Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 71


__ADS_3

Bianca Pov


Sudah hampir 1 jam aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Semakin di paksa untuk tidur, aku justru semakin gelisah.


Entah kenapa aku jadi seperti ini, tidak bisa tidur karna ingin di peluk oleh Mas Dirga dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang rasanya sudah sangat lama tidak menyegarkan indera penciumanku.


Beberapa kali menggerakkan badan untuk mencari posisi yang nyaman meski tetap membelakangi Mas Dirga, aku tetap tidak menemukan posisi yang nyaman untuk tidur.


Membayangkan berada dalam dekapan Mas Dirga, pasti akan sangat nyaman dan aku bisa tidur dengan nyenyak.


Dulu Mbak Nilam pernah cerita, saat sedang mengandung anak pertamanya, dia selalu ingin menempel pada Mas Akbar dan tidak bisa jauh-jauh dalam waktu yang lama.


Sepertinya aku sedang mengalami apa yang dulu di rasakan oleh Mbak Nilam ketika hamil.


"Kenapa Dek.? Kok belum tidur.?" Suara teduh Mas Dirga memecah keheningan. Aku membalik badan, hanya diam dan menatapnya.


Tidak mungkin aku meminta Mas Dirga untuk memelukku, itu hanya akan membuatku semakin malu padanya.


Setelah bersikap ketus beberapa minggu terakhir dan meminta tidur dalam posisi berjauhan, mana mungkin sekarang aku meminta Mas Dirga untuk mendekat agar memelukku. Apa yang akan dipikirkan oleh Mas Dirga nanti.


"Sudah malem Dek, besok kamu harus ke kantor. Sebaiknya kamu tidur, nggak baik juga buat si kembar kalau kamu tidurnya kemaleman." Ujar Mas Dirga yang masih menatap lekat ke arahku.


Aku menghela nafas pelan, bingung harus bagaimana bicara pada Mas Dirga soal keinginanku yang ingin tidur dalam pelukannya.


Aku tidak yakin bisa tidur kalau keinginanku belum terwujud.


"Sini,, Mau deket sama Mas tidurnya.?" Mas Dirga menggerakkan kepala sebagai perintah agar aku mendekat ke arahnya. Aku rasa Mas Dirga cukup peka dengan apa yang aku inginkan.


perlahan tapi pasti, aku mulai bergeser mendekat. Dan belum sampai di tengah ranjang, Mas Dirga sudah lebih dulu menghapus jarak dengan menempelkan badannya padaku.

__ADS_1


"Kembar pengen tidur dekat Papa ya.?" Tanya Mas Dirga seraya mengusap perutku. Dia seolah sedang mengajak bicara 2 anaknya yang masih di dalam perutku.


"Kamu nggak marah kan kalau Mas peluk kamu.?" Mas Dirga kini beralih tanya padaku dengan suara lembutnya.


Sepertinya Mas Dirga benar-benar tau apa yang di inginkan oleh kedua anaknya. Bahkan dia menawarkan diri untuk memelukku.


Aku langsung mengangguk cepat, karna memang aku sudah menginginkannya sejak tadi.


Aku memejamkan mata saat Mas Dirga menarik ku kedalam dekapannya. Menempelkan wajah di dada bidang Mas Dirga, aku menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang bercampur dengan parfum maskulin miliknya.


"Jangan memikirkan apapun, kamu harus istirahat Dek." Kata Mas Dirga bersamaan dengan usapan lembut di kepalaku. Aku mengangguk, lalu tanpa ragu membalas dekapannya.


Rasanya benar-benar menenangkan. Aku yang tadinya gelisah, kini mulai merasa nyaman dan tenang. Seberapa menit kemudian, kesadaranku mulai berkurang dan aku tidur dalam dekapannya dengan nyenyak hingga membuka mata di pagi hari. Itupun terbangun karna perutku terasa sangat mual.


"Hueekk,,," Aku reflek menutup mulut dengan telapak tangan dan beranjak dari ranjang. Mas Dirga yang masih tertidur sampai kaget melihatku tiba-tiba melepaskan diri dari dekapannya.


"Dek,, kamu kenapa.?" Mas Dirga ikut turun dari ranjang dan berjalan mengikuti ku.


Berdiri di depan closet, aku membukanya dan langsung memuntahkan isi perutku.


"Ya ampun Dek,,," Mas Dirga sudah berdiri di sampingKu dan memijat bagian belakang leherku.


Beberapa kali muntah, aku merasa sangat lemas dan kehilangan banyak tenaga. Bahkan wajahku terlihat pucat saat aku menatap dari pantulan cermin ketika sedang berkumur dan mencuci wajah.


"Sini biar Mas gendong,," Tanpa persetujuan dariku, Mas Dirga langsung mengangkat tubuhku setelah membantuku mengelap wajah dan bibir dari sisa-sisa air.


"Kamu duduk disini dulu,," Katanya begitu mendudukkan ku di sisi ranjang.


"Mas ambilin air hangat dulu buat kamu." Setelah mengatakan itu, Mas Dirga langsung beranjak dari kamar dan kembali dengan membawa air minum.

__ADS_1


"Minum dulu Dek,," Mas Dirga menyodorkan gelas itu padaku.


"Makasih Mas." Aku menerima air minum itu dari tangan Mas Dirga dan langsung meneguknya.


Mas Dirga sangat sigap dan bergerak cepat untuk memberikan apa yang aku butuhkan.


Dalam keadaan hamil seperti ini, aku benar-benar membutuhkan sosok Mas Dirga di sisiku.


...*****...


Aku mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Walaupun aku akan berhenti bekerja, tapi bukan berarti akan berhenti hari ini juga. Perusahaan punya aturan, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku lebih dulu sebelum menyerahkan surat pengundi diri. Jadi saat aku berhenti bekerja, aku tidak meninggalkan sisa pekerjaan untuk sekretaris yang baru.


Aku beranjak ke dapur, sedangkan Mas Dirga sudah lebih dulu pergi ke dapur karna dia yang mandi dan bersiap lebih dulu.


Beberapa makanan sudah tertata di meja makan untuk sarapan kami.


"Sini duduk Dek,," Mas Dirga menarik kursi untukku.


"Tadi Mas ke minimarket depan, beli susu ibu hamil buat kamu. Kemaren kita nggak sempet beli karna mau buru-buru sampai di rumah." Tuturnya. Aku langsung menatap pada gelas ukuran sedang yang berisi susu coklat.


Perasaanku seketika menghangat dengan semua perhatian yang di berikan oleh Mas Dirga padaku. Aku mengakui bahwa Mas Dirga memang paling perhatian dari banyaknya pria yang pernah aku kenal. Itu sebabnya dulu aku menerima cintanya karna terbuai dengan segala perhatian yang diberikan padaku. Perhatian yang tentu saja sangat tulus.


"Mas beli 3 rasa, ada vanila dan strawberry juga. Nanti sore Mas bikinin yang vanila buat kamu." Tuturnya menjelaskan. Aku tersenyum simpul padanya, rasanya sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Mas Dirga.


Setelah duduk di kursi, aku langsung meneguk susu yang di buat oleh Mas Dirga.


"Ini kemanisan Mas,," Ucapku seraya meletakan gelas itu lagi di tempatnya setelah meneguknya sedikit. Rasanya yang terlalu manis membuat perutku kembali merasa mual.


"Maaf Dek, Mas pikir sudah pas. Tadi Mas cobain dan ini manisnya sesuai selera kamu."

__ADS_1


"Sini biar Mas tambahin air hangat lagi,," Mas Dirga langsung meraih gelas susu itu dan beranjak ke dispenser untuk menambahkan air hangat.


Aku jadi merasa bersalah padanya setelah Mas Dirga meminta maaf padaku, padahal dia sama sekali tidak salah untuk hal itu.


__ADS_2