Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 76


__ADS_3

Sambil mengemasi barang-barangku, sesekali aku melirik ke arah Mas Agam. Pria itu tampak sengaja menyibukkan diri dengan fokus pada layar laptopnya. Sedikitpun dia tidak menoleh ke arahku sejak terakhir kali memberikan tatapan tajam. Aku bisa memaklumi kekecewaannya yang enggan mengakhiri hubungan kami, tapi kenapa sampai harus bersikap seperti ini padaku. Bahkan dengan mudahnya melontarkan kata-kata yang mampu menggores hatiku.


Aku masih bisa terima dengan hinaan Pak Airlangga, tapi sulit untuk menerima perkataan Mas Agam yang menyakitkan. Juga dengan perlakuannya yang membuatku benar-benar merasa menjadi seorang pe la cur.


Setelah apa yang sudah kami lalu, bahkan Mas Agam juga sadar bahwa sebenarnya kami saling mencintai, tapi dia dengan teganya merendahkan ku.


Sebelum pergi dari meja kerjaku, aku lebih dulu memberikan file hasil kerjaku pada sekretaris baru dan menjelaskan pekerjaan apa saja yang harus dia kerjakan setelah ini.


"Baik Bu, saya paham." Ucapnya setelah aku menjelaskan padanya.


Aku langsung pamit padanya, keluarga dari ruangan ku yang hanya menggunakan dinding dan pintu kaca sebagai pembatas.


Dengan perasaan berkecambuk, aku berjalan menghampiri Mas Agam. Apapun yang terjadi di antara kami, aku tetap harus pamit baik-baik padanya sekalipun dia memecat ku begitu saja.


"Permisi Pak,," Panggil ku begitu berdiri di depan meja kerjanya.


"Hmm.!" Mas Agam berdehem ketus tanpa menatap ke arahku.


"Kamu boleh keluar dari sini kalau sudah mengemasi barang-barang mu. Pastikan jangan sampai ada yang tertinggal.!" Tegasnya penuh penekanan.


Aku memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam untuk memenuhi oksigen di dadaku yang terasa sangat sesak dan penuh setelah mendengar perkataannya.


"Jangan khawatir Pak, saya sudah membawa semua barang-barang milik saya." Jawabku. Aku menatap box kecil yang ada dalam dekapan ku.


"Saya ingin pamit dan berterimakasih pada Anda."


"Uangnya sudah saya terima. Tapi sepertinya saya harus mengembalikan sebagian uang Anda karna harga diri saja tidak semahal itu." Berucap tegas penuh penekanan, aku mencoba menguatkan hati untuk tidak menangis di depan Mas Agam.

__ADS_1


Saat itu juga Mas Agam menghentikan jemarinya yang sejak tadi bergerak di atas keyboard.


Mas Agam juga mulai mengangkat wajahnya dan kini pandangan mata kami bertemu. Dia menatap datar, aku mencoba mengukir senyum tipis padanya. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja setelah dia dengan sadar membeli tubuhku.


"Atau Anda berharap kita melakukannya 4 atau 5 kali lagi setelah mengirimkan uang sebanyak itu pada saya.?" Aku semakin melebarkan senyum.


Anggap saja aku benar-benar menjadi seorang pe la cur yang sedang bernegosiasi dengan pelanggan yang sudah pernah memakaiku. Karna secara tidak langsung perbuatan Mas Agam menjadikan ku seorang pe mu as nafsu sungguhan. Padahal aku tidak akan pernah melakukan hal itu jika tidak memiliki perasaan padanya.


"Bagaimana Pak.? Mau saya kembalikan uangnya, atau kita,,"


"Bianca,," Potongnya cepat. Tatapan matanya berubah sendu.


"Ya,,? Kenapa.?" Aku meletakkan box di atas meja dan mendekatkan badanku dengan telapak tangan bertopang di atas meja. Jarak wajah kami cukup dekat, aku bisa melihat penyesalan dari sorot matanya yang sendu.


"Apa Anda ingin melakukannya sekarang.?"


"Asal suruh sekretaris baru Anda untuk keluar sebentar dari ruangan ini." Aku menoleh sekilas pada wanita seksi yang kini sedang menatap ke arah kami. Tidak peduli dia akan berfikir seperti apa tentangku, aku hanya ingin menunjukkan pada Mas Agam pe la cur yang sesungguhnya ketika dia sudah di beli.


"Bianca,, aku nggak bermaksud seperti itu." Mas Agam tampak cemas, dia mendorong pelan bahu ku agar menjauh darinya.


"Lalu seperti apa?" Aku tersenyum kecut dan semakin mendekat ke arahnya, tidak peduli walaupun dia mendorongku untuk menjauh.


"Bukannya Anda baru saja membayar saya.?"


"Uangnya terlalu banyak Pak Agam, itu sebabnya saya menawarkan diri agar uang yang Anda keluarkan untuk saya tidak sia-sia." Mas Agam menghindar dengan mendorong kursinya ke belakang. Dia kemudian beranjak dari duduknya dan menggandeng paksa tanganku.


"Kita bicara di tempat lain." Pintanya. Aku berjalan cepat mengikuti langkah Mas Agam tanpa sempat mengambil box berisi barang-barang milikku.

__ADS_1


Aku memilih bungkam dan mengikuti kemana Mas Agam membawaku. Dia membuka ruangan rapat dan mengajakku masuk ke dalam.


Pintu sengaja dia kunci dan kembali menggandeng ku ke arah dinding kaca yang menghadap ke halaman belakang kantor.


"Jadi mau disini.?" Tanyaku basa-basi. Aku tau Mas Agam tidak akan berbuat macam-macam padaku setelah aku menyindirnya soal uang yang dia transfer padaku dan kini aku menawarkan diri.


Mas Agam pasti tertampar dengan perkataanku jika dia sadar bahwa perbuatan dan ucapannya telah merendahkan ku.


"Maaf Bi,," Lirih Mas Agam dengan kepala yang tertunduk. Aku bergeser menjauh saat melihat pergerakan Mas Agam yang hendak meraih tanganku.


"Kenapa.? Apa sekarang Mas Agam sudah menyadari jika perbuatan dan ucapan Mas telah melukai dan merendahkan harga diriku.?!"


"Hinaan Pak Airlangga bahkan tidak ada apa-apanya di banding perlakuan kamu Mas.!!" Aku tersenyum kecut, sekuat hati menahan diri untuk tidak menangis.


"Serendah itu aku di mata kamu.?! Bukannya kamu tau sendiri bagaimana perasaanku.?!"


"Aku tau kamu sulit menerima keputusan ini, tapi jangan menutup mata tentang kehamilanku dan restu dari orang tua kamu."


"Aku dan kamu berbeda, itu yang ada di mata Pak Airlangga. Dan kehamilan ini seperti jadi petunjuk kalau memang kita nggak bisa bersatu."


"Soal uang itu, aku akan mengembalikan apa yang bukan hak ku.!" Tegas ku dan memilih berlalu dari hadapan Mas Agam. Pria itu hanya diam di tempat dengan tatapan nanar saat aku berlalu.


Aku benar-benar menyesal, menyesal karna telah memberikan apa yang seharusnya tidak aku berikan pada Mas Agam.


Padahal aku benar-benar jatuh cinta padanya, bahkan mengakhiri hubungan ini juga harus bertentangan dengan hatiku sendiri. Tapi Mas Agam menutup mata dan tidak berusaha untuk memahami keadaanku saat ini.


Dalam keadaan aku yang tengah hamil dan Pak Airlangga jelas-jelas tidak menyukaiku, Mas Agam masih sempat berfikir untuk tetap melanjutkan hubungan kami.

__ADS_1


__ADS_2