dirga melajukan mobilnya.
Diam di tempat, perasaanku jadi tidak karuan memikirkan hal itu.
Apa aku salah jika melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mas Dirga padaku.?
"Secinta itu kamu sama Dirga.? Mobilnya udah nggak kelihatan masih aja di lihatin." Teguran Mas Agam membuatku menoleh. Ekspresi wajahnya yang datar bertolak belakang dengan nada bicaranya yang terdengar kesal khas orang yang sedang cemburu. Tapi mana mungkin Mas Agam cemburu pada suamiku.
Aku tak merespon, hanya melempar senyum tipis padanya.
"Mas udah sarapan.?"
"Gimana lukanya.? Masih sakit nggak.?" Aku berjalan mendekat dan berhenti di batas teras kami.
"Kalau mau perhatian jangan tanggung-tanggung Bia. Nggak usah nanya aku udah sarapan atau belum, tapi langsung bawakan saja makanannya."
__ADS_1
"Kalau ingin tau kondisiku, langsung liat sendiri saja lukanya."Jawaban Mas Agam membuatku mencebikkan bibir. Pria itu benar-benar hobi membuatku tak berkutik.
"Sebentar, Bia ambil dulu makanannya." Aku masuk kedalam rumah untuk mengambil sarapan yang memang sengaja aku buat banyak agar bisa di berikan pada Mas Agam.
Selama lukanya belum membaik, aku merasa memiliki tanggungjawab untuk mengurusnya.
Duduk berdua di teras rumah Mas Agam, aku menolak saat Mas Agam memintaku masuk ke dalam rumah.
"Hari ini kamu nggak usah berangkat, temani aku saja di rumah." Ucap Mas Agam sebelum menerima suapan pertama dariku.
"Ya ampun, mentang-mentang pimpinan, enak sekali meminta karyawan buat nggak berangkat."
"Aku baru sehari kerja Mas, masa iya hari ini nggak berangkat.? Bisa-bisa jadi bahan gosip di kantor dan menimbulkan kecurigaan karna sekretaris dan pimpinannya kompak nggak masuk hari ini." Keluhku.
"Aku nggak peduli." Jawabnya acuh.
Tentu saja Mas Agam bisa menjawab seperti itu karna dia anak dari pemilik perusahaan.
"Tapi kamu nggak bisa seenaknya begitu Mas. Pikirkan aku juga. Jangan buat karyawan kamu berfikir macam-macam sama aku."
"Pokoknya aku mau berangkat ke kantor.!" Tegas ku. Mas Agam tampak menghela nafas berat, tapi dia juga tidak melarang ku.
Aku bergegas pulang selesai menyuapi Mas Agam. Setelah 30 menit mandi dan bersiap, aku buru-buru keluar untuk berangkat ke kantor.
Ojek online yang aku pesan juga sudah menunggu di depan rumah.
Tapi aku di kejutkan dengan mobil Mas Agam yang sudah terparkir di depan rumah dengan mesin menyala. Pemiliknya juga ada di dalam dan memakai setelan jas rapi.
"Ayo naik.!" Teriak Mas Agam.
"Katanya hari ini Mas nggak ke kantor.? Kenapa,,,
"Aku nggak mau sendirian di rumah." Jawabnya santai.
"Abang ojeknya udah pergi barusan, sekalian aku bayar argonya." Aku reflek mengedarkan pandangan untuk mencari abang ojek itu yang memang sudah tidak ada.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku tak banyak bicara. Terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri tentang kedekatan kami berdua.
Mas Agam mulai terang-terangan mencari segala cara agar bisa berduaan denganku.
__ADS_1