Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 29


__ADS_3

Baru kali ini aku masuk ke dalam rumah Mas Agam. Tidak banyak printilan rumah di dalamnya. Hanya ada furniture yang penting-penting saja. Tidak seperti rumahku, aku hobby mengoleksi printilan rumah ala-ala home decor.


Mungkin karna Mbak Karina sibuk bekerja, jadi tidak terlalu mementingkan dekorasi rumah.


Steak yang buat sudah matang. Di lengkapi kentang goreng dan salad. Aku menatanya di atas meja makan. Sementara itu Mas Agam mengeluarkan beberapa minuman kaleng.


Pria yang kini di tinggalkan oleh istrinya itu, hanya menyetok makanan-makanan instant saja.


Beberapa minuman kaleng dan bir tampak berjejer rapi di lemari pendingin khusus tempat minuman.


Gaya hidup yang tidak sehat sepertinya tidak berdampak buruk pada postur tubuh Mas Agam.


Karna postur tubuhnya tak jauh berbeda dengan Mas Dirga. Sama-sama berotot.


Padahal aku sangat menjaga makanan Mas Dirga dengan memastikan makanan itu sehat untuknya.


Mungkin Mas Agam sering olahraga untuk membentuk otot-ototnya dan menjaga berat badan ideal.


"Mikirin apa.?" Mas Agam mengayunkan tangannya di depan wajahku. Seketika aku tersadar dan buru-buru menepis isi kepalaku yang mulai membanding-bandingkan tubuh Mas Agam dengan Mas Dirga.


"Mas Agam nggak ada rencana buat jemput Mbak Karina pulang ke rumah ini lagi.?" Tanyaku. Pria di hadapanku itu tidak boleh tau kalau tadi aku memikirkannya.


Mas Agam malah terkekeh. Entah apa yang salah dengan ucapanku.


"Kamu nyuruh aku buat ngemis cinta.?" Tanyanya dengan senyum kecut.


"Aku bukan orang yang gila cinta, Bia."


"Kalau memang dia ingin pergi ke pelukan orang lain, aku nggak akan pernah mencegahnya."


"Kita itu butuh orang yang saling mencintai, bukan untuk mencintai saja tanpa di cintai." Mas Agam menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Aku mengerti dan paham dengan semua yang Mas Agam katakan. Tapi rasanya sangat di sayangkan harus berakhir begitu saja tanpa ada yang berusaha untuk memperbaiki keadaan.


Tapi meski begitu, sepertinya aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Mas Agam.

__ADS_1


"Masakan kamu nggak pernah gagal Bia,," Pujian itu lolos dari bibir Mas Agam. Dia kembali menyantap steak miliknya dengan lahap.


Merasa tersanjung dengan pujiannya, aku meresponnya dengan seulas senyum.


Melihat Mas Agam makan dengan lahap, aku jadi merasa senang.


"Kamu terlalu sempurna Bia, bagaimana bisa Dirga menyakiti kamu." Mas Agam bicara tanpa menatapku karna fokus menyantap steak, sedangkan aku dibuat terpaku dengan ucapannya.


Jangankan Mas Agam, aku saja tak habis pikir kenapa Mas Dirga bisa menyakiti ku.


Mungkin di mata Mas Dirga, aku bukan istri yang baik, apalagi sempurna. Karna jika menurut dia aku sudah sempurna, tak mungkin ada perselingkuhan di belakang ku.


"Bia pulang dulu Mas, mau lanjut makan di rumah."


"Piringnya Bia pinjem dulu ya,," Aku beranjak dari kursi. Mas Agam tak bersuara, tapi dia menatapku tajam. Bukan tatap tajam karna amarah, tapi lebih tepatnya tidak suka melihatku beranjak dari meja makan.


"Habisin dulu makanannya, baru boleh pulang." Meski bicara datar, tapi terdengar penuh penekanan dan tak mau di bantah.


"Maaf kalau buat kamu nggak nyaman karna tiba-tiba membahas Dirga. Aku cuma nggak habis pikir aja." Tuturnya. Mas Agam berdiri, dia mengambil piring di tanganku dan meletakkannya di meja makan.


"Ayo duduk lagi, habisin makanan kamu." Pintanya lembut.


Selesai menghabiskan steak, aku langsung membereskan piring dan gelas untuk di bawa ke wastafel.


"Nggak usah di cuci Bia, taruh aja di wastafel."


"Kamu boleh pulang sekarang. Besok sudah harus sampai di kantor jam 8." Mas Agam bicara datar. Sama seperti ekspresi wajahnya saat ini, bahkan terkesan dingin.


Aku merasakan ada perubahan dengan sikap Mas. Agam kali ini. Apa mungkin dia marah padaku karna aku sempat ingin pulang.?


Tapi kenapa juga Mas Agam harus marah.?


"Nggak papa Mas, lagian cuma sedikit." Aku tetap mencuci piring meski Mas Agam melarang. Kasihan juga kalau sampai Mas Agam yang mencuci piringnya.


"Iya Mas, Bia mengerti."

__ADS_1


"Langsung kirim alamat kantornya aja ke nomor Bia," Pintaku yang mulai mencuci piring.


Mas Agam hanya menjawab dengan deheman. Aku tidak tau apa Mas Agam langsung mengirim alamat kantor itu atau tidak. Karna saat ini posisiku sedang membelakanginya.


...*****...


Aku langsung mengunci pintu setelah masuk ke dalam rumah. Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Berarti hampir 3 jam aku berada di rumah Mas Agam.


Dua lawan jenis berada di dalam rumah tanpa ada ikatan apapun, bahkan masing-masing sudah menikah, tentu itu bukan suatu hal yang bisa di benarkan, apapun alasannya.


Tapi dengan sadar aku melakukannya.


Seakan mendapat keberanian yang entah berasal dari mana, aku bisa berinteraksi sedekat itu dengan Mas Agam. Padahal sebelumnya aku selalu menjaga jarak dengan lawan jenis karna sadar akan statusku sebagai istri Mas Dirga.


Tepat pukul 11 malam, Mas Dirga masuk ke dalam kamar. Beruntung saat itu posisiku membelakangi pintu, aku bergegas pura-pura tidur. Entah kerjaan macam apa yang di kerjakan oleh Mas Dirga sampai pulang semalam ini dan hampir setiap hari.


Sepertinya Mas Dirga lupa kalau aku juga pernah bekerja di kantor.


Tak berselang lama, sebuah kecupan terasA di keningku. Di susul dengan usapan lembut pada pucuk kepalaku.


Hening, Mas Dirga tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan setelah itu terdengar suara dering ponsel milik Mas Dirga. Aku bisa merasakan Mas Dirga buru-buru pergi karna suara dering ponsel itu semakin menjauh. Kemudian terdengar suara pintu yang di tutup pelan.


Sontak aku membuka mata dan bergegas turun dari ranjang setelah memastikan Mas Dirga keluar dari kamar. Aku sedikit berlari dan membuka pintu perlahan. Rupanya Mas Dirga berdiri di depan kamar dengan membelakangi pintu.


"Ya, aku baru sampai. Jangan menelfon selama aku di rumah, bukannya aku sudah sering mengatakan hal itu padamu." Ada nada kekesalan, tapi suara Mas Dirga tetap rendah.


Selama aku mengenalnya, Mas Dirga memang tidak pernah marah.


"Hmm,, aku mengerti." Ucapnya datar.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur." Mas Dirga kemudian memutuskan panggilan telfonnya setelah menyuruh orang yang menelponnya agar segera tidur.


Selain perhatian pada istrinya, suamiku itu juga perhatian pada orang lain.


Antara sakit hati dan muak, aku hanya bisa tersenyum kecut.

__ADS_1


Aku menutup pintu dan kembali ke ranjang untuk pura-pura tidur lagi.


Selama ini aku tertipu dengan sikap manisnya. Atau memang aku saja yang bodoh karna terlalu percaya padanya.


__ADS_2