Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 81


__ADS_3

Dirga Pov


Aku berusaha untuk tersenyum di depan Bianca, meski hati terasa sesak mendengar fakta jika selama ini Bianca bekerja sebagai sekretaris pribadi Agam. Membayangkan Bianca bekerja satu kantor dengan Agam saja sudah membuatku cemburu. Kini aku harus menerima kenyataan kalau ternyata selama ini mereka bekerja dalam ruangan yang sama tanpa ada orang lain lagi.


Untungnya saat ini Bianca tidak lagi bekerja dengan Agam.


"Maaf, aku bohong lagi sama Mas." Bianca berucap lirih. Dia menundukkan pandangan, aku tau dia pasti merasa sangat bersalah padaku. Bianca tipe orang yang akan terus menyalahkan diri sendiri jika berbuat kesalahan pada seseorang. Bahkan ketika orang itu sudah memaafkannya, dia masih sulit untuk memaafkan diri sendiri.


"It's okay Dek, Mas paham." Aku menggenggam tangan Bianca, lalu menarik pelan dagunya agar mengangkat wajah untuk menatapku.


"Kamu nggak akan seperti ini kalau tanpa sebab. Semua permasalahan kita berawal dari kebohongan yang Mas lakukan Dek." Ucapku penuh sesal.


Baru pertama kali aku menyesal telah berbuat baik pada seseorang. Harusnya aku tidak perlu menolong Ziva dan berusaha menyenangkan anak Ziva yang merindukan sosok Papanya.


"Maaf. Harusnya Mas yang meminta maaf sama kamu. Walaupun Mas tau kalau sebanyak apapun Mas meminta maaf, nggak akan bisa menghapus rasa sakit kamu." Aku membawa tangan Bianca dan mengecup punggung tangannya. Entah harus dengan cara apa aku menebus semua kekhilafan dan kesalahan yang dengan sadar aku lakukan di belakang Bianca.


"Tapi aku juga salah Mas. Harusnya aku menjaga harga diriku dan tidak melemparkan tubuhku pada pria lain seperti seorang pe la,,"


Aku langsung menempelkan telunjukku di bibir Bianca dan menggelengkan kepala, meminta Bianca agar tidak melanjutkan ucapannya.


Dari sorot matanya yang berembun dan nada bicara yang bergetar, aku tau sangat menyakitkan bagi Bianca untuk menyebut dirinya sebagai pe la cur.


"Jangan bicara seperti itu Dek, Mas yang sudah gagal menjadi suami." Ucapku dengan rasa sesak di dada karna merasa gagal menjadi suami yang baik untuk Bianca.


Buliran bening menetes dari pelupuk matanya. Tubuhnya sedikit bergetar, aku langsung menarik Bianca dalam dekapan.


"Maaf Dek,, Maafin Mas,," Pada Akhirnya aku juga tidak bisa membendung air mataku. Rasanya benar-benar sakit ketika Bianca menganggap dirinya sebagai seorang pe la cur.

__ADS_1


Dia pasti sangat terpukul dan hancur karna merasa bersalah.


Tubuh Bianca semakin bergetar dalam dekapan ku. Tangisnya semakin pecah meski Bianca terlihat berusaha menahan suaranya. Dia juga membalas pelukanku dengan erat dan membenamkan wajahnya di dadaku.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Dek, dan berhenti menganggap diri kamu rendah."


"Bagi Mas, kamu tetap istri yang sempurna dan berharga." Sebisa mungkin aku mencoba menenangkan Bianca. Aku tidak mau dia terus menyalahkan dirinya sendiri dan merasa rendah.


...*****...


Bianca Pov


2 minggu berlalu. Aku sedang menikmati fase mengidam yang bisa dibilang cukup parah. Setiap bangun pagi aku tidak pernah absen ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku.


Belakangan ini, aku juga membenci beberapa makanan yang sebelumnya aku sukai.


Aku juga jadi malas mandi. Lebih sering mandi 1 kali dalam sehari.


Untungnya Mas Dirga bisa menyesuaikan dengan fase yang sedang aku alami.


Dia selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat dan sesudah pulang kantor.


Dan sejak 2 minggu itu pula Mas Agam tak pernah pulang ke rumahnya lagi. Aku rasa dia sudah pindah, atau mungkin tinggal di rumah orang tuanya. Aku bisa mengerti hal itu. Mas Agam pasti enggan untuk melihatku lagi. Seperti aku yang ingin mencari tempat tinggal baru agar tidak lagi di pertemukan.


Apalagi di rumah ini dan rumah Mas Agam telah


menjadi saksi bisu bagaimana kami menjalin hubungan yang tidak seharusnya terjalin.

__ADS_1


"Lagi mikirin apa.?" Usapan lembut di pucuk kepalaku seketika membuat aku mendongak. Entah sejak kapan Mas Dirga berdiri di sebelahku yang tengah duduk di ruang keluarga. Dia membawa segelas susu strawberry di tangannya.


Aku tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala.


"Minum susu dulu,," Mas Dirga menyodorkan gelas itu padaku.


"Sudah selesai kerjaannya.?" Tanyaku seraya menerima segelas susu dari tangannya.


1 jam yang lalu Maa Dirga pamit ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.


"Sudah, tinggal di cek ulang. Tapi masih bisa Mas kerjain besok." Jawabnya dan langsung menjatuhkan diri di sebelahku.


"Tadi temen Mas ngirimin info rumah di jual. Ada 5 rumah tapi di perumahan berbeda."


"Kamu lihat aja, siapa tau ada yang cocok." Kata Mas Dirga setelah merogoh ponsel di dalam saku celana dan mulai mengotak-atik ponselnya.


Keinginanku untuk pindah dari rumah ini memang sudah aku bicarakan pada Mas Dirga lebih dari 1 minggu yang lalu. Karna aku merasa tidak tenang lagi tinggal di rumah ini. Setiap hari selalu teringat akan kesalahanku. Apalagi Mas Agam beberapa kali masuk ke rumah ini, bahkan menginap.


Aku mengambil ponsel dari tangan Mas Dirga saat dia menyodorkannya padaku.


"Perumahannya agak jauh dari kantor, tapi lingkungan dan suasananya lebih bagus di banding perumahan lainnya." Jelas Mas Dirga. Aku hanya mengangguk paham dengan pandangan mata yang fokus melihat foto-foto rumah di ponsel Mas Dirga.


Rumah-rumah itu memiliki luas bangunan yang terlihat jauh lebih besar dari rumah ini.


"Rumahnya luas semua Mas, pasti mahal."


"Aku nggak mau Mas ngajuin pinjaman ke kantor. Lagian rumah ini juga belum laku Mas." Aku langsung mengembalikan ponsel milik Mas Dirga, tidak berniat untuk memilih salah satu rumah itu, meski sebenarnya aku ingin cepat-cepat pindah dan diantara kelima foto rumah itu, salah satunya termasuk rumah impianku.

__ADS_1


"Nggak perlu memikirkan soal itu Dek, yang penting kita bisa cepat pindah dari sini. Mas nggak tega liat kamu sering melamun akhir-akhir ini." Ucapnya sendu. Dia menggenggam tanganku dan mengusap lembut.


__ADS_2