
Dirga Pov
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Ziva. Wanita yang dulu aku kenal sangat baik, kini berubah mengerikan. Rasanya masih belum percaya kalau Ziva akan memfitnahku dan berbohong soal kematian suaminya.
Aku terlalu yakin kalau Ziva masih sebaik dulu, sampai aku mempercayai semua perkataan Ziva tentang kematian suaminya dan Rayyan yang katanya merindukan sosok mendiang Ayahnya itu.
Ku lirik Bianca yang sedang fokus menatap jalanan dari kaca jendela. Entah harus dengan cara aku mengungkapkan rasa syukur karna Tuhan memberikanku istri yang sangat sempurna untukku. Bahkan meski aku telah melakukan kesalahan dan melukai perasaannya, Bianca dengan tegas membelaku.
"Sayang,," Aku meraih tangan Bianca, wanita dengan rambut panjang yang tergerai itu sontak menoleh. Wajahnya yang cantik, tatapan matanya yang teduh, Bianca akan membuat siapapun yang menatapnya merasa hangat.
"Hmm.?"
"Apa kita perlu pindah ke Manado.?" Tawarku ragu. Sebenarnya aku ingin pergi sejauh mungkin dari kota ini, tapi mempertimbangkan pekerjaan apa yang bisa aku dapatkan di sana. Sekalipun aku bisa mendapatkan pekerjaan, pasti aku harus memulainya dari nol lagi. Sedangkan Bianca tengah mengandung anak-anak kami, yang pastinya membutuhkan banyak biaya untuk persalinan dan kebutuhan twins.
"Aku juga sempat berfikir ingin pindah dari kota ini, tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu Mas.?" Bianca tampak khawatir.
"Kamu sudah bekerja keras untuk berada di posisi saat ini. Menjadi manajer bukankah impian kamu sejak awal di terima di perusahaan.?"
"Seandainya mendapatkan pekerjaan dan jabatan sangat mudah, aku pasti mau kembali ke Manado." Bianca membalas genggaman tanganku. Wanita itu tersenyum teduh, senyum yang membuatku merasa sangat tenang.
"Aku akan bertahan disini selagi masih bisa."
"Semua ini juga demi twins." Ucapnya yang mampu membuat mataku berkaca-kaca karna terharu.
"Makasih Dek."
"Sementara kita menetap disini dulu, ke dapan Mas bakal cari pekerjaan di kota lain. Paling nggak pekerjaan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan twins nanti." Ucapku yang langsung di tanggapi seulas senyum tulus dan anggukan kepala dari Bianca.
...******...
__ADS_1
1 minggu berlalu setelah kami melihat rumah baru. Saat itu juga aku langsung membelinya karna Bianca merasa cocok dan suka dengan rumah tersebut. Hari ini kami sudah bersiap untuk pindah. Sejak 1 minggu yang lalu, kami berdua sudah mulai menyicil untuk memasukan barang-barang kedalam box besar.
2 mobil box sudah berada di depan rumah sejak 1 jam yang lalu. Mereka sedang memasukkan furnitur kedalam mobil box.
"Mas,," Bianca menghampiriku ke dalam kamar. Saat ini aku sedang memindahkan barang-barang di kamar untuk di bawa keluar.
"Kenapa Dek.?" Aku menghentikan sejenak aktivitasku untuk bicara dengannya.
"Aku,,," Bianca menggantungkan ucapannya. Dia terlihat ragu untuk bicara dan tampak cemas.
"Ada apa.? Kamu butuh sesuatu.?" Lirih ku seraya mengusap lembut punggungnya. Bianca menggelengkan kepala.
"Aku ingin mengembalikan uang milik Mas Agam. Dia membayar gajiku terlalu banyak," Ucapnya dengan menundukkan kepala dengan kedua tangan yang bertautan.
"Tadi aku lihat dia baru pulang,," Tambahnya lagi.
"Uangnya masih ada.? Apa sudah kamu pakai.?" Tanyaku.
"Uangnya masih ada, udah aku ambil kemarin. Aku mau balikin langsung sekaligus menyelesaikan permasalahan kami baik-baik."
"Aku cuma ingin membuka lembaran baru dengan perasaan yang tenang," Lirihnya dengan suara yang tercekat.
"Ya sudah, kamu bicarakan saja padanya." Ujarku. Aku tidak keberatan kalau Bianca ingin menyelesaikan masalahnya dengan Agam. Apalagi hal itu akan berdampak baik untuk kelanjutan hubungan ku dengan Bianca.
"Kita pergi ke rumah Mas Agam berdua ya." Ajak Bianca.
"Aku nggak mau Mas salah paham nantinya." Ucapnya yang tampak khawatir.
"Nggak akan, Mas percaya sama kamu."
__ADS_1
"Kalau Mas ikut, takut nggak selesai permasalahan kalian. Asal bicara di teras, Mas nggak masalah." Ujarku meyakinkan Bianca. Aku hanya ingin memberikan ruang pada Bianca dan Agam untuk menyelesaikan permasalahan mereka yang menurutku memang belum selesai.
Beberapa kali aku melihat Agam menatap penuh amarah pada Bianca. Mungkin itu yang membuat Bianca tidak tenang dan ingin menyelesaikannya.
...******...
Bianca Pov
Aku hampir saja menangis saat Mas Dirga memberiku ijin untuk bicara dengan Mas Agam. Dia bahkan membiarkanku datang seorang diri ke rumah Mas Agam. Aku yakin pasti ada rasa cemburu di hatinya saat aku meminta ijin untuk menyelesaikan masalah dengan Mas Agam, tapi Mas Dirga sama sekali tidak menunjukkannya di depanku. Mas Dirga memang bisa mengontrol perasaannya dengan baik.
Berdiri di depan pintu rumah Mas Agam. Aku menekan bel beberapa kali sampai akhirnya Mas Agam membukakan pintu. Dia terlihat terkejut melihatku. Tatapan yang awalnya datar, kini berubah tajam dan menusuk.
"Bisa bicara sebentar.?" Tanyaku tanpa berani menatap matanya terlalu lama. Karna tatapan matanya membuatku takut.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan.!" Tegasnya sinis. Mas Agam bahkan sudah siap untuk masuk lagi ke dalam rumah. Aku buru-buru menahan pintunya.
"Kita bicara sebagai orang dewasa yang sudah berbuat kesalahan." Ucapku dan memberanikan diri untuk menatapnya.
"Kita nggak akan bisa melanjutkan hidup dengan tenang selama permasalahan ini belum selesai."
"Aku mohon, kita bicarakan baik-baik untuk menyelesaikan masalah ini." Pintaku yang langsung di tanggapi senyum kecut oleh Mas Agam.
"Aku juga ingin mengembalikan uang ini." Aku menyodorkan amplop putih berisi uang 50 juta yang Mas Agam kirim ke rekeningku.
"Tolong di terima. Walaupun aku bersikap layaknya istri murahan yang mau tidur dengan pria lain, tapi aku bukan pe la cur yang mengharap uang setelah melakukannya." Aku meraih tangan Mas Agam dan meletakkan amplop berisi uang itu ke tangannya. Karna Mas Agam terlihat enggan untuk menerimanya.
"Aku tau Mas Agam pria yang baik. Apa yang Mas katakan dan perbuat padaku hanya sebagai bentuk kekecewaan."
"Hidup terus berjalan, aku hanya ingin memperbaiki diri dari kesalahan yang sudah aku buat agar bisa melanjutkan hidup dengan tenang."
__ADS_1
"Aku harap Mas Agam juga seperti itu." Aku tersenyum tulus padanya. Mas Agam diam di tempat tanpa mengatakan apapun. Dia menatapku dalam dengan sorot mata yang sulit di artikan.