Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 53


__ADS_3

Dirga POV


"Mari bercerai. Aku ingin mengakhiri pernikahan kita."


Ucapan Bianca bagai sambaran petir untukku. Aku tidak pernah membayangkan kata-kata mengerikan itu akan terucap dari bibir Bianca.


Wanita dengan hati yang lembut, penurut dan begitu mendambakan ku, mengeluarkan kata-kata itu akibat kebodohanku.


Disaat aku memutuskan untuk mengabaikan Ziva dan tak mau peduli lagi tentang keadaannya, Bianca justru meminta untuk mengakhiri pernikahan kami.


Aku masih belum percaya kalau ternyata selama ini Bianca mengetahui apa yang aku lakukan di luar sana. Sungguh tidak pernah terbesit dalam benakku jika niat baikku pada Ziva akan menjadi bom waktu yang menghancurkan rumah tangga ku dengan Bianca.


"Dek,, tolong buka pintunya. Mas nggak mau cerai Dek. Mas cinta sama kamu, jangan tinggalin Mas." Aku bersimpuh di depan pintu. Tenagaku seketika lenyap setelah Bianca mengutarakan keinginannya untuk berpisah.


Untuk pertama kalinya aku menangis, rasanya tidak sanggup jika harus kehilangan Bianca. Bahkan membayangkannya saja sudah membuatku frustasi.


Berulang kali memohon agar Bianca mau membukakan pintu, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Aku tak beranjak sedikitpun dari depan kamar tamu. Beberapa kali memukul kepalaku sendiri karena kebodohan yang sudah aku lakukan.


Air mataku bahkan terus menetes, dada terasa sesak dan nafas tercekat. Entah apa jadinya jika aku tanpa Bianca.


Hampir 2 jam bertahan didepan pintu, rasa lelah dan kantuk membuatku terlalap dengan sendirinya. Tak peduli dengan dingin yang menusuk.


Pagi itu aku bangun lebih awal dengan keadaan yang sedikit buruk akibat tidur dalam posisi duduk di depan pintu.


Beranjak ke dapur, aku langsung membersihkan serpihan kaca dari botol parfum yang semalam di lempar oleh Bianca. Aku membersihkannya dan memastikan tidak ada aroma vanila yang tertinggal di dapur. Entah berapa kali aku harus mengepelnya agar aroma vanila yang kuat itu bisa hilang.


piring kotor yang sejak semalam ada di meja makan juga tak luput aku bereskan. Aku mencucinya, setelah itu berusaha untuk membuat sarapan meski aku tidak pernah melakukannya.


Bianca sangat memanjakan ku dengan selalu menyediakan makanan untukku, sampai aku tidak pernah menyentuh dapur untuk membuat makanan sendiri.


Entah berapa lama aku berkutat di dapur, tapi hanya nasi goreng biasa yang bisa aku sajikan dengan rasa yang tidak tau seperti apa.


Selesai menata di meja makan, aku beranjak ke kamar untuk mandi dan bersiap. Terlepas dengan permasalahan yang sedang terjadi, aku tidak bisa mengabaikan tanggungjawab di perusahaan.

__ADS_1


Apalagi jam 10 nanti ada rapat penting dengan semua petinggi perusahaan.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat. Selesai bersiap, aku beranjak ke kamar tamu untuk mengajak Bianca sarapan.


"Dek,, kamu udan bangun.? Ayo sarapan." Aku mengetuk pintu dan berucap lembut.


Beberapa kali mengetuk pintu, sampai akhirnya Bianca membuka pintu dan keluar dari kamar dalam keadaan sudah rapi.


Aku melempar senyum padanya, meski aku tau Bianca akan mengabaikan ku seperti ini.


"Ayo sarapan dulu Dek, Mas bikin nasi goreng. Tapi nggak tau ra,,"


"Makan sendiri saja, aku mau sarapan di luar." Bianca memotong ucapanku dan berlalu begitu saja.


"Dek,, Mas mohon jangan seperti ini." Aku menyusul dan mencegah langkahnya. Senyum sinis terukir di bibirnya. Rasanya sangat sakit melihat Bianca tersenyum sinis padaku.


"Mas pikir siapa yang membuatku jadi seperti ini.?!" Dengan nada tinggi dan ketus, Bianca menatapku tajam.


Untuk kesekian kalinya kata maaf lolos dari mulutku meski aku tau hal itu tak akan membuat Bianca mau memaafkan ku.


"Kesempatan untuk apa.? Aku nggak bisa mempertahankan pernikahan ini. Perceraian itu akan terjadi, aku akan segera mengurusnya.!" Bianca berucap tegas tanpa keraguan sedikitpun. Sepertinya rasa sakit yang aku torehkan terlalu dalam sampai tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya.


Bianca berlalu tanpa bisa aku cegah. Rupanya dia sudah memesan taksi. Aku hanya bisa menatap nanar mobil yang di tumpangi Bianca.


Menelan kekecewaan, aku menghabiskan nasi goreng buatanku sendiri yang tidak ada apa-apanya di banding nasi goreng buatan Bianca.


...*****...


Agam POV


Melihat Bia keluar dari rumah, aku bergegas masuk ke dalam mobil untuk menyusul Bia yang sedang dalam perjalanan menuju kantor.


Aku yakin dia tidak baik-baik saja setelah tadi malam aku tak sengaja mendengar keributan dan suara teriakan Bia dari dalam rumahnya.

__ADS_1


Aku bisa menebak kalau semalam Bia mengutarakan niatnya untuk berpisah dari Dirga. Karna beberapa jam sebelum keributan itu terjadi, Bia sempat mengirimkan pesan padaku kalau dia akan menunjukkan foto dan video Dirga bersama selingkuhan.


Ada perasaan senang dan iba yang menjadi satu. Senang karna Bia bisa mengambil keputusan, namun iba karna aku tau perpisahan itu pasti akan menyakitkan untuknya.


Walau bagaimanapun, aku bisa merasakan kalau Bia sangat mencintai Dirga. Berpisah darinya pasti akan menjadi keputusan terberat dan sulit.


"Kamu sudah sampai kantor.?" Tanyaku setelah panggilan terhubung.


"Baru sampai Mas." Jawabnya tak bersemangat.


"Sudah makan.?" Tanyaku lagi. Bia menjawab belum dengan nada bicara yang terdengar lesu.


"Aku akan beli makanan. Tunggu di ruanganku, 20 menit lagi aku sampai." Setelah mengatakan itu, aku memutuskan panggilan telfonnya memarkirkan mobil di depan pelataran ruko dengan banyak penjual makanan yang berjejer di sepanjang jalan.


Masuk ke dalam ruangan kerjaku, aku mendapati Bianca sedang melamun dengan berdiri menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Bandung di pagi hari.


Aku meletakkan makanan di atas meja sebelum akhirnya menghampiri Bia yang belum menyadari keberadaan ku.


"Nggak baik pagi-pagi ngelamun." Aku memeluknya dari belakang.


Rasanya sangat nyaman menghirup aroma tubuh Bianca. Tidak pernah terbesit di pikiranku untuk mencintai wanita yang sudah bersuami. Tapi perasaan itu datang sendirinya tanpa bisa aku cegah. Bianca terlalu sempurna di mataku, mungkin itu yang membuat perasaan ini menggebu untuk bisa memilikinya.


"Mas,, kapan sampai.?" Bianca tampak kaget saat aku memeluknya tiba-tiba. Dia berbalik badan dan seulas senyum manis mengembang di bibirnya.


Cantik, benar-benar sangat cantik wanita yang masih berstatus istri orang tapi sudah pernah aku gagahi. Tidak benar memang, apa yang kami lakukan jelas keliru, tapi siapa yang bisa mengendalikan gejolak di hati di antara kami yang sudah menggebu.


"Barusan. Ayo makan, kamu harus mengisi perut sebelum aku mengisinya dengan yang lain." Aku menggodanya sembari menaikan sebelah alis. Wanita cantik itu terlihat tersipu malu tapi melayangkan pukulan di lenganku.


"Masih pagi, jangan bicara ngelantur." Bianca menegur.


"Kalau begitu aku tunggu nanti siang." Sahutku yang lagi-lagi mendapatkan pukulan dan tatapan tajam.


"Aku bercanda Bia,," Ku usap pucuk kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu anggap serius, aku nggak keberatan. Masih ada pengaman di dompetku." Aku mengedipkan mata, sengaja menggoda Bianca hingga pipinya merona. Menggemaskan sekali ekspresinya, aku sampai tidak ingin berhenti menggodanya.


__ADS_2