Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 25


__ADS_3

Buru-buru masuk lagi ke dalam rumah setelah mengantarkan teh dan makanan ke teras, aku menghindari kontak mata dengan Mas Agam. Meski sempat beradu pandang untuk beberapa detik, tapi akhirnya aku mengalihkan pandangan.


Interaksi antara aku dan Mas Agam akhir-akhir ini semakin sering. Mungkin itu yang membuat jantungku berdetak kencang saat beradu pandangan dengannya.


Melanjutkan memasak dan menata makanan di atas meja makan setelah selesai. Aku beranjak dari dapur lantaran mendengar suara dering ponsel milik Mas Dirga. Ponsel miliknya di letakan begitu saja di sofa ruang keluarga. Aku buru-buru mengambilnya dan berniat memberikan ponsel itu pada Mas Dirga. Tapi sesaat aku berfikir untuk mengecek ponselnya yang selama ini tak pernah terjangkau dari pengecekan ku.


Mungkin karna terlalu percaya pada Mas Dirga, hingga aku tidak pernah berfikir untuk membuka-buka isi ponselnya sejak menikah.


"Wanita ini,," Menatap layar ponsel dengan senyum getir, rupanya wanita selingkuh Mas Dirga yang menghubunginya. Mas Dirga tidak menyimpan nomornya karna di layar hanya tertera nomor ponsel saja dan foto profil aplikasi hijau dengan foto seorang wanita serta anak kecil.


Buru-buru ku angkat tapi sengaja tidak mengeluarkan suara karna ingin tau apa yang dikatakan wanita itu di seberang sana.


"Hallo Mas. Rayyan Demam tinggi, aku membawanya ke UGD tadi. Apa kamu bisa kesini.? Aku benar-benar takut dan bingung."


Menekan tombol merah, aku memutuskan panggilan karna tidak tahan lagi mendengar apa yang dia katakan. Dada terasa sesak, nafas terasa berada di ujung. Jangan tanya lagi bagaimana keadaan hatiku saat ini. Meski mencoba untuk bersikap masa bodo, nyatanya hatiku tak cukup kuat untuk menerima kenyataan demi kenyataan yang semakin menunjukkan perselingkuhan Mas Dirga.


Dengan tangan yang gemetar, aku membuka aplikasi hijau dan menghapus riwayat panggilannya. Ku letakan ponsel Mas Dirga di tempat semula dengan posisi yang sama.


"Jangan salahkan aku kalau berhenti setia, kamu yang memulai Mas.!!" Keduanya tanganku reflek mengepal.


Pernikahan kami sudah berantakan akibat ulah Mas Dirga di belakangku. Biar aku hancurkan sekalian pernikahan kami tanpa sisa. Jika dia bisa menyakitiku, maka aku bisa menghancurkan perasaannya.!


Peduli apa dengan harga diri dan kehormatan, nyatanya harga diri dan kehormatan yang aku jaga selama ini tak berarti. Bahkan tak mampu menjamin keutuhan rumah tangga ku.


...*****...


"Kamu yakin nggak mau jalan-jalan Dek.?" Untuk kedua kalinya Mas Dirga menanyakan hal itu padaku.


"Kemarin kan kita nggak sempet jalan. Besok Mas udah kerja lagi loh,," Mas Dirga berusaha membujuk ku. Tapi aku tetap menolak.


"Aku lagi pengen di rumah aja Mas." Beranjak dari kursi dan membereskan piring di meja makan, aku berusaha menghindari tatap muka dengan Mas Dirga dan memilih mencuci piring.

__ADS_1


"Kamu nggak pengen ke hotel lagi.?" Aku terkejut saat tiba-tiba Mas Dirga memelukku dari belakang.


"Disini banyak hotel baru dengan view pegunungan. Terakhir menginap di hotel Bandung 7 bulan yang lalu kan.?" Tanyanya memastikan.


Sejak menikah, kami memang sering pergi menginap dari satu hotel ke hotel lainnya. Tentunya untuk mengisi hari libur Mas Dirga dan quality time berdua.


Beberapa hotel mewah di Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya sudah kami sambangi.


Dengan cara seperti itu, kami bisa menghibur diri atas kekurangan dalam rumah tangga yang sampai detik ini belum di karuniai seorang anak.


Beberapa saat berfikir, akhirnya aku menyetujui ajakan Mas Dirga. Dengan begitu Mas Dirga tidak akan datang ke rumah sakit untuk menemui wanita dan anak kecil itu yang entah anak Mas Dirga atau bukan.


Selama Mas Dirga masih menuruti perkataanku, aku bisa membuatnya jarang menemui wanita itu.


Bila perlu, aku hancurkan hubungan mereka secara diam-diam.


Kalau aku tidak bahagia, maka Mas Dirga dan wanita itu juga tidak berhak bahagia.


"Kita beli cemilan dulu ya." Mas Dirga membelokkan mobil di minimarket.


"Biar Mas aja yang beli, kamu tunggu disini."


"Mau nitip apa.?" Tanya lembut. Aku menyebutkan minuman dan beberapa snack ringan, setelah itu Mas Dirga bergegas turun dari mobil.


Begitu Mas Dirga masuk ke mini market, aku melirik ponselnya yang dia tinggalkan di mobil.


Aku ingin melihat apakah wanita itu sempat menelfon Mas Dirga ataupun mengirimkan pesan padanya.


Membuka aplikasi chat, aku melihat riwayat panggilan karna tidak ada chat dari wanita itu.


Tapi rupanya di riwayat panggilan juga tidak ada.

__ADS_1


Itu artinya Mas Dirga belum tau kalau dia di minta untuk pergi ke rumah sakit. Kalaupun sudah tau, pasti kami akan batal pergi ke hotel. Karna Mas Dirga pasti lebih memilih untuk pergi menemui wanita dan anak itu.


Baru saja akan mengembalikan ponsel ke tempat semula, sebuah panggilan masuk ke ponsel Mas Dirga. Aku ingin mengangkatnya, tapi saat itu Mas Dirga keluar dari minimarket. Segera ku letakkan ponsel itu dengan membiarkan ponsel terus berdering.


"Telfon dari siapa Dek,?" Mas Dirga menjulurkan kepala setelah membuka mobil.


Tangan kanannya memberikan kantong belanjaan padaku, sedangkan tangan kirinya langsung mengambil ponsel.


"Nggak tau, nggak ada namanya." Jawabku acuh dan memilih mengambil minum dari dalam kantong belanjaan.


"Sebentar Dek, Mas angkat telfon dulu ya." Mas Dirga langsung menutup pintu mobil, bahkan aku belum sempat menanggapi ucapannya. Aku hanya memperhatikan dia dari dalam mobil.


Mas Dirga bergeser menjauhi mobil dan berbicara sesuatu. Sayangnya aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.


Kurang dari 3 menit Mas Dirga sudah kembali. Duduk di depan kemudi dan mulai melajukan mobilnya.


"Orang kantor ya Mas.?" Tanyaku.


"Bukan Dek, salah sambung." Mas Dirga menjawab tanpa menatapku sedikitpun.


Rasanya aku ingin tertawa sinis di depannya saat ini juga. Tapi belum saatnya. Karna aku masih ingin pura-pura bodoh dan pura-pura tidak tau dengan apa yang terjadi di belakangku.


Sepanjang perjalanan kami hanya mengobrol santai seperti biasa. Aku tetap menanggapi ucapan Mas Dirga meski harus menahan kekesalan.


"Mau coba yang privat pool nggak Dek.?" Tawarnya begitu kami sampai di hotel.


"Kamarnya paling atas, kayaknya seru." Tuturnya seraya merangkul pinggangku.


"Iya boleh,," Hanya jawaban singkat yang keluar dari bibirku.


Sampainya di resepsionis, Mas Dirga langsung memesan kamar hotel yang dia tawarkan padaku tadi.

__ADS_1


Dia memang royal, tidak berfikir dua kali untuk mengeluarkan banyak uang setiap kali kami pergi atupun liburan. Tapi siapa sangka di balik sikapnya yang di kagumi oleh banyak istri di luar sana, dia bisa meluluhlantakkan hatiku dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.


__ADS_2