Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 42


__ADS_3

"Akhiri Bia,, sampai kapan kamu pura-pura kuat.!" Suara tegas Mas Agam jelas terdengar sedang menyindir ku.


Aku menundukkan kepala, menatap kaki yang menapak di lantai dengan tatapan menerawang.


Kami sedang duduk di sisi ranjang, tepatnya di dalam kamar tamu. Mas Agam meminta agar kami keluar dari kamar ku dan Mas Dirga.


"Aku ingin membalas perbuatan Mas Dirga." Suaraku nyaris hilang karna tercekat di tenggorokan.


"Dengan cara melakukan hal yang sama dan mengulur waktu untuk lebih lama merasakan sakit.?"


"Akui saja kalau sebenarnya kamu sangat mencintai Dirga dan nggak bisa lepas dari dia." Nada bicara Mas Agam sedikit meninggi.


Aku semakin bungkam. Rasanya ingin sekali menyangkal ucapan Mas Agam, tapi entah kenapa bibir ini terasa kelu untuk sekedar mengatakan tidak.


Aku bahkan bertanya pada diri sendiri. Apa benar aku sangat mencintai Mas Dirga dan tak bisa lepas darinya.? Setelah apa yang selama ini aku lihat dan ketahui, nyatanya hati ini tak mampu untuk menyangkal.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Aku akan menunggu di sini sampai kamu benar-benar tidur." Mas Agam berdiri, dia merapikan bantal dan memintaku untuk berbaring di ranjang. Tak ada penolakan, aku langsung mengikuti perintah Mas Agam. Pria itu lantas membalut tubuhku dengan selimut, sedangkan dia kembali duduk di sisi ranjang dengan menghadap ke arahku.


"Jangan pulang, disini saja. Bia takut." Aku menggenggam tangan Mas Agam, meminta pria yang kini menjadi atasanku itu untuk tetap tinggal di kamar ini.


Mas Agam mengukir senyum.


"Kamu ingin dua-duanya.? Jangan serakah,," Cibirnya seraya mencubit hidungku dan senyum yang semakin lebar. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada kepiluan di balik senyumnya yang menawan.


"Bia nggak maksud seperti itu, maaf,," Aku melepaskan genggaman pada tangan Mas Agam.


Sepertinya posisiku serba salah.


"It's okay Bia,, aku hanya bercanda." Mas Agam mengusap pucuk kepalaku sebelum akhirnya naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sama denganku.


Tangan kekarnya mendekap ku, memberikan kenyamanan dan ketenangan yang berbeda dengan dekapan Mas Dirga.


Intinya memang sama, sama-sama memberi ketenangan dan kenyamanan, tapi dengan rasanya berbeda. Entah harus bagaimana aku menjelaskannya. Rasanya sulit untuk di lukis dengan kata-kata.


"Maafkan aku Mas Dirga,,"

__ADS_1


Batinku seraya memejamkan mata. Aku sadar atas tindakanku saat ini. Seorang wanita yang masih berstatus sebagai istri, memasukkan pria lain ke dalam rumahnya, bahkan tidur di atas ranjang yang sama. Seandainya Mas Dirga memergoki kami dan menyebutku sebagai wanita murahan atau jal lang sekalipun, aku tidak akan marah. Karna dengan perbuatanku saat ini, aku pantas di cap buruk.


...*****...


Aku bergegas merapikan berkas di meja kerja ku. 10 menit lagi waktunya pulang. Dan Mas Dirga menghubungiku kalau dia sudah menunggu di lobby.


Sudah 3 hari aku tidak melihatnya, entah kenapa ada rasa rindu yang begitu menggebu meski berbalut kecewa.


"Sepertinya kamu sedang bahagia,," Mas Agam tiba-tiba masuk dan berdiri di depan meja kerjaku dengan kedua tangan bertumpu pada tepi meja. Dan itu membuatnya menunduk hingga wajahnya sangat dekat denganku.


Aku hanya bisa mengukir senyum kikuk. Bingung harus bagaimana meresponnya.


"Ayo pulang,, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." Mas Agam berucap lembut, seiring dengan tatapannya yang dalam dan teduh, dia mengangkat satu tangannya untuk mengusap pucuk kepalaku.


Seketika dekat jantung berpacu cepat. Aku tertegun menatap wajah Mas Agam.


Tapi saat kemudian aku ingat dengan Mas Dirga yang sudah menungguku di bawah.


Lalu bagaimana dengan Mas Agam.? Bagaimana caranya aku menolak ajakannya.? Aku takut membuatnya kecewa.


"Maaf Mas,, Bia mau,,," Aku tak bisa meneruskan ucapankku karna takut mengecewakan Mas Agam.


"Kenapa.?" Suara Mas Agam terdengar semakin lembut, membuatku semakin dalam menatapnya. Begitu juga dengan Mas Agam. Perlahan jarak kami semakin dekat. Nafasku terasa tercekat, dengan jantung yang bergemuruh.


Aku bisa menebak kalau Mas Agam akan mencium ku. Dan aku tak berupaya untuk menghindar, bahkan memejamkan mata saat jarak kami semakin tipis.


Namun beberapa detik berikutnya, ponselku berdering. Aku langsung membuka mata, begitu juga Mas Agam yang reflek menjauhkan wajahnya.


Kini pandang kami tertuju pada ponsel milikku di atas meja. Ada panggilan masuk dari Mas Dirga.


"Apa dia sudah pulang.?" Tanya Mas Agam dengan suara dingin. Entah kenapa raut wajahnya juga berubah 180 derajat.


Aku hanya bisa mengangguk tanpa mengatakan apapun.


"Dia menjemputmu.?" Tanyanya lagi. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain kembali menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


Mas Agam tampak menghela nafas. Dia menyugar rambutnya ke belakang dengan kedua tangan. Hal yang sering aku lihat di kantor setiap kali Mas Agam frustasi menghadapi permasalahan di kantor.


"Mas,, maaf,," Lirihku tanpa berani menatap matanya.


"It's okay. Pulanglah,," Jawab Mas Agam tak bersemangat. Dia lantas pergi begitu saja setelah mengusap pucuk kepalaku. Aku bahkan tidak sempat menahan langkahnya karna Mas Agam berjalan dengan langkah lebar.


Apa Mas Agam marah padaku.? Atau dia cemburu.?


Aku jadi tidak tenang memikirkan hal itu.


...*****...


"Mas kangen banget sama kamu." Mas Dirga langsung menarik ku dalam dekapan, bahkan tidak sungkan-sungkan memelukku di tempat umum dengan beberapa karyawan kantor yang lalu lalang di lobby.


Aku membalas pelukannya, meski rasanya tak lagi sama seperti dulu.


"Ayo pulang, Mas juga udah kangen masakan kamu Dek." Mas Dirga merangkul pundakku, membawa ku ke dekat mobil dan membukakan pintu untukku.


Aku tak banyak merespon, hanya tersenyum dan mengatakan akan memaksakan makanan untuknya.


Sampainya di rumah, Mas Dirga selalu menempel padaku. Dia mengikutiku kemanapun aku melangkahkan kaki.


"Kamu tuh kenapa Mas.?"


"Aku masih di dalem rumah, nggak perlu di buntutin terus." Aku sedikit mengeluh dengan tingkahnya. Padahal aku sempat senang saat Mas Dirga bilang sudah tiba di Bandung dan akan menjemputku.


"3 hari nggak ketemu, Mas kangen sama kamu. Memangnya kamu nggak kangen sama Mas.?" Mas Dirga memelukku dari belakang. Dengan jahil meniup leherku dan kedua tangannya bergerak nakal ke atas.


Detik itu juga tubuhku menegang. Mas Dirga tau betul kalau aku tidak akan pernah tahan dengan sentuhan di bagian sana.


"Ke kamar mandi Dek, sekalian mandi,," Bisiknya.


Aku menurut begitu saja. Karna sejujurnya aku tak bisa dibiarkan begitu saja tanpa di sentuh dalam waktu yang lama.


Melupakan sejenak rasa sakit dan kecewa yang bersarang di dada, percintaan ku dengan Mas Dirga cukup panas setelah hampir 5 hari kami tidak melakukannya.

__ADS_1


******* memenuhi kamar mandi, sampai pada saat aku terdiam karna tiba-tiba teringat dengan Mas Agam.


__ADS_2