Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 75


__ADS_3

Agam POV


Keluar dari ruang kerjaku, aku langsung mendatangi asisten pribadi di ruang kerjanya.


Keputusan Bianca tidak bisa aku terima begitu saja. Dia terlalu meremehkan perasaanku yang sudah terlanjur mencintainya.


"Bianca sudah berhenti bekerja mulai detik ini. Cepat kamu carikan sekretaris pengganti yang memenuhi kriteria dalam waktu 1 jam.!!" Titah ku dengan amarah yang masih menguasai akibat keputusan Bianca yang hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Tapi Pak, bagaimana bisa mendapatkan sekretaris dalam waktu 1 jam.?"


"Bukannya ini terlalu mendadak.?" Alfian tampak gelagapan menerima perintah dariku.


Karna dia tau tidak akan mudah mendapatkan sekretaris yang memenuhi kriteria dalam waktu 1 jam.


"Kamu bisa mencari kandidat di perusahaan ini. Dari banyaknya karyawan, pasti ada salah satu yang berkompeten untuk di jadikan sekretaris.!"


"Lakukan sekarang dan bawa keruangan ku secepatnya.!" Aku berlalu, tak peduli meski permintaanku membuat Alfian frustasi dan kelabakan. Saat ini aku ingin buru-buru mendapatkan sekretaris baru untuk menggantikan Bianca.


Tidak mungkin aku membiarkan Bianca berlama-lama di kantorku setelah dia memilih untuk mengakhiri semuanya.


Aku pasti tidak akan bisa mengontrol emosi dan rasa sakit ku kalau masih terus berinteraksi dengannya. Jadi memecat Bianca dan mencari sekretaris baru adalah keputusan yang tepat saat ini.


"Agam.! Ikut ke ruangan Papa sekarang.!!" Aku mendengus kesal saat Papa tiba-tiba menghalangi jalanku dan menyuruh untuk ikut ke ruangannya.


Padahal aku berencana akan mentransfer sejumlah uang ke rekening Bianca dan menyuruhnya untuk langsung meninggalkan kantor ini.


"Duduk.!!" Tegas Papa dengan tatapan tajam yang menusuk. Dia lebih dulu mendudukkan dirinya di sofa. Aku bergegas menyusul dan duduk di depannya.


"Jadi ini alasan kamu menerima Bianca di perusahaan kita.?!"

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu membohongi Papa dan menutupi statusnya.!!" Dengan nada bicara penuh amarah, Papa terus mengarahkan tatapan tajam padaku.


Sejak awal aku sudah yakin kalau Papa bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Bianca, tapi aku tidak tau apa yang membuat Papa akhirnya menyelidiki tentang Bianca. Papa bahkan baru kali ini memergoki ku berpelukan dengan Bianca, tapi dia sudah tau semuanya tentang hubungan kami.


Tunggu.?!! Jangan bilang Arumi telah mengadukan tentang hubunganku dengan Bianca.


Karna cuma bocah ingusan itu yang tau mengenai hubungan kami.


Sial.!!


Kalau sampai benar, aku pastikan akan membuat perhitungan dengannya.!


"Jawab Papa, Agam.!!" Bentakan Papa membuyarkan pikiranku.


Aku memilih menarik nafas lebih dulu sebelum akhirnya menceritakan semuanya pada Papa.


Tidak ada yang aku tutup-tutupi, aku mengakui semua perbuatan ku. Termasuk menutupi status Bianca yang sudah bersuami di perusahaan ini.


Itu sebabnya aku membuat berbagai alasan agar Bianca dengan mudah di terima di perusahaan ini tanpa membuat Papa curiga sedikitpun.


"Dasar bodoh.!!" Cibir Papa dengan senyum kecut.


"Apa kamu pikir di dunia ini nggak ada wanita lain yang masih single sampai kamu menjalin hubungan dengan wanita yang sudah bersuami.!!"


"Papa bahkan sudah menyiapkan wanita baik-baik, dari keluarga terpandang dan sederajat dengan keluarga kita."


"Arumi jauh lebih pantas menjadi istrimu.".


...*****...

__ADS_1


Bianca PoV


Meski Mas Agam sudah menyuruhku untuk buru-buru keluar dari kantor ini, tapi aku memilih bertahan karna hanya masih ada beberapa pekerjaan lagi yang bisa aku selesaikan sampai makan siang nanti.


Sebuah notifikasi dana masuk membuat dadaku terasa nyeri. Mataku terasa panas dan berkabut. Mas Agam benar-benar membayar ku seperti yang dia katakan beberapa menit yang lalu. Meski mengirimkan uang dengan nominal yang cukup tinggi, tapi apa yang Mas Agam lakukan justru membuat harga diriku jatuh serendah-rendahnya.


"Tega sekali kamu Mas,," Lirihku seraya tersenyum kecut dengan hati yang terasa di cabik-cabik.


Aku tau keputusanku telah membuat hatinya terluka, tapi bukan berarti dia bisa membayar ku untuk perbuatan yang sudah kita lakukan dalam keadaan sama-sama sadar dan mau.


Memasukkan ponsel ke dalam tas, aku memilih kembali fokus pada laptop agar pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa keluar secepatnya dari ruangan ini sesuai permintaan Mas Agam.


Hanya menyelesaikan pekerjaan hari ini saja, karna tidak mungkin menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk untuk 3 hari ke depan.


Hampir 1 jam berkutat di depan laptop, sejujurnya aku sulit untuk fokus dan konsentrasi. Hinaan Pak Airlangga dan ucapan pedas Mas Agam terus berputar di kepalaku. Aku seperti sedang berada di titik terburuk saat ini, sadar bahwa perbuat ku dengan Mas Agam memang menjijikan dan tidak pantas untuk di lakukan. Tapi rasanya sangat sakit mendapatkan hinaan seperti itu, sekalipun memang benar adanya.


Suara pintu yang terbuka membuatku mengalihkan pandangan dari laptop. Mas Agam muncul di balik pintu dan masuk ke dalam ruangan, tapi rupanya dia tidak sendiri.


Tepat setelah Mas Agam melangkah masuk, seorang wanita bertubuh seksi ikut masuk dengan memakai kemeja ketat dan rok span di atas lutut.


"Ruangan kamu ada di sana,," Kata Mas Agam pada wanita itu seraya menunjuk ke meja kerjaku.


"Suruh dia keluar kalau sudah selesai mengemasi barang-barangnya." Ucapnya penuh penekanan, Mas Agam juga menatap tajam ke arahku.


"Kamu boleh menempati meja itu sekarang." Titah Mas Agam, kemudian berlalu ke meja kerjanya.


"Baik Pak Agam. Kalau begitu saya akan kesana." Jawab wanita itu sembari melangkah anggun ke arahku.


"Maaf Ibu Bianca, saya harus menempati meja ini karna akan menggantikan Anda sebagai sekretaris pribadi Pak Agam." Dia bicara setelah berhenti di depan meja ku. Wanita itu tersenyum sinis seolah sedang mengejekku.

__ADS_1


"Sebentar, saya kemasi barang-barangku dulu." Aku beranjak dari kursi dan langsung mengemasi barang-barang ku ke dalam box kecil.


Malas untuk bertanya dan bicara panjang lebar dengan wanita itu, aku memilih untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh Mas Agam pada sekretaris barunya.


__ADS_2