
Tidak ada obrolan selama makan malam berlangsung. Itu terjadi karna aku memilih untuk bungkam setelah 2 jam yang lalu aku membentak Mas Dirga. Sejak itu, aku enggan menatapnya dan selalu membuang muka setiap kali dia menatapku.
Saat ini aku akan mengambil keputusan yang telah aku pikirkan matang-matang.
Aku juga sudah menyiapkan bukti yang akan aku tunjukan pada Mas Dirga.
"Dek,, sebenarnya kamu kenapa.? Mas ada salah sama kamu.?" Mas Dirga memulai pembicaraan begitu kami selesai menghabiskan makan malam. Ekspresi wajahnya tampak sendu. Bahkan itu terjadi sejak aku bersikap ketus padanya saat sedang memasak.
"Mari bercerai.! Aku ingin mengakhiri pernikahan kita.!" Aku berucap tegas tanpa keraguan. Persetan dengan perasaanku pada Mas Dirga yang sebenarnya masih tersisa di hati, tapi rasa kecewa dan sakit yang dia torehkan terlalu menyiksa. Selain itu, aku juga tidak mau kehilangan Mas Agam.
Seketika ekspresi Mas Dirga berubah. Aku bisa melihat dia sangat kaget mendengar ucapanku.
Mungkin dia tidak pernah mengira kalau istrinya yang sangat patuh dan lemah lembut ini akan meminta cerai darinya.
"Kamu bicara apa Dek.? Jangan bercanda."
"Mas nggak lagi ulang tahun, anniversary kita juga sudah lewat." Mas Dirga tampak mengukir senyum, aku bisa melihat dia memaksakan senyum itu untuk menutupi kegelisahan atas ucapanku.
"Aku nggak bercanda Mas. Aku benar-benar ingin mengakhiri pernikahan yang penuh kebohongan ini.!!"
"Sudah cukup selama beberapa bulan ini aku pura-pura bodoh dan menutup mata atas perselingkuhan kamu.!!" Aku berteriak, menatap Mas Dirga dengan sorot mata penuh amarah.
Pengakuanku mampu membuat wajah tampan Mas Dirga terlihat semakin syok.
"Maksud kamu apa Dek.? Mas nggak pernah selingkuh." Mas Dirga beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiriku. Aku langsung menepis tangannya saat dia akan menyentuh pundakku.
"Apa aku perlu menyeret wanita dan anak laki-laki itu ke rumah ini agar Mas mau mengakuinya.?!!" Bentak ku dengan emosi yang semakin tak terkendali. Dada terasa sakit dan panas saat mengingat semua kebohongan yang di lakukan oleh Mas Dirga. Apalagi mengingat saat Mas Dirga pergi bersama wanita itu dan mengunjungi rumahnya.
"Maksud kamu apa Dek.? Mas nggak ngerti."
Aku tersenyum kecut melihat Mas Dirga yang enggan mengakuinya.
"Jangan pura-pura Mas.!" Sentakku. Aku beranjak dari kursi, mengambil ponsel dan parfum vanila yang sejak tadi sengaja aku letakkan di sudut meja makan.
__ADS_1
"Lihat ini.!!" Aku menunjukkan layar ponselku di depan wajah Mas Dirga. Foto dari Mas Agam dan video yang aku ambil setiap kali memergoki Mas Dirga, aku perlihatkan semua di depannya.
Bisa di bayangkan betapa terkejutnya Mas Dirga setelah melihat semua bukti yang aku miliki.
"Dek,, dari mana kamu dapat,,"
"Kenapa.? Mas kaget aku miliki bukti ini.?!!" Aku memotong ucapannya seraya tersenyum kecut.
"Bukti ini aku ambil dengan ponselku sendiri Mas.!! Aku memergoki kamu dengan wanita itu dan memilih diam selama ini.!"
"Aku pikir suatu saat Mas akan menjelaskannya padaku, tapi nyatanya saat ini kamu mencoba untuk mengelak Mas.!!" Mataku memerah. Ingin rasanya aku menangis, tapi enggan terlihat menyedihkan di depan Mas Dirga.
"Dan parfum ini.?!!" Aku mengangkat parfum vanila yang sudah lama di belikan oleh Mas Dirga.
"Aroma parfum vanila yang menempel di baju kamu juga milik wanita itu kan Mas.?!! Tapi kamu membuatku seperti orang bodoh dengan mengatakan teman kantor kamu menjual parfum ini.!!" Aku mendorong dada Mas Dirga penuh amarah. Benar-benar tak habis pikir dengan perbuatannya padaku beberapa bulan terkahir.
"Itu sebabnya aku nggak sudi pakai parfum ini.!!" Teriakku dan detik itu juga aku langsung membanting parfum itu ke tembok hingga pecah berkeping-keping dan aroma vanila langsung menguar di dapur.
Mas Dirga terlihat kaget melihatku membanting parfum itu. Karna ini pertama kalinya aku melakukan hal itu di depan Mas Dirga, bahkan seumur hidupku.
Seandainya saja Mas Dirga tidak memulai, semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan dekat dengan Mas Agam, apalagi sampai meminta cerai dari Mas Dirga.
"Dek,, maafin Mas,," Suara Mas Dirga tercekat, ekspresi wajahnya terlihat sangat frustasi. Dia berusaha menarik ku dalam dekapannya, namun segera ku tepis.
Permintaan maaf yang keluar dari mulut Mas Dirga aku anggap sebagai pengakuan secara tidak langsung kalau semuanya memang benar adanya tentang hubungan Mas Dirga dan wanita itu.
"Kata maaf saat ini sudah nggak berarti apapun buat aku Mas.!!"
"Secepatnya aku akan urus perceraian kita.!!" Bentakku. Aku segera berlalu dari hadapan Mas Dirga, namun dia berhasil menahanku.
Pria yang lebih dari 6 tahun aku kenal itu, kini berlutut di kakiku dengan memegang kedua tanganku.
"Mas nggak mau cerai sama kamu Dek. Ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Mas dan Ziva nggak pernah punya hubungan apa-apa."
__ADS_1
Aku tersenyum miris mendengar Mas Dirga menyangkal dan menyebut nama wanita itu.
"Mas pikir aku percaya.?!!"
"Sekarang jawab.!! Berapa kali Mas pergi sama wanita itu dan datang ke rumahnya.?!!"
"Bahkan saat pergi ke Jakarta, Mas mengajak wanita itu.! Iya kan.?!!"
"Mbak Sita melihat kamu di mall sama wanita dan anak itu Mas.!! Kamu masih mau bilang nggak punya hubungan apa-apa.?!!" Aku menghentakkan kasar genggaman tangan Mas Dirga.
"Aku bukan anak kecil yang masih bisa di bohongi Mas.!!" Aku berlalu. Rasanya tidak tahan lagi menahan air mataku. Aku ingin menangis tanpa di lihat oleh Mas Dirga.
"Dek,, Mas mohon dengerin penjelasan Mas dulu." Mas Dirga kembali mencegahku. Wajahnya tampak kacau.
"Dia temen Mas saat masih kuliah dulu. Suaminya baru meninggal hampir 3 bulan yang lalu, dia sendirian disini Dek. Mas nggak tega, apalagi lihat anaknya yang terus mencari Papanya."
"Mas tau ini salah. Mas nggak ada niat buat menyembunyikan ini dari kamu Dek. Demi apapun, Mas nggak punya hubungan lebih sama dia." Penjelasan Mas Dirga sama sekali tidak membuatku percaya. Kebohongan yang sering Mas Dirga lakukan telah menghilangkan kepercayaanku padanya. Aku anggap semua ucapannya adalah kebohongan.!
"Mas nggak tega sama orang lain, tapi tega sama istri sendiri.!!" Aku menatap sinis.
"Jangan salahkan aku kalau ingin mengakhiri pernikahan kita.!"
"Sudah terlalu banyak kebohongan yang Mas Dirga lakukan padaku. Aku nggak pernah bisa percaya lagi sama kamu Mas.!"
"Mungkin memang sampai di sini jodoh kita. Sekarang Mas Dirga bebas berhubungan dengan wanita itu." Aku masuk ke dalam kamar tamu dan menguncinya.
Sebagian baju dan barang-barang pribadiku sudah aku pindahkan ke kamar tamu sebelum Mas Dirga pulang. Aku memang sudah berencana untuk pisah kamar. Dan mungkin beberapa hari ke depan aku akan mencari tempat tinggal baru.
Aku menghiraukan suara gedoran pintu dan panggilan Mas Dirga yang terus memohon.
Keputusanku untuk mengakhiri pernikahan ini sudah bulat.
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa VOTE,,,...