Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 78


__ADS_3

Bianca pov


Aku tersenyum tipis membaca chat dari Mas Dirga. Dia meninggalkan banyak pesan untukku, menyuruhku agar makan siang tepat waktu, meminum vitamin dan susu khusus ibu hamil. Mas Dirga juga menyuruh ku untuk istirahat setelah itu.


Selesai membaca chat tersebut, aku kembali meletakkan ponsel di atas nakas tanpa berniat membalasnya. Karna Mas Dirga bilang kalau dia akan rapat, jadi aku pikir tidak perlu untuk membalasnya. Takut hanya akan mengganggu rapatnya.


Menghela nafas berat, aku kembali mengingat apa yang baru saja terjadi di antara aku dan Mas Agam beberapa jam yang lalu. Dia pasti terluka, aku tau dia tulus mencintaiku. Tapi aku tidak bisa menentang takdir jika memang kami berdua tidak ditakdirkan untuk bersama.


Kehamilanku, perjodohan Mas Agam dengan Arumi, ketidak sukaan Pak Airlangga padaku setelah tau aku memiliki hubungan dengan Mas Agam, semua itu seperti menjadi tanda kalau memang kami tidak bisa bersama.


Akan banyak hal yang harus di korbankan jika aku tetap bersama Mas Agam. Dan tentunya akan melukai banyak orang. Terutama Arumi dan kedua orang tua Mas Agam.


Lalu apa yang akan aku dapatkan jika tetap bersama Mas Agam di atas rasa sakit yang kami torehkan pada mereka.?


Aku hanya akan dihantui rasa bersalah.


Belum lagi pada twins yang nantinya akan hidup terpisah dengan ayah kandungnya.


Bukan hanya Mas Agam saja yang ingin hidup bahagia bersama orang yang dia cintai, aku pun menginginkan hal yang sama. Tapi kalau seperti ini keadaannya, jelas kami sangat egois jika memutuskan untuk tetap bersama.


Suara bel memaksaku beranjak dari kamar. Aku bergegas keluar kamar untuk membukakan pintu.


"Kamu.?" Seseorang yang berdiri di balik pintu membuatku sedikit terkejut. Entah dari mana wanita itu tau kalau Mas Dirga tinggal disini. Rasanya tidak mungkin kalau Mas Dirga sendiri yang memberitahu tempat tinggalnya pada wanita itu.


"Apa kamu sudah tau siapa aku.? Dari ekspresi kamu, sepertinya kamu memang mengenalku." Ujarnya dengan senyum yang tampak di buat-buat dan itu membuatku jengah.


"Aku ingin memberitahu apa yang sudah suamimu lakukan di belakangmu." Tambahnya dengan senyum yang semakin lebar. Senyum itu jelas dipenuhi kepuasan.

__ADS_1


"Kamu nggak ajak aku masuk.?" Meski suaranya lembut, tapi aku merasa muak mendengarnya. Tidak natural dan jelas dibuat-buat.


"Tentu saja, silahkan masuk."


"Kebetulan sekali aku ingin mendengar ceritanya versi kamu, karna aku sudah mendengarnya versi Mas Dirga." Ujarku santai dengan seulas senyum. Aku berusaha bersikap tenang di depan wanita yang kata Mas Dirga bernama Ziva itu.


Menghadapi wanita seperti itu memang harus tenang, tidak perlu menunjukkan amarah ataupun sedikit kekesalan, karna dia justru akan semakin semangat menyalakan api.


Aku mempersilahkan Ziva masuk dan wanita itu mengikutiku. Kami duduk di ruang tamu dengan posisi saling berhadapan.


"Oh ya.? Memangnya Mas Dirga bicara apa tentang hubungan kami.?" Tanyanya. Nada bicara Ziva memang tetap lembut, tapi aku bisa melihat kekhawatiran dibalik sorot matanya. Sepertinya dia terkejut karna aku sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Hubungan.? Mas Dirga nggak bilang kalau kalian punya hubungan." Jawabku.


"Apa kamu percaya.?" Tanya Ziva yang tampak sengaja memancing ku.


"6 tahun lebih aku menjalin hubungan dengan Mas Dirga, mana mungkin aku lebih percaya dengan orang asing.!" Jawabku tegas dan sengaja menekankan kalimat terakhir hingga membuat kedua mata Ziva melotot sempurna.


"Dengan kamu datang menemui ku dan mengatakan semuanya, apa kamu pikir aku akan percaya sama kamu.?" Aku tersenyum meremeh pada Ziva.


"Nggak akan Ziva.! Aku lebih percaya ucapan Mas Dirga." Tegas ku meski aku hanya ingin memancing amarahnya saja dan membuatnya merasa kalah karna gagal memprovokasi.


Sejujurnya aku belum percaya 100 persen dengan semua yang di ucapkan oleh Mas Dirga.


Pasti ada hal yang dia sembunyikan dariku untuk menjaga perasaanku. Mungkin kedatangan Ziva bisa membuatku memahami apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.


"Oh ya.? Tapi mungkin Mas Dirga nggak bilang kalau kami berdua sering ber cinta." Ucap Ziva dengan penuh kebanggaan karna ber cinta dengan suami orang lain.

__ADS_1


"Jadi kalian sering ber cinta.?" Aku pura-pura terkejut dan memasang wajah sendu. Padahal aku sudah tau sendiri dari mulut Mas Dirga tadi malam.


"Ya ampun, ternyata benar kalau Mas Dirga menutupi hal itu darimu." Kali ini Ziva tersenyum lebar dengan mata yang berbinar. Mungkin dia terlampau bahagia karna merasa sudah membuatku terluka dan sakit hati.


"Setiap kali Mas Dirga datang menemui ku, saat itu juga kami berdua selalu ber cinta." Jawabnya lantang. Sekalipun aku tidak yakin dengan Mas Dirga, tapi aku jauh lebih tidak yakin dengan ucapan Ziva.


"Ah tunggu Ziva, sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku lupa Mas Dirga pernah bilang kalau dia hanya melakukannya 2 kali di malam yang sama. Jadi yang benar yang mana.?" Tanyaku santai. Raut wajah Ziva seketika berubah, rupanya dia tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


"Jadi kamu nggak percaya ucapanku.? Kamu pikir aku bohong.?!" Nada bicara Ziva sedikit meninggi. Bagiku reaksi Ziva sudah cukup membuktikan siapa yang berkata jujur dan siapa yang berbohong.


"Aku nggak bilang kalau kamu bohong. Aku hanya bertanya, mana yang benar."


"Karna pengakuan kamu dan Mas Dirga berbeda." Aku bicara selembut mungkin, Ziva pasti akan semakin meradang karna tidak berhasil membuatku terbakar. Nyatanya malah dia yang mulai sulit mengontrol emosi.


"Tentu saja aku yang benar.! Mas Dirga nggak akan mungkin mengatakan yang sejujurnya."


"Kami sering melakukannya, mungkin lebih dari 10 kali.!" Serunya. Aku terkekeh kecil mendengar ucapan Ziva.


"Coba kamu ingat-ingat lagi Ziva, yang ke 3 sampai 10 kali kamu melakukannya dengan siapa.? Yakin dengan Mas Dirga.?" Pancingku sambil tersenyum sinis, tidak peduli dengan reaksi Ziva yang mungkin akan semakin emosi gara-gara ucapanku.


"Apa maksudmu.?!!" Bentaknya tidak terima.


Sudah ku duga, Ziva pasti akan tersulut emosi. Sebenarnya memang itu tujuanku.


"Tanpa aku jelaskan, kamu jauh lebih tau Ziva.!" Ketusku.


"Karna cuma kamu yang tau kebenaran dari ucapanmu itu."

__ADS_1


Ziva tampak mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah menahan amarah.


__ADS_2