
Agam Pov
Fokusku terpecah, aku tidak bisa konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Sejak Bianca mengatakan bahwa diri sendang mengandung, pikiranku seketika kacau.
Harapan untuk bisa hidup bersama Bianca hanya akan menjadi angan-angan, karna nyatanya Bianca juga meminta untuk mengakhiri hubungan kami.
Aku sendiri sebenarnya tidak yakin jika itu anakku, karna kami baru beberapa hari yang lalu melakukannya dan itupun selalu memakai pengamanan. Bahkan aku tidak merasakan apapun ketika Bianca mengatakan tentang kehamilannya. Yang ada dalam benakku hanya mencari cara bagaimana agar Bianca tetap bisa bersamaku, tak peduli meski itu anak Dirga ataupun anakku.
Beberapa jam berlalu, aku hanya menandatangani beberapa berkas tanpa mengecek ulang isi berkas tersebut. Pikiranku benar-benar kacau dan ingin segera menyelesaikan permasalahanku dengan Bianca.
Aku menoleh pada Bianca, sejak tadi dia sibuk dengan laptopnya tanpa menatap ke arahku sedikitpun. Aku rasa Bianca sudah mantap untuk mengakhiri hubungan kami, terlebih setelah Papa menghina Bianca.
Tidak sabar untuk menunggu jam istirahat tiba, aku memutuskan untuk mendatangi meja kerja Bianca. Kami harus segera membicarakan masalah ini sampai menemukan penyelesaiannya.
"Kita harus bicara Bi,," Aku berdiri di depan meja kerjanya, wanita itu tampak mendongak menatapku. Dia terlihat menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.
"Pekerjaanku masih banyak Mas, aku harus menyelesaikannya karna beberapa hari lagi harus mengundurkan diri." Jawabnya tenang. Sedikitpun aku tidak melihat kesedihan di mata Bianca setelah dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Sepertinya memang dia sudah bertekad untuk mengakhiri semuanya dan kembali pada Dirga.
"Jangan pikirkan soal pekerjaan dulu Bi, pikirkan bagaimana perasaanku.!" Aku sedikit membentaknya.
"Kamu nggak bisa mengakhiri hubungan kita begitu saja.! Sejak awal aku serius sama kamu, aku juga sudah bilang akan memperjuangkan kamu.!"
"Nggak peduli meski aku harus melepaskan semuanya, aku hanya ingin memiliki kamu." Aku meraih tangan Bianca, meski awalnya dia ingin menarik tangannya dari genggamanku, tapi aku menahannya kuat.
"Mas, jangan menutup mata tentang kehamilanku dan ucapan Pak Airlangga." Bianca mendesah lesu.
__ADS_1
"Hubungan kita terlalu rumit untuk tetap bersama." Mata Bianca mengembun. Sepertinya semua ini juga tidak mudah bagi Bianca. Aku bisa melihat kesedihan dalam sorot matanya.
Sejauh ini bukan hanya aku saja yang serius menjalani hubungan terlarang ini, Aku tau Bianca juga serius untuk tetap bertahan bersamaku.
Tapi kehamilannya saat ini memang di luar kuasanya.
"Lalu bagaimana denganku Bi.? Kamu akan membiarkanku terluka karna patah hati kehilangan orang yang sangat aku cintai.?" Aku menatap frustasi, sepertinya tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan Bianca di sisiku.
"Kamu sudah punya Arumi, Mas." Ucapnya lirih.
"Aku rasa Arumi memang sudah ditakdirkan untuk kamu. Dia gadis yang baik dan lucu, hidup kamu pasti akan jauh lebih berwarna jika bersama dengan Arumi." Bianca mengukir senyum teduh, senyum yang justru membuatku terluka karna merasa jika Bianca terlalu mudah melepaskannya dan membiarkan hubungan kami berakhir begitu saja.
"Kenapa bukan kamu saja yang tetap disini Bi.?"
"Kamu bisa bilang pada Dirga kalau mereka anakku. Aku dengan senang hati akan menerima mereka sebagai anakku."
"Itu nggak benar Mas. Sekalipun aku mencintai kamu dan ingin kita hidup bersama, bukan berarti aku akan menghalalkan segala cara."
"Sudah cukup Pak Airlangga menghinaku. Aku nggak mau kedepannya Pak Airlangga akan terus menghina dan membenciku karna sudah membuat anaknya lebih memilih wanita murahan sepertiku dibanding orang tuanya." Suara Bianca bergetar, dia menarik kasar tangannya dari genggamanku.
"Sebaiknya kita akhiri semuanya. Kembali pada kehidupan kita masing-masing."
"Jangan meninggalkan orang tua dan semua yang Mas Agam miliki hanya demi wanita sepertiku." Buliran bening mulai membasahi pipi Bianca. Dia dengan cepat mengusapnya.
"Bianca,! Aku bahkan rela kehilangan semua itu demi kamu.!!" Aku sedikit mengencangkan suara karna tidak tau lagi bagaimana cara meyakinkan Bianca.
__ADS_1
"Tapi aku nggak bisa Mas.! Aku nggak tega memisahkan seorang anak dengan orang tuanya. Aku juga nggak bisa membuat anak-anakku terpisah dari ayah kandungnya."
Aku tersenyum kecut mendengar alasan Bianca yang sudah dia katakan berulang-ulang.
"Nggak perlu menjadikan orang tuaku sebagai alasan Bi.! Aku tau sebenarnya kamu nggak cinta sama aku dan hanya menjadikanku sebagai pelampiasan."
"Kalau memang kamu bersikeras untuk kembali pada Dirga, pergilah.!!" Bentak ku dengan rasa sakit dan amaran yang menjadi satu.
"Kamu nggak perlu menyelesaikan pekerjaan sebelum mengundurkan diri, mulai detik ini aku memecat mu.!"
"Dalam waktu kurang dari 1 jam, silahkan keluar dari ruanganku.!"
"Jangan khawatir soal gaji, aku akan mengirimkan ke rekeningmu. Termasuk uang untuk membayar tubuhmu karna sudah memuaskan ku beberapa hari lalu.!" Tegasku dan berlalu dari hadapan Bianca. Aku memilih keluar dari ruangan karna tidak mau lagi melihat wajahnya yang hanya akan membuatku semakin sakit.
...*****...
Bianca Pov
Perkataan Mas Agam membuatku membeku di tempat. Aku hanya bisa menangis tanpa suara sambil menatap punggung Mas Agam yang semakin menjauh. Dia meninggalkanku di ruangan ini setelah memecat dan menyuruh ku untuk keluar dari ruangan ini.
Aku tidak menyangka Mas Agam akan melontarkan kata-kata yang jauh lebih menyakitkan dibanding hinaan Pak Airlangga.
Dia membuatku seperti seorang pe la cur karna ucapan dan tindakannya yang akan membayarku dengan uang.
Aku bisa mengerti kemarahan dan kekecewaan Mas Agam akan keputusanku, tapi bukan berarti dia bisa meluapkan kemarahannya dengan cara menghinaku setelah apa yang sudah kita lewati bersama.
__ADS_1
"Kamu membuatku. seperti menjadi pelampiasan nafsu sesaat,," Aku tersenyum getir. Hatiku kembali hancur setelah mendengar hinaan dari Mas Agam.