
Sejak kembali dari kantor cabang, aku dan Mas Agam seolah mengurung diri di dalam kamar hotel. Selangkah pun kami tidak keluar dari kamar ini. Bahkan kami juga menghabiskan makan malam di dalam kamar.
Tidak ada lagi kecanggungan di antara kami berdua. Kami menikmati kebersamaan dengan obrolan-obrolan ringan. Sesekali Mas Agam membuat pikiranku berkelana akibat ucapan nyelenehnya yang selalu mengarah pada kegiatan ranjang.
"Bagaimana dengan rencana Pak Airlangga.? Mas yakin mau menolak wanita yang sudah di pilihkan Pak Airlangga.?" Setelah cukup lama mengumpulkan keberanian, akhirnya aku mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi siang mengganggu pikiran dan suasana hatiku.
Rasanya tidak rela melihat Mas Agam akan melamar wanita lain, padahal hubunganku dan Mas Agam tidak lebih dari sekedar hubungan terlarang karna aku masih berstatus sebagai istri Mas Dirga.
"Asal kamu yakin akan berpisah sama Dirga, aku akan menolak permintaan Papa." Jawabnya dengan tangan yang merangkul pinggangku dan Mas Agam bergeser mendekat hingga kami duduk tanpa jarak.
Aku bergeming, tak bisa memberikan jawaban apapun pada Mas Agam. Aku juga tak berani memberikannya harapan, meski sebenarnya sangat ini memiliki hubungan lebih dengan Mas Agam.
Berbicara tentang perpisahan dengan Mas Dirga, aku sudah sempat yakin untuk berpisah setelah membalas perbuatannya. Tapi entah kenapa aku merasakan ragu untuk mengakhiri pernikahan ini. Disisi lain, aku juga tidak mau kehilangan Mas Agam.
Egois, aku akui bahwa ini adalah sebuah keegoisanku karna tak mau lepas dari keduanya.
"Bia akan pikiran itu lagi,," Hanya kalimat singkat yang keluar dari bibirku untuk menanggapi ucapan Mas Agam. Aku tak bisa menjanjikan apapun padanya untuk saat ini.
"Jangan jadikan aku sebagai pelampiasan saja, Bia." Mas Agam berbisik ditelinga ku. Tangannya semakin erat melingkar di pinggang, dan sedikit meremasnya.
"Kita bukan remaja lagi, aku yakin kamu mengerti maksudku." Mas Agam memegang pipiku dengan satu tangannya, dia memintaku untuk menatap wajahnya.
Padangan mata kami saling bertemu dan menatap dalam dengan sorot mata berbinar karna sama-sama sedang jatuh cinta. Ya, aku jatuh cinta pada Mas Agam. Begitu juga sebaliknya, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana sorot Mas Agam yang berkabut cinta saat menatapku.
Mas Agam mendekatkan wajah, membuatku reflek memejamkan mata dan pasrah menerima apa yang akan di lakukan oleh Mas Agam padaku.
Berapa detik menunggu, namun tak ada pergerakan apapun setelah itu. Hening, aku bahkan menghitung sampai 3 dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu mau ngapain tutup mata.?" Bisikan Mas Agam di telingaku terdengar sembari menahan tawa. Aku membuka mata dan buat melotot lantaran Mas Agam menertawakan ku setelah itu.
__ADS_1
"Nyebelin iihh.!" Aku mencubit pinggangnya dan langsung beranjak dari sofa. Rasanya benar-benar malu sekaligus bercampur kesal. Tapi belum sempat melangkah pergi, Mas Agam lebih dulu menarik tangan dan pinggangku sampai aku jatuh di pangkuannya.
"Aku cuma bercanda Bia. Jangan marah,," Bujuk Mas Agam dengan suara yang sangat lembut.
Beberapa saat saling diam dengan posisiku yang masih berada di pangkuan Mas Agam, perlahan kami mulai mendekatkan wajah dan menyatukan bibir. Ciuman yang awalnya lembut, kini berubah menuntut dan semakin panas.
Nafasku mulai memburu, begitu juga dengan Mas Agam. Sorot matanya bahkan sudah berkabut gairah. Mas Agam menatapku lekat penuh arti setelah melepaskan pagutan bibir kami.
Aku merasakan tangan Mas Agam bergerak naik dan membuat darahku berdesir saat jemarinya menyentuh salah satu bukit kembarku yang masih terbungkus rapi.
Tatapan Mas Agam semakin dalam, tangannya tak bergerak di atas salah satu bukit ku. Mas Agam seolah sedang meminta persetujuan dariku untuk berbuat lebih.
Gairah dan cinta telah menutup akal sehatku. Aku menganggukkan kepala begitu saja. Mengijinkan Mas Agam menyentuh aset berharga milikku yang sebelumnya hanya pernah di sentuh oleh Mas Dirga.
Aku memejamkan mata saat tangan besar Mas Agam mulai mere-masnya. Tubuhku menegang, ada sensasi berbeda yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Bibirku bahkan hampir meloloskan desa-han saat rem-asan itu semakin intens namun penuh kelembutan.
Hanya dengan rema-san di salah satu bukitku, Mas Agam mampu membuatku melayang.
Aku membuka mata dan menatap Mas Agam saat satu tangannya menyusup di balik piyama yang aku pakai. Tak hanya itu saja, Mas Agam juga menyusupkan tangannya di balik kain yang menutupi bukitku. Ketika tangan Mas Agam bersentuhan langsung dengan bukitku, desa-han itu lolos begitu saja tanpa bisa aku tahan.
"Ahh,, Mas Agam,," Aku meremas punggungnya untuk luapkan rasa nikmat yang menjalar.
Mas Agam mengulum senyum, matanya semak dalam menatapku. Dia terlihat senang melihat wajahku yang sudah memerah karna berkabut gairah, belum lagi dengan desa-han yang baru saja lolos dari bibirku.
Pria gagah itu langsung menyambar bibirku dengan rakus. Kini kedua tangannya sibuk melepaskan kancing piyama ku. Kami semakin menggila, aku bahkan tidak sadar kalau piyama ku sudah terlepas dan terlihat tergeletak di lantai.
Kini tubuh bagian atasku hanya berbalut kain pembungkus berwarna maroon.
"Boleh.?" Tanya Mas Agam dengan kedua tangan yang sudah siap untuk melepaskan pengaitnya di punggungku.
__ADS_1
Tidak ada jawaban lain selain anggukan kepala. Aku benar-benar sudah kehilangan kewarasan.
Tak peduli meski ada Mas Dirga yang masih menjadi suamiku. Karna saat ini sentuhan Mas Agam mampu membuatku gila dan ingin berbuat lebih.
"Mas Agam uughh,,," Aku meremas kuat rambut Mas Agam, bahkan sedikit menekan kepalanya agar Mas Agam semakin dalam menye-sap pucuk bukit yang berwarna merah muda itu.
"Lebih keras Bia, itu sangat seksi." Ucap Mas Agam. Dia memintaku untuk meloloskan desa-han lebih keras lagi. Tentu saja aku mendengarkan ucapannya. Setiap kali Mas Agam memainkan pucuk itu bahkan sesekali menggigit kecil, aku selalu meloloskan desa-han tanpa rasa malu sedikitpun.
"Mas,, jangan,," Aku reflek mendorong wajah Mas Agam karna pria itu hampir membuat jejak kepemilikan di salah satu bukit ku.
Tidak mungkin aku terang-terangan bermain gila di depan Mas Dirga dengan membiarkan Mas Agam meninggalkan jejak di tubuhku.
"Kenapa.? Kamu takut Dirga melihatnya.?"
"Atau takut menyakiti hatinya.?" Mas Agam menatapku penuh selidik. Sorot mata yang tadi berkabut gairah, kini lenyap begitu saja.
Aku bisa merasakan kalau saat ini Mas Agam sedang menahan kekesalan.
"Mas, bukan be,,,
"Nggak masalah Bia, aku mengerti." Potong Mas Agam cepat. Walaupun ucapannya terkesan ingin memahami kondisiku, tapi ekspresi wajahnya berkata lain.
Mas Agam kemudian menurunkan ku dari pangkuannya, dia beranjak dari sofa dan mengambilkan piyama ku yang tergeletak di lantai.
"Sini aku bantu pakaikan." Mas Agam kembali tubuhku dengan posisi membelakanginya. Dia merapikan br-a dan memasangkannya lagi, kemudian memakaikan piyama ku.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dengan rasa bersalah yang menyelimuti karna sudah membuat Mas Agam tampak kecewa padaku.
...****...
__ADS_1