
1 bulan berlalu,,
Pagi itu suasana di meja makan cukup riuh. Sky dan Shelly sedang berebut sarapan. Padahal Bianca sudah mengambilkan sarapan untuk mereka dengan porsi yang sama. Tapi bukan Shelly namanya kalau tidak jahil pada sang Kakak. Dia mengambil udang tempura di piring Sky dan memindahkannya ke piring miliknya.
"Yee,, udangku jadi banyak,," Kata Shelly dengan nada meledek. Pipinya yang chubby terlihat menggemaskan.
Sky langsung merampas kembali udang miliknya dan menggeser piringnya agar jauh dari jangkauan Shelly.
"Mama melarang mengambil milik orang lain.!" Ujar Sky dengan tegas.
Tapi Shelly seakan tidak kapok untuk jahil, dia sengaja mendekat dan terus berusaha untuk mengambil udang tempura milik sang Kakak.
Dirga dan Bianca yang melihat keributan kecil itu hanya bisa mengulum senyum dengan gelengan kepala.
"Sudah jangan bercanda. Habiskan makanannya, nanti kalian terlambat sekolah." Pada akhirnya Bianca menengahi karna si kembar masih memperebutkan udang milik Sky.
"Shelly, kembali udang milik Kak Sky. Kamu bisa ambil udang milik Papa kalau mau." Ucap Dirga lembut. Dia menyodorkan piring miliknya di depan Shelly supaya putrinya itu bisa mengambil udang tempura dari piringnya.
Shelly mengambilkan udang milik Sky, dia kemudian menggelengkan kepala pada Dirga.
"Terimakasih Papa, 4 udang sudah cukup." Ucap Shelly begitu lembut dan manis.
Sky langsung melirik malas pada adiknya itu. Sejak tadi berusaha untuk merebut undang miliknya, tapi giliran di tawari udang milik sang Papa, Shelly malah menolak dengan begitu anggun.
"Ck,, dasar perempuan.!" Cibir Sky. Dia kemudian memilih untuk melahap makanannya.
Bianca terkekeh gemas, dia mengusap pucuk kepala Sky dan Shelly bergantian.
Rumah besar itu tidak akan ramai dan sehangat ini tanpa kehadiran dua malaikat kecil yang menggemaskan itu.
"Hari ini di antar Papa lagi kan.?" Tanya Shelly selesai menghabiskan sarapannya.
"Aku mau di antar Mama." Ujar Sky cepat.
__ADS_1
Keduanya memang tak jarang berdebat setiap kali akan berangkat ke sekolah. Shelly yang lebih dekat dengan Dirga, tentu saja ingin di antar olehnya. Sedangkan Sky lebih suka di antar oleh Bianca karna tidak terburu saat menyetir. Sky menggunakan kesempatan itu untuk menikmati perjalanan dari rumah ke sekolah yang membutuhkan waktu 30 menit.
"Bagaimana kalau di antara Mama dan Papa saja.?" Usul Shelly dengan mata kecilnya yang membulat sempurna.
"Aku setuju." Jawab Sky.
Dirga melirik Bianca, wanita cantik itu tampak menarik nafas dalam sebelum memberikan anggukan kecil.
"Baiklah, Mama ganti baju dulu sebentar. Kalian berdua tunggu saja di mobil Papa." Titahnya pada kedua bocah manis itu.
"Okey Mama,,!!" Seru keduanya yang langsung melompat dari kursi dan mengambil tas masing-masing di atas kursi kosong.
Dirga menyusul mereka untuk membukakan pintu mobil. Senyumnya mengembang sempurna, menatap anak kembarnya berlari kecil ke arah garasi rumah.
Seandainya dulu Bianca tidak hamil, mungkin perpisahan itu benar-benar terjadi dan dia tidak akan merasakan kebahagiaan luar biasa ini bersama wanita yang dia cintai dan dua buah hatinya.
...****...
"Mas yakin nggak masalah kalau aku ikut ke kantor.?" Tanya Bianca ragu.
Jarak dari sekolah ke rumah saja sudah lumayan jauh, belum lagi dia harus ke kantor setelah mengantar Bianca pulang. Tentu saja waktunya tidak akan cukup.
"Aku naik taksi saja, nggak masalah." Ujarnya lagi.
"No, sayang. Aku akan khawatir kalau kamu naik taksi."
"Kamu bisa menunggu di ruanganku selama aku rapat." Tutur Dirga yang terdengar enggan untuk di bantah. Sejak Bianca bercerita tentang pengalaman buruk ketika naik taksi online, Dirga tidak pernah lagi mengijinkan Bianca naik taksi online ataupun kendaraan umum lainnya.
Dia sampai membelikan mobil baru untuk Bianca lebih dari 1 tahun yang lalu, tepatnya setelah si kembar mulai masuk ke PAUD.
"Baiklah,," Ucap Bianca pasrah. Dia sudah membayangkan akan sebosan apa di dalam ruangan Dirga selama berjam-jam. Tapi bagaimana lagi, dia tidak mungkin melanggar larangan Dirga. Apalagi hal itu demi kebaikannya sendiri.
"Kok berhenti Mas.?" Bianca mengerutkan kening saat Dirga tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan.
__ADS_1
"Tadi lihat asinan mangga, kayaknya seger." Jawab Dirga seraya menatap kaca spion untuk memastikan apa yang tadi sempat dia lihat di pinggir jalan.
"Kamu tunggu sebentar ya, Mas beli dulu." Ujarnya dan buru-buru keluar dari mobil. Bianca bahkan belum sempat menanggapi ucapannya. Wanita itu tempak keheranan melihat Dirga yang tiba-tiba menginginkan asinan mangga pagi-pagi begini.
"Ya ampun,, jangan-jangan.!" Pekik Bianca yang langsung memegangi perutnya. Dia kemudian semakin terkejut saat ingat kalau jadwal takut bulanannya sudah terlewat lebih dari 1 minggu.
...*****...
Sore itu Bianca baru saja melakukan tes kehamilan secara diam-diam. Dia bahkan menyuruh asisten rumah tangganya untuk membeli testpack agar tidak di curiga oleh Dirga.
Bianca sengaja ingin memberi kejutan pada Dirga seandainya dia benar-benar hamil.
Sementara itu di ruang keluarga tampak twins sedang bermain dengan Dirga. Mereka juga bercerita banyak hal tentang apa saja yang terjadi di sekolah tadi pagi.
Shelly paling suka berceloteh, dia akan mengerikan apa saja sekalipun itu tidak menarik sama sekali bagi Sky.
"Kamu terlalu banyak bicara Shelly.! Sekarang giliran aku yang bercerita." Potong Sky. Dia menggeser duduknya hingga menempel dengan sang Papa.
Kesal karna ucapannya di potong oleh Sky, Shelly membuang muka dengan menghilangkan kedua tangan di dada. Bibirnya yang menggemaskan tampak mengerucut.
"Nanti Shelly bisa cerita lagi sama Papa. Papa akan mendengarkan sampai Shelly puas bercerita. sekarang gantian Kakak yang cerita." Bujuk Dirga penuh kelembutan. Shelly menganggu patuh meski masih terlihat cemberut.
"Papa, Papa harus memarahi Shelly.! Dia berani mencium pipi anak laki-laki di sekolah.!" Adu Sky.
"Untung saja aku datang dan langsung mendorong anak laki-laki itu.!" Sky mengadu dengan berapi-api. Membayangkan adiknya mencium pipi anak laki-laki, tentu saja membuat Sky kesal.
Shelly langsung melotot menatap Sky karna sudah mengadukannya pada Dirga.
Apalagi saat ini sang Papa sedang menatap ke arahnya. Tatapan yang seolah meminta penjelasan.
"Shelly cuma mau menghibur Dewa , Papa. Dia sedang sedih karna Daddy dan Mommy berpisah." Tutur Shelly sendu.
"Apa Papa kenal pelakor.? Kata teman-teman, Daddy nya Dewa di ambil pelakor."
__ADS_1
Dirga langsung syok, dia menelan ludah dengan susah payah. Dia tidak menyangka anak yang belum genap 5 tahun itu akan melontarkan pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Dia juga menyayangkan istilah pelakor sampai di ketahui oleh anak-anak TK. Padahal Dirga sengaja memasukkan si kembar ke sekolah elite agar tutur bahasanya sopan dan terarah.
"Sayang,, bagaimana kalau kita main di taman belakang.?" Ajak Dirga pada kedua anaknya untuk mengalihkan pembicaraan. Untungnya Sky dan Shelly bersedia di ajak bermain ke taman belakang.