
Dirga POV
Sudah ke 6 kalinya aku menghubungi Bianca meski aku tau nomor ponselnya tidak aktif.
Pesan berurut yang aku kirimkan sejak tadi sore bahkan hanya di baca saja tanpa di balas satu kalipun. Aku dibuat gelisah dan cemas memikirkan keadaan dan keberadaan Bianca saat ini. Sedangkan aku tidak memiliki kontak teman kantor Bianca yang juga sedang di tugaskan ke Jakarta.
Tadinya aku ingin menanyakan hal ini pada Agam, mengingat laki-laki itu satu kantor dengan Bianca.
Tapi sayangnya aku harus menelan kekecewaan lantaran Agama tidak ada di rumah.
"Kamu bikin cemas Dek,," Aku sengat gusar menunggu Bianca mengabariku. Sekali lagi aku menghubunginya, tapi tetap saja nomor ponselnya tidak bisa di hubungi.
Baru saja akan meletakkan ponsel di atas nakas, sebuah panggilan masuk ke ponselku. Aku pikir Bianca yang menghubungiku, tapi ternyata Ziva.
Nomor yang sengaja tidak aku simpan karna tidak mau membuat Bianca salah paham.
"Kenapa Zi.?" Tanyaku setelah mengangkat panggilan telfonnya.
"Mas, kamu beneran nggak ke rumah malam ini.? Rayyan mencari kamu sejak pagi. Dia tanya kapan Daddy pulang." Suara Ziva terdengar sendu di seberang sana. Aku paham akan hal itu. Ziva memang lemah jika sudah menyangkut tentang Rayyan dan keinginan putranya itu.
Aku menarik nafas dalam dan menghela berat. Sekarang aku baru merasakan bahwa niat baikku pada akhirnya akan berdampak buruk pada kehidupan pribadi ku.
Aku benar-benar reflek menyuruh Rayyan memanggilku Daddy karna saat itu Rayyan sedang menangis histeris dan mencari Daddynya.
"Maaf Zi, aku nggak bisa." Aku berucap tegas. Sudah saatnya aku membuat jarak pada mereka. Aku tidak mau rasa belas kasihan ku pada Ziva menjadi masalah besar dalam kehidupan rumah tanggaku dengan Bianca.
Terlepas bagaimana hubungan ku dengan Ziva di masalalu, tetap Bianca lah masa depanku. Aku sangat mencintai Bianca, lebih dari rasa cintaku pada Ziva dulu.
"Tapi Di,, Rayyan menangis, aku nggak bisa liat dia sedih seperti itu." Suara Ziva tercekat. Aku tau wanita itu sedang menahan tangisnya. Dia pasti tidak mau menangis di depan Rayyan.
"Ganti ke panggilan video, biar aku yang bicara sama Rayyan." Pintaku yang langsung mengganti dengan panggilan video.
Saat itu juga aku melihat Rayyan sedang menangis sesegukan. Matanya berbinar kala menatapku.
"Daddy,,," Suara bocah laki-laki itu terdengar pilu.
__ADS_1
"Pulang Daddy, Yan mau main sama Daddy." Rayyan kembali merengek. Tangisnya seketika pecah. Aku hanya bisa menarik nafas dalam, mencoba untuk menetralkan perasaanku yang hancur akibat tangisan Rayyan karna begitu memilukan.
"Rayyan, Daddy belum bisa pulang. Daddy sedang bekerja."
"Jangan menangis, anak laki-laki harus kuat."
"Nanti Daddy belikan mainan yang banyak buat Rayyan." Aku berusaha menenangkan Rayyan agar bocah itu berhenti menangis.
Setelah hampir 20 menit berbicara dengannya, akhirnya Rayyan menghentikan tangisnya dan mulai bisa terkekeh kecil.
Aku mengakhiri panggilan setelah memastikan Rayyan tidak lagi menangis.
Kini aku kembali mencoba menghubungi Bianca lagi, berharap nomor ponselnya sudah aktif. Tapi sampai detik ini Bianca masih belum bisa di hubungi.
...*****...
Bianca POV
Membuka mata dalam dekapan Mas Agam. Senyumku merekah kala berhadapan dengan wajah tampan Mas Agam yang begitu damai dalam tidur nyenyaknya. Aku sampai tidak tega untuk membangunkan pria yang semalaman mendekapku.
"Cantik,," Ucap Mas Agam dengan suara beratnya yang serak. Sorot matanya begitu dalam menatapku. Aku mengulum senyum, wajahku terasa menghangat setelah mendengar satu kata pujian dari Mas Agam.
"Kenapa pipi kamu merona.?" Kini Mas Agam malah tampak sengaja menggodaku. Dia menarik dagu ku agar kami saling menatap.
"Mas,, jangan menatapku seperti itu.!" Tegur ku dengan suara tegas. Aku melakukannya untuk mengusir rasa malu sekaligus grogi. Jantungku mulai berdetak kencang, rasanya sulit untuk mengendalikan perasaanku di depan Mas Agam.
"Lalu harus seperti apa hmm,,.?" Mas Agam kini sengaja menangkup kedua pipiku hingga aku tidak bisa membuang muka. Kami saling berhadapan dengan posisi tubuh yang miring.
"Awww,, kepala Bia sakit Mas,," Aku meringis seraya memegangi kepala. Saat itu juga Mas Agam melepaskan tangannya dari pipiku.
"Bi,,, kamu kenapa.?" Mas Agam terlihat sangat cemas.
"Apa perlu ke dokter.?" Tanyanya masih dengan raut wajah cemas.
Saat itu juga aku langsung bangun dan turun dari ranjang.
__ADS_1
"Bia baik-baik aja Mas." Kataku seraya berlari kecil ke kamar mandi dan terkekeh karna berhasil kabur untuk menghindari tatapan Mas Agam yang mampu meluluhlantakkan hatiku.
Aku mendengar Mas Agam berdecak sebelum akhirnya meneriaki ku.
"Sepertinya kamu minta di hukum.!" Teriaknya. Aku hanya menoleh sambil tersenyum, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ya ampun Mas Agam.!" Aku terperanjat saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati pria itu berdiri tegap di depan pintu. Dengan ekspresi datar dan sorot mata yang sulit di artikan, Mas Agam berjalan maju dan membuatku reflek melangkah mundur.
"Mass,, Mas Agam mau apa.?" Aku menelan ludah dengan susah payah. Kini aku bisa membaca arti tatapan mata Mas Agam setelah kami berada di dalam kamar mandi dan dia menutup pintunya.
"Menurut kamu, aku harus ngapain.?" Mas Agam menaikan sebelah alisnya, jelas sekali dia sedang menggoda ku.
"Masih pagi, jangan macam-macam." Aku mendorong pelan dada Mas Agam agar menjauh.
Karna semakin dia mendekat, detak jantungku makin tidak terkendali.
"Jadi kalau sudah siang boleh macam-macam.?" Tanyanya. Mataku langsung membulat sempurna. Aku merutuki ucapanku yang ambigu hingga Mas Agam mampu membuatku kehabisan kata saat dia menanggapi ucapanku barusan.
"Mas.! Jangan bercanda. Kita harus sarapan, setelah itu bersiap ke kantor." Aku kembali melangkah mundur, sedangkan Mas Agam terus berjalan maju.
"Masih ada waktu 2 jam lagi sebelum berangkat ke kantor, jadi santai saja." Sahutnya enteng.
Aku berhenti di tempat karna punggungku sudah menabrak dinding. Detik berikutnya, Mas Agam mengurung ku dengan kedua tangan yang bertumpuan pada tembok.
"Mas,, jangann,,,"
Suaraku menggantung karna Mas Agam lebih dulu membungkam mulutku dengan bibirnya.
Aku memaku, diam dan membiarkan Mas Agam memainkan bibirku.
Tak berfikir untuk menolak, tanganku justru berpegang pada pinggang Mas Agam. Meremas sisi baju yang dipakai oleh Mas Agam.
Setelah diam beberapa saat, perlahan aku mulai membalas ciumannya.
Mas Agam lepaskan tautan bibir kami, ciumannya turun ke bawah, menjelajahi leher jenjangku dan terus turun ke bawah hingga berhenti di kedua bukitku yang kini hanya berbalut br-a karna Mas Agam berhasil melepaskan piyamaku.
__ADS_1