Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 83


__ADS_3

Bianca Pov


"Rayyan.?" Mas Dirga langsung berdiri, dia terkejut melihat Rayyan dan Ziva yang kini ada di depannya. Anak laki-laki itu langsung memeluk kaki Mas Dirga, tapi tidak mendapatkan respon apapun darinya. Mas Dirga hanya diam, lalu menatap tajam ke arah Ziva.


"Sayang, sini nak." Ziva mendekat dan mencoba melepaskan Rayyan yang tengah memeluk kaki Mas Dirga.


"Bukannya ini laki-laki yang sering datang ke rumah.?!" Suara penuh amarah itu berasal dari pria yang datang bersama Ziva.


Wajahnya jelas sekali menunjukkan amarah dengan tatapan tajam yang membunuh.


"Berani sekali kamu menemui anak dan istriku.!" Pria itu mendekat pada Mas Dirga, dia menarik kerah kemeja Mas Dirga dan mendaratkan tinjuan di wajah Mas Dirga tanpa sempat di tepis.


Aku dan Ziva sampai reflek berteriak. Beberapa orang yang berada di sekitar kami sampai mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi


"Apa maksudmu.??!" Mas Dirga menepis kasar tangan pria itu dan mendorong dadanya agar menjauh. Aku tau Mas Dirga tidak akan membalas tinjuan yang sudah dia dapatkan dari pria itu.


"Cih.!! Jangan pura-pura bodoh kamu.!"


"Ziva istriku, berani-beraninya kamu membawa istri dan anakku pindah dari rumah kami di saat aku sedang di tugaskan ke luar kota.!"


Aku dan Mas Dirga tentu terkejut mendengar pengakuan pria yang menyebut dirinya sebagai suami dan ayah dari Rayyan. Padahal Ziva mengaku pada Mas Dirga kalau suaminya sudah meninggal.


"Mas, ayo kita pulang.!" Setelah menggendong Rayyan, Ziva mencoba menarik tangan pria itu untuk pergi dengannya. Tapi dia menepis tangan Ziva.


"Aku belum selesai bicara dengan laki-laki brengsek ini.!" Pekiknya seraya menunjuk wajah Mas Dirga. Mas Dirga langsung menepis tangannya.

__ADS_1


"Mas,," Aku mendekap tangan Mas Dirga. Sejujurnya aku juga ingin mengajak Mas Dirga pergi dari taman ini daripada harus menanggapi Ziva dan Pria itu.


Aku sudah bisa membaca situasinya, dan jelas di sini bukan Mas Dirga yang salah. Aku yakin Ziva pasti berbohong pada Mas Dirga soal kematian suaminya agar bisa menjerat Mas Dirga dalam dekapannya. Mengingat Ziva yang begitu terobsesi ingin merebut Mas Dirga dari ku, sudah pasti dia bisa melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Termasuk membohongi Mas Dirga.


"Jangan takut,," Mas Dirga mengusap pucuk kepalaku.


"Ziva.?!! Bisa kamu jelaskan siapa laki-laki ini.?"


"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau suamimu meninggal karna kecelakaan.!!" Mas Dirga bicara dengan nada tinggi, aku bisa melihat amarah dari sorot matanya untuk Ziva. Dia pasti merasa di tipu dan di manfaatkan oleh Ziva karna membuat cerita palsu tentang kematian suaminya.


Aku yakin Mas Dirga tidak akan berbuat sejauh itu untuk membantunya jika Ziva berkata jujur kalau dia masih memiliki suami.


"A,,aaku,,," Ziva tampak gelagapan. Terlebih saat di tatap tajam oleh Mas Dirga dan pria yang mengaku sebagai suami Ziva.


"Jadi kamu mengatakan padanya kalau aku sudah meninggal.?!!" Pria itu mencengkram kuat lengat Ziva. Ziva menggelengkan kepala, dia berusaha menyangkalnya.


"Kamu benar-benar sakit Ziva.!! Sejak kapan aku membujuk mu pindah rumah dan menyuruhmu untuk bercerai di saat kamu mengakui kalau suamimu baru saja meninggal.!!" Nada bicara Mas Dirga semakin meninggi. Ini pertama kalinya aku melihat Mas Dirga bicara dengan emosi yang memuncak.


Kau juga tidak bisa tinggal diam melihat Mas Dirga yang sedang di fitnah oleh Ziva, terlepas Mas Dirga pernah melakukan kesalahan padaku.


"Ziva, aku mengerti perasaan kamu sebagai mantan pacar Mas Dirga. Kamu pasti masih mengharapkan Mas Dirga sampai kemarin kamu mendatangi ku dan memintaku untuk memberikan Mas Dirga padamu.!" Aku menekankan setiap kata dan menatapnya tajam. Seketika wajah Ziva semakin pucat.


"Kamu bahkan sampai membawa testpack positif dan mengaku sedang hamil anak Mas Dirga agar aku mau melepaskan Mas Dirga untukmu."


"Kamu sudah merencanakan semuanya dengan matang, tapi kenapa sekarang kamu memfitnah Mas Dirga.?!" Bentakku yang tidak tahan dengan kebohongan Ziva.

__ADS_1


"Kamu bohong sama aku.?!" Tegas pria itu pada Ziva. Sepertinya dia lebih percaya dengan penuturan Mas Dirga dan aku, di banding ucapan Ziva.


"Nggak Mas.! Aku bicara fakta.!" Ziva terus mengelak. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan yang satu ini.


"Hentikan Ziva.!! Jangan mengorbankan orang lain untuk menutupi kebohongan kamu.!"


"Mas Dirga tulus membantu kamu yang mengaku seorang janda.! Bagaimana bisa kamu dengan kejam memfitnahnya.!" Aku semakin emosi karna Ziva terus menyudutkan Mas Dirga.


"Sudah Dek, biarkan saja." Mas Dirga mengusap tanganku dan menatap teduh.


"Aku rasa kalian sedang ada masalah, sebaiknya selesaikan berdua dan jangan menyeretku.!" Ujar Mas Dirga tegas. Dia menggandeng tanganku dan mengajakku pergi dari sana.


Pria yang mengaku sebagai suami Ziva bahkan tidak mencegah Mas Dirga, mungkin dia sudah tau siapa yang berbohong disini.


"Sakit.?" Tanyaku setelah kami masuk ke dalam mobil. Sudut bibir Mas Dirga sedikit terluka akibat di pukul oleh pria itu.


"Sedikit, masih aman." Jawab Mas Dirga yang kemudian tersenyum tipis.


"Maaf Dek, rumah tangga kita jadi rumit seperti ini karna perbuatan Mas." Mas Dirga menggenggam tanganku.


"Mas janji akan lebih hati-hati lagi kedepannya dan nggak akan mengulangi kesalahan yang sama."


"Terimakasih sudah mau memaafkan dan kembali sama Mas." Mata Mas Dirga berkaca-kaca.


Aku mengangguk kecil sebagai respon. Setelah apa yang terjadi dan aku pun melakukan hal yang sama secara di sengaja, sudah seharusnya aku memaafkan Mas Dirga. Terlebih Mas Dirga tak menghakimiku atas apa yang sudah aku perbuat di belakangnya. Dia juga tidak pernah mengungkitnya sama kali. Mas Dirga sangat paham bagaimana menjaga perasaanku agar tidak terpuruk akibat perbuatanku sendiri.

__ADS_1


"Aku ingin kita membuka lembaran baru Mas. Lupakan apa yang pernah terjadi dan fokus menata kehidupan yang bahagia demi twins." Ucapku. Mas Dirga langsung menarik ku dalam dekapan.


"Kita akan bahagia seperti dulu lagi Dek." Balasnya penuh keyakinan.


__ADS_2