Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 51


__ADS_3

"Biar aku saja,," Mas Agam mengambil alih koper kecil yang hendak aku turunkan dari mobil.


Aku mengikuti langkah Mas Agam yang berjalan menuju rumahku. Dia meletakkan koper miliki di teras.


"Sebaiknya kamu istirahat,," Ucapnya seraya mengusap lembut pucuk kepalaku. Aku hanya menatap lekat tanpa mengatakan apapun. Perasaan ini semakin nyata, aku benar-benar mencintai Mas Agam dan menginginkannya.


Mas Agam berlalu, namun aku mencegahnya dengan memeluk dari belakang.


Aku membenamkan wajah di punggung Mas Agam dan air mataku luruh begitu saja.


Perasaan ini benar-benar menyiksa.


"Bianca,, kamu kenapa.?" Melepaskan pelukanku, Mas Agam berbalik badan dan menangkup wajahku hingga aku bisa melihat kecemasan di wajahnya.


Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung menghambur ke pelukan Mas Agam dan semakin terisak di dana.


"Tetap disini Mas, jangan tinggalin Bia." Aku semakin erat memeluk Mas Agam. Permintaanku sebagai istri Mas Dirga yang menginginkan pria lain untuk tetap di sisiku memang sangat keliru. Tidak seharusnya aku meminta Mas Agam tetap tinggal sedangkan aku masih menjadi istri Mas Dirga. Tapi aku benar-benar tidak mau kehilangan Mas Agam, pria yang belakangan ini mampu membuatku nyaman dan mengalihkan sejenak rasa sakitku pada Mas Dirga.


"Tenangkan hati dan pikiran kamu, setelah itu baru ambil keputusan." Ucap Mas Agam dengan suara teduh.


"Ambil keputusan yang terbaik buat kamu, bukan karna terpengaruh dengan kedekatan kita." Mas Agam mengusap lembut punggungku.


"Bia mengerti,," Aku melepaskan pelukan. Saat itu juga Mas Agam menghapus air mataku.


"Berhenti menangis, aku benci hal ini." Mas Agam menatap sendu.


Aku mengangguk paham dan mencoba untuk mengukir senyum meski terasa berat. Pikiranku benar-benar sedang kacau. Aku tidak mau mengakhiri kedekatan dengan Mas Agam, tapi sulit untuk merelakan waktu 6 tahun yang aku lewati bersama Mas Dirga. Karna aku tidak pernah membayangkan pernikahan kami akan seperti ini.


Akibat kebohongan Mas Dirga, kini aku juga ikut andil dalam rusaknya rumah tangga ku sendiri.


Kedekatan ku dengan Mas Agam tidak terjadi begitu saja, semuanya berawal dari perbuatan Mas Dirga. Kalau saja Mas Dirga tidak menyembunyikan wanita lain di belakangku, aku pasti tidak pernah membuka diri untuk pria manapun.


...*****...


Dirga POV

__ADS_1


"Maaf Zi, aku sibuk. Tolong jangan menggunakan Rayyan untuk memintaku datang ke rumah." Pintaku geram. Semakin kesini, aku semakin yakin kalau sejak awal Ziva memang sengaja ingin membuatku berpisah dengan Bianca.


"Tapi Mas, Rayyan benar-benar demam sejak semalam karna mencari kamu. Aku nggak bohong,," Suara Ziva terdengar sedang menahan tangis. Sekalipun ucapan Ziva benar, tapi aku tidak akan datang menemui mereka.


Jujur saja, aku menjadi tidak tenang sejak kehadiran Ziva. Meski aku terhibur dengan sosok Rayyan, tapi itu tak membuatku benar-benar bahagia. Karna sejatinya kebahagiaanku memang ada pada Bianca.


"Harus berapa kali aku bilang Zi,, aku ingin berhenti.! Kedekatan kita salah."


"Tolong jangan memintaku untuk datang lagi. Aku nggak mau kedekatan kita membuatku kehilangan Bianca." Entah sudah berapa kali aku memohon pada Ziva untuk berhenti dan melupakan kebaikan serta perhatianku pada mereka. Tapi sepertinya Ziva sudah salah mengartikannya hingga dia berbuat sejauh ini dengan terus memintaku untuk menemuinya.


"Apa yang kamu harapin dari Bianca, Mas.?! Dia bahkan nggak bisa memberikan keturunan buat kamu. Sedangkan aku, kamu tau sendiri aku bisa memiliki anak.!" Seru Ziva penuh amarah.


Rahangku mengeras, aku mengepalkan tangan mendengar hinaan Ziva pada Bianca.


"Cukup Zi.!! Kamu sudah kelewat batas.!"


"Jangan pernah membandingkan kamu dengan Bianca, karna Bianca nggak seperti kamu.!!"


"Kamu boleh marah padaku, tapi jangan pernah menghina Bianca.!" Aku langsung memutuskan panggilan dan detik itu juga memblokir nomor Ziva.


Dadaku mendadak panas mendengar Ziva menghina Bianca.


3 hari di tinggal Bianca, rasanya sangat hampa. Setiap malam aku kesulitan tidur dan tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Membuka pintu rumah perlahan. Aroma masakan yang menggugah selera langsung menguar saat pintu terbuka lebar. Tiba-tiba perut teras lapar. Masakan Bianca selalu enak dan aku tidak sabar untuk menyantapnya. Termasuk tidak sabar menyantap orangnya.


"Kamu masak apa sayang.?" Aku memeluk Bianca dari belakang. Wanita cantik itu sedikit terkejut karna tiba-tiba aku memeluknya, sedangkan dia tidak menyadari saat aku datang ke dapur.


"Mas, aku lagi masak." Bianca melepaskan kedua tanganku yang melingkar di perutnya. Tanpa menoleh sedikitpun padaku, dia melanjutkan memasaknya.


Aneh, ada yang aneh dengan sikap Bianca. Aku merasa kalau Bianca menghindar dan acuh padaku. Sikapnya bahkan biasa saja, padahal kita baru bertemu setelah 3 hari dia ke Jakarta.


"Kamu pulang jam berapa Dek.?" Aku tak menyerah, kembali memeluk Bianca dari belakang dan meletakkan dagu di pundaknya.


Nyaman, rasanya benar-benar nyaman memeluk Bianca seperti ini. Cuma Bianca yang mampu membuatku nyaman dan tenang.

__ADS_1


"Tadi siang."


"Lepas Mas, sebaiknya kamu mandi dulu." Untuk kedua kalinya Bianca melepaskan pelukanku.


Aku semakin bingung dengan sikap aneh Bianca.


"Dek, kamu kenapa.? Marah sama Mas.?" Aku mencoba membalik tubuh Bianca agar menatapku, tapi Bianca menepis pelan.


"Aku lagi cape. Lagipula harus selesain masaknya."


"Daripada Mas cuma ganggu dan masakannya nggak mateng-mateng, mendingan Mas mandi aja. Nanti aku panggil kalau makan malamnya udah siap." Kali ini Bianca bicara sembari menatapku.


Setelah melihat sorot matanya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Bianca.


"Sebenarnya kamu kenapa Dek.? Nggak biasanya kamu kayaknya. Kesannya menghindar dan nggak mau Mas deket-deket sama kamu." Aku merengkuh sebelah pipi Bianca dan menatap teduh.


"3 hari loh kita nggak ketemu, Mas kangen sama kamu. Mas cuma pengen peluk kamu Dek. Kamu nggak kangen sama Mas.?"


Bianca tampak menarik nafas dalam, setelah itu menyingkirkan tanganku dari wajahnya.


"Kita bicara lagi nanti, setelah makan malam."


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan.!" Ucapnya dengan sorot mata tajam. Sikap Bianca semakin membuatku tidak karuan dan penasaran setengah mati. Jelas ini bukan Bianca yang selama ini aku kenal.


"Mau bicara apa Dek.? Jangan bikin Mas penasaran. Kenapa nggak bicara sekarang aja.?" Aku masih mengatur nada bicara ku agar tetap lembut, meski nada bicara Bianca semakin ketus dengan tatapan mata penuh kekesalan.


"Mas.! Tolong dengerin aku kali ini.!" Pintanya dengan nada tinggi.


Aku tertegun, rasanya tidak percaya kalau wanita cantik di hadapanku adalah Bianca yang selama ini begitu lembut dan tak pernah menolak saat aku memeluknya.


"Sayang,, are you okay.?" Aku mencoba merangkul pundaknya, tapi tanganku di tepis kasar.


"Mas nggak denger aku nyuruh apa.?"


"Kita bicara lagi setelah makan malam.!" Sentaknya dan berlalu dari hadapanku.

__ADS_1


...****...


...Jangan lupa VOTE...


__ADS_2