
Dirga POV
Aku memandang lekat wajah Bianca yang tengah duduk di sofa sambil terus menatap hasil USG bayi kembar kami. Bahkan sepanjang perjalanan menuju rumah, Bianca terus memegangi lembaran foto itu.
Kehamilan Bianca benar-benar tak terduga, rasanya masih belum percaya bahwa Tuhan telah menitipkan 2 bayi sekaligus dalam rahim Bianca di saat rumah tangga kali berada di ujung tanduk.
"Semoga bayinya cewe sama cowo ya Dek,," Ucapku yang langsung di balas dengan anggukan kepala oleh Bianca. Sudut bibir juga terangkat, dia tersenyum tipis meski tidak menatap ke arahku.
"Mas boleh pegang perut kamu.?" Aku bertanya dengan hati-hati agar tidak membuat Bianca tersinggung. Kalau tadi aku bisa mengusap perut Bianca tanpa ijin saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, kini aku tidak berani mengusapnya begitu saja. Karna kondisi Bianca sedang tenang, tidak seperti saat itu yang terbawa suasana sambil terus menangis.
Bianca menoleh, dia menatapku beberapa saat sampai akhirnya memberikanku ijin untuk memegang perutnya.
Perlahan aku mengusap perut Bianca. Mengetahui bahwa ada 2 bayi dalam perutnya, kebahagiaanku semakin bertambah berkali-kali lipat.
Ini adalah hadiah dan anugerah terindah seumur hidupku, selain memiliki Bianca di sisiku.
"Dek,, soal perceraian kita,," Aku menggantungkan ucapanku saat Bianca dengan cepat menatapku.
Ini yang sejak tadi aku pikirkan, tentang rumah tangga kami yang entah akan di bawa kemana setelah mengetahui ada 2 malaikat kecil dalam rahim Bianca.
Meski aku sudah setuju untuk berpisah walaupun berat, tapi setelah Bianca hamil, aku tidak rela berpisah dengannya. Aku tak mau kehilangan Bianca dan kedua anak kami.
"Jangan bahas sekarang Mas, nanti kita bicarakan lagi." Ujar Bianca. Aku mengangguk patuh, tak mau membuat mood Bianca berantakan gara-gara membahas masalah rumah tangga kami.
"Sudah waktunya makan malam, Mas siapin dulu ya makanannya." Aku beranjak sembari mengusap lembut pucuk kepala Bianca, setelah itu mengambil bungkusan di atas meja yang berisi makan malam kami.
...***...
"Kenapa nggak dimakan Dek.? Kamu nggak suka.?" Tanyaku.
__ADS_1
Aku hanya melihat Bianca menyuapkan makanan satu kali ke dalam mulutnya, setelah itu hanya diam dan tidak lagi menyentuh makanannya.
"A,,aaku,,," Bianca menjawab terbata, dia tampak ragu untuk bicara dan tampak menunduk malu.
"Kenapa Dek.? Mau ganti makanan yang lain.? Biar Mas pesenin yah. Kamu mau makan apa.?" Aku sedikit mendesak Bianca, bagaimana pun dia harus makan untuk memberikan asupan pada kedua bayi kami di dalam perutnya.
"Nggak usah Mas, aku suka makanan ini. Tapi,,," Bianca kembali menggantungkan ucapannya, dia tampak menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan pandangan.
"Tapi apa.? Jangan buat Mas khawatir dan bingung. Kamu harus banyak makan Dek, biar anak-anak kita sehat dan tumbuh dengan baik di dalam perut kamu." Tutur ku lembut. Aku bicara selembut mungkin dan memastikan hati-hati dalam berucap agar tak membuat Bianca tersinggung ataupun kesal padaku.
"A,,aaku mau di suapi." Jawabnya yang langsung mengatupkan bibir rapat-rapat. Bianca sampai menunduk tak berani menoleh ke arahku.
Sementara itu, aku terkekeh lucu sekaligus bahagia mendengar keinginan Bianca.
"Ya ampun Dek, Mas pikir kenapa,," Aku mengusap gemas pucuk kepala Bianca. Senyumku mengembang sempurna, rasanya sangat bahagia mendengar Bianca minta disuapi olehku.
"Kamu bikin Mas berfikir keras. Mas pikir kamu nggak suka makanan ini,," Kataku seraya menarik piring milik Bianca ke hadapanku agar aku lebih mudah menyuapinya.
"Kamu ngadep kesini sedikit Dek, Mas susah nyuapinnya." Aku meminta Bianca untuk merubah posisi sedikit menyamping ke arahku. Wanita berparas cantik itu menurut dan perlahan menggerakkan badannya. Dia tampak malu-malu, bahkan sampai sekarang belum menatapku.
Mungkin karna gugatan cerai yang dia layangkan padaku, membuat Bianca malu untuk meminta sesuatu dariku, apalagi sampai meminta untuk di suapi. Dan aku bisa memaklumi hal itu.
Karna biasanya Bianca tak akan malu memintaku untuk menyuapinya jika sisi manjanya sedang keluar.
"Aaaa,,, buka mulutnya Dek." Aku menyodorkan sendok di depan mulut Bianca. Pipi mulusnya tampak bersemu merah, dia segera membuka mulut dan mengunyah dengan lahap.
Sepertinya ini kemauan kedua anak kami yang ada di dalam perutnya. Jika bukan, mana mungkin Bianca minta di suapi di saat rumah tangga kami sedang bermasalah.
"Kamu nggak usah kerja lagi ya Dek.? Mas khawatir kalau kamu masih kerja,," Lirih ku dengan hati-hati. Semoga saja Bianca tidak marah karna aku memintanya untuk berhenti bekerja.
__ADS_1
"Iya Mas,," Jawabnya pelan. Benar-benar di luar dugaan, aku pikir Bianca akan memaksakan diri untuk tetap bekerja karna ada Agam di sana.
Tapi dia langsung menyetujui permintaanku meski wajahnya terlihat sendu saat menjawabnya.
...*****...
Bianca POV
Kehamilan ini membuatku berfikir untuk mengakhiri hubungan dengan Mas Agam, dan kembali memperbaiki rumah tangga ku bersama Mas Dirga. Belum terlambat jika aku ingin memperbaikinya, gugatan perceraian yang aku ajukan bisa aku cabut kapanpun.
Salah satu alasan yang membuatku ingin mengakhiri hubungan dengan Mas Agam adalah statusku yang jelas jauh berbeda dengan Arumi. Rasanya tidak mungkin aku akan mendapatkan restu dari keluarga Mas Agam. Aku dan Arumi jelas bagaikan langit dan bumi dalam dari segi status sosial kami.
Dan dengan kehamilanku ini, rasanya tidak mungkin aku akan tetap bersama Mas Agam. Keluarganya pasti tidak akan bisa menerimaku, begitu juga dengan Mas Agam yang mungkin akan berfikir ulang untuk menikahi ku.
Aku juga tidak bisa memisahkan dua bayi ini dari ayahnya, sedangkan sejak dulu aku dan Mas Dirga sama-sama berjuang keras untuk mendapatkannya.
Tidak ada kata terlambat untuk memulai dari awal. Aku pun sudah melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Mas Dirga. Dan bisa di bilang kedudukan kami sama. Jadi tidak ada salahnya bagi kami untuk memperbaiki kesalahan masing-masing demi twins.
"Kamu nggak terpaksa kan Dek.?" Tanya Mas Dirga setelah aku menyetujui permintaannya untuk berhenti bekerja.
"Enggak Mas, demi baby twins." Jawabku. Senyum Mas Dirga tampak merekah.
Dia kemudian menyuapiku lagi. Dengan malu-malu, aku membuka mulut tanpa berani menatap matanya.
Entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali di suapi oleh Mas Dirga, dan aku harus menahan malu untuk meminta Mas Dirga menyuapiku.
Kalau saja bisa di tahan, aku pasti tidak akan meminta untuk di suapi.
Untung saja Mas Dirga tidak bertanya macam-macan dan tanpa penolakan langsung bersedia untuk menyuapiku.
__ADS_1
"Makan yang banyak Dek, biar kalian bertiga makin sehat." Ucapnya penuh kelembutan. Aku menganggukkan kepala sebagai respon.