
"Dirga jadi jemput kamu.?" Suara bariton Mas Agam membuyarkan lamunan.
Aku menggeleng lesu sebagai jawaban. Kemudian bergegas memasukkan ponsel di tanganku ke dalam tas.
Padahal 1 jam yang lalu Mas Dirga mengirimkan pesan kalau dia akan menjemputmu, tapi tadi dia kembali mengirimkan pesan dan mengatakan kalau hari ini akan pulang malam. Dengan alasan ada sedikit masalah di kantor yang harus di selesaikan hari ini juga.
Sejak aku memergokinya mendatangi rumah perempuan itu. Sungguh aku tidak bisa percaya lagi dengan semua perkataan Mas Dirga.
"Ayo pulang,," Mas Agam menggandeng tanganku. Aku beranjak dari kursi dan mengikuti langkahnya.
Saat akan keluar dari ruangan kami, Mas Agam melepaskan tanganku dan memintaku untuk keluar lebih dulu. Tapi di lantai itu sangat sepi, wakil pimpinan juga sepertinya sudah meninggalkan ruangannya.
"Mau makan di luar.?" Tawar Mas Agam setelah kami berada di dalam mobilnya.
Hari memang sudah menjelang petang saat kami keluar. Tadi ada masalah di divisi keuangan yang mengharuskan aku dan Mas Agam turun tangan. Jadi kami pulang terlambat.
"Nggak usah Mas, Bia makan di rumah aja." Aku menolak. Lebih tepatnya tak mau membuat hubungan semakin dekat. Karna aku takut untuk melangkah terlalu jauh.
"Ya sudah, tapi aku harus mampir beli makanan dulu." Mas Agam melajukan mobilnya. Di berhenti di salah satu restoran setelah hampir 15 menit meninggalkan area pernah.
"Bia tungguin di mobil aja Mas,," Aku kembali menolak saat Mas Agam mengajakku ikut masuk ke restoran.
"Kamu pengen makan apa, biar sekalian aku belikan." Tawarnya. Aku berusaha menolak, tapi kemudian Mas Agak dengan tegas memintaku untuk tidak menolak. Akhirnya aku menyebutkan menu makanan kesukaanku.
"Makasih Mas,," Ucapku saat Mas Agak hendak keluar dari mobil.
"Makasihnya nanti saja di rumah, pakai cara lain." Jawaban datar itu membuatku bingung untuk mengartikannya.
Aku menatap punggung Mas Agama yang berjalan memasuki restoran.
15 menit berlalu, lamunanku buyar saat sebuah mobil yang aku kenali terparkir di restoran sebelah. Meski jaraknya lumayan jauh, tapi aku masih bisa mengenali mobil yang lebih dari 1 tahun terakhir menjadi kendaraan Mas Dirga.
Buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tas, aku langsung mengaktifkan vidio untuk merekamnya. Aku ingin tau, ada siapa saja di dalam mobil itu. Setidaknya aku akan punya bukti lagi kalau ternyata Mas Dirga keluar bersama perempuan itu.
Aku masih bisa santai saat melihat Mas Dirga keluar dari mobil. Tapi beberapa detik berikutnya, amarah dan kecewa langsung menguasai.
Lagi-lagi Mas Dirga bersama dengan wanita yang sama dan seorang anak laki-laki.
__ADS_1
Bahkan Mas Dirga mengambil anak laki-laki itu dari gendongan wanita itu.
Dari kejauhan bisa ku lihat senyum di bibir mereka mengembang. Mas Dirga sampai mencubit hidung anak laki-laki itu. Mereka terlihat sangat dekat dan bahagia.
"Apa karna aku belum memiliki anak, kamu jadi bisa berbuat seperti ini padaku.?!" Aku menggeram penuh amarah.
"Dasar pembohong ulung.!" Cibirku dengan senyum kecut. Mendadak bilang ada masalah di kantor, tapi ternyata Mas Dirga malah pergi bersama mereka.
Aku membiarkan mereka masuk ke dalam restoran tanpa berniat untuk menghampirinya. Karna akan sangat memalukan dan menyedihkan jika aku menghampiri mereka. Dan pastinya hubungan aku dan Mas Dirga akan berakhir begitu saja dengan nasibku yang tragis.
Biarkan saja mereka bahagia.! Aku masih berbaik hati karna tak akan menganggu kebahagiaan mereka. Tapi aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.!
Aku menyimpan ponsel saat pintu mobil di buka oleh Mas Agam. Pria gagah itu tampak mengukir senyum tipis dan menyodorkan es krim padaku.
"Buat kamu,," Ucapnya singkat. Aku menerima satu buah es krim cone rasa vanilla dari tangan Mas Agam.
"Makasih Mas,," Aku langsung melahap es krim di tanganku. Dalam suasana hati yang panas, es krim ini cukup membuat hati dan pikiran lebih dingin.
"Pelan-pelan makannya, aku nggak bakal minta yang di tangan kamu." Ucap Mas Agam seraya menyeka sudut bibirku. Aku hanya menyengir kuda dan melanjutkan melahap es krimnya.
Bukannya menjawab, Mas Agam malah mendekat dan mengecup bibirku. Awalnya aku kaget, tapi bayangan Mas Dirga yang sedang bersama wanita itu, seketika menutup akal sehatku.
Aku menahan jas Mas Agam dengan satu tanganku, lalu ku balas kecupannya dengan sebuah lum matan lembut. Tak butuh waktu lama, Mas Agam langsung menyambutnya tak kalah lembut.
Kondisi kaca mobil Mas Agam yang gelap, membuatku berani membalas ciumannya.
Mas Agam melepaskan pagutan bibir kami, senyumnya tampak merekah dengan tatapan teduh. Dia menyeka sudut bibirku yang basah akibat ciuman tadi.
"Habisin es krimnya, nanti cair." Ucapnya seraya mengusap pucuk kepalaku. Mas Agam menyalakan mobil dan melajukannya.
Berbeda dengan Mas Agam yang tenang setelah ciuman tadi, aku justru gugup dan membuang pandangan ke luar jendela karna malu.
Saat pertama kali Mas Agam mencium ku malam itu, aku sama sekali tidak berani membalasnya.
Tapi setelah kembali memergoki Mas Dirga bersama wanita itu, aku tak ragu untuk membalas ciuman Mas Agam.
Tak peduli dengan statusku sebagai istri Mas Dirga. Mulai detik ini, aku juga akan mencari kebahagiaan lain di luar rumah. Seperti yang Mas Dirga lakukan belakangan ini.
__ADS_1
Tidak masalah kalau aku juga menjadi seorang pengkhianat seperti Mas Dirga.
...*****...
Saat ini Mas Agam sedang berada di rumahku. Tadi begitu sampai rumah, dia bilang akan malam malam di rumahku selesai mandi.
Makanan yang tadi di beli oleh Mas Agam juga sudah aku siapkan sebelum Mas Agam datang.
"Dirga pulang jam berapa.?" Mas Agam bertanya di sela-sela kami menikmati makan malam.
Aku menggelengkan kepala karena memang tidak tau. Tapi yang jelas, Mas. Dirga pasti pulang larut seperti biasa.
"Nanti saja beresin piringnya." Mas Agam menarik tanganku saat hendak membereskan piring bekas makan malam kami.
"Mas, jangan mulai." Aku memukul pelan lengan Mas Agam dengan tangan satunya.
"Aku rindu aroma tubuh kamu,," Mas Agam seolah tak menghiraukan ucapanku. Dia malah menarikku duduk di pangkuannya.
"Sangat menenangkan." Ucapnya lembut setelah mendekap ku. Aku bisa mendengar Mas Agam menghirup dalam-dalam aroma tubuhku.
Apa yang di lakukan oleh Mas Agam berhasil membuat hatiku bergetar. Tak hanya itu saja, tubuhku bakan memberikan respon atas dekapannya. Aku membalas dekapannya tanpa canggung sedikitpun.
Dan entah siapa yang memulai, kami sudah saling bertukar saliva.
Kami bukan anak kecil, Mas Agam pun pasti tau bahwa apa yang sedang kami lakukan adalah kesalahan besar. Tapi perasaan mengalahkan logika.
"Yang itu juga bagus,," Komentar Mas Agam saat aku meminta pendapat saat akan membeli kemeja baru untuk di pakai ke kantor.
Kami berdua sedang berada di ruang tamu, tepatnya setelah terjadi ciuman singkat tadi.
"Iihh,, yang mana dong.? Bia jadi bingung beli yang mana." Sedikit merajuk, pendapat Mas Agam sama sekali tidak membantu karna semuanya di bilang bagus.
"Ya sudah beli semuanya saja. Apapun yang kamu pakai pasti bagus dan cocok."
"Atau nggak, besok kita ke mall saja setelah pulang kantor. Jadi kamu bisa pilih langsung dan mencobanya."
"Nggak usah cemberut begitu.! Bikin gemes,," Mas Agam menarik gemas hidungku dengan senyum yang mengembang. Seketika pipiku terasa merona.
__ADS_1