
Dirga Pov
Keluar dari supermarket setelah membeli buah-buahan dan susu untuk Bianca, aku bergegas kembali ke mobil dan buru-buru pulang.
Aku benar-benar merindukan mereka, rasanya sudah tidak sabar ingin mengusap perut Bianca dan merasakan kehangatan yang menjalar ke dalam hati saat menyentuh perutnya.
Bukankah perasaan orang tua tidak pernah salah.? Aku bisa merasakan kebahagiaan dan perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata saat mengusap perut Bianca ataupun sekedar memandangi hasil usg yang ada di ponselku.
Sampainya di rumah, aku berjalan cepat memasuki rumah untuk menemui Bianca.
Kerinduan pada mereka sudah menggebu, tidak sabara rasanya memeluk Bianca dan mengusap perut.
"Dek,, kamu dimana.?" Aku sedikit berteriak dengan berjalan ke arah dapur untuk meletakkan buah dan susu khusus ibu hamil untuk Bianca.
Sampai aku sudah berada di dapur dan meletakkan belanjaan di atas meja makan, Bianca belum terlihat dan belum menyahuti panggilan ku.
Mungkin Bianca masih istirahat di kamarnya, karna aku memintanya untuk istirahat.
Membuka pintu kamar dengan perlahan, Bianca tampak sedang berbaring menyamping dengan posisi membelakangi pintu. Aku melangkah pelan, sebisa mungkin tidak menimba suara agar Bianca tidak terganggu. Dia harus banyak istirahat karna sedang mengandung dua anak sekaligus.
Berdiri di samping ranjang, aku menatap sekilas wajah Bianca yang begitu cantik meski sedang tidur. Aku kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mandi lebih dulu.
Saat keluar dari kamar mandi, Bianca masih tertidur pulas. Aku duduk di sisi ranjang, menatap wajah cantiknya dan perlahan beralih pada perutnya. Ada perasaan yang menghangat dan sulit untuk di untuk di ungkapkan dengan kata. Perasaan itu selalu hadir setiap kali aku mengingat ataupun melihat sesuatu yang berkaitan dengan kehamilan Bianca.
Tanganku reflek mengusap lembut perut Bianca yang masih rata. Aku sangat yakin jika mereka adalah anak-anakku, terlepas Bianca dan Agam yang pernah melakukannya. Tapi aku tidak pernah berfikir kalau mereka darah daging Agam.
"Mas,, kapan kamu pulang.?" Bianca tiba-tiba membuka mata dan langsung mengubah posisi dengan sedikit bersandar pada kepala ranjang.
__ADS_1
"Belum lama Dek." Jawabku seraya mengusap lembut pucuk kepalanya.
"Mas ganggu tidur kamu ya.? Tapi sudah sore, kamu udah mandi belum.?" Tanyaku yang terus memberikan tatapan teduh padanya. Aku hanya ingin membuat Bianca tau kalau aku benar-benar tulus dan sangat mencintainya. Sedikitpun aku tidak mau menunjukkan tatapan mata yang hanya akan membuat Bianca merasa sedih ataupun berfikir buruk.
Bianca menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Aku mandi dulu Mas. Nanti kita bicara setelah ini." Ujarnya dan turun dari ranjang.
"Pelan-pelan aja jalannya Dek." Pesanku sebelum Bianca beranjak ke kamar mandi. Dia hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
...****...
Bianca Pov
Selesai mandi, aku menghampiri Mas Dirga yang tengah duduk di ruang keluarga. Dia tampak fokus mengetik sesuatu di ponselnya.
Aku langsung duduk di sebelah Mas Dirga. Dia langsung meletakkan ponsel di atas meja setelah menyadari keberadaan ku.
"Tadi Mas mampir ke supermarket beli buah-buahan sama susu buat stok dua bulan depan." Tuturnya seraya mengambil piring berisi buah di atas meja.
"Katanya semua buah ini bagus untuk ibu hamil."
"Terutama alpukat, katanya bisa mengurangi mual." Jelasnya sambil menusuk potongan alpukat dengan garpu dan menyodorkannya padaku. Aku sempat diam beberapa saat sebelum menerima suapan buah dari Mas Dirga.
"Mangga dan pisang juga nggak kalah bagus. Banyak kandungan vitaminnya, semoga anak-anak semakin sehat di dalam sini." Mas Dirga menyentuh perut dan mengusapnya pelan. Senyumnya merekah dengan matanya berbinar, aku bisa melihat cinta yang besar dan tulus dari Mas Dirga untuk twins.
"Tadi siang Ziva datang kesini," Lirih ku sembari menatap lekat wajah Mas Dirga. Dia tampak terkejut, gerakan tangannya di perutku seketika berhenti. Mas Dirga terlihat cemas.
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja kan dek.? Apa dia berbuat sesuatu sama kamu.?" Mas Dirga meletakkan piring di atas meja dan langsung menyentuh bahu serta pipiku dengan kedua tangannya. Aku menggelengkan kepala.
"Mas nggak tau kalau Ziva akan senekat ini. Dia sampai tau alamat rumah ini." Mas Dirga tampak frustasi. Dia juga masih terlihat syok.
"Dia membawa testpack garis dua dan bilang sedang hamil anak kamu Mas. Apa itu benar.?!" Tegasku. Aku ingin tau seperti apa jawaban Mas Dirga walaupun aku sudah tau kalau Ziva tidak hamil.
"Jangan percaya Dek, Ziva pasti bohong."
"Dia masih KB saat malam itu terjadi, mana mungkin dia hamil." Mas Dirga menjawab yakin.
"Ziva sendiri yang bilang."
"Kalau kamu nggak percaya, besok kita temui Ziva dan bawa dia ke rumah sakit untuk di periksa." Tatapan Mas Dirga begitu sendu dengan penyesalan. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Malam itu benar-benar di luar kehendak Mas Dek. Ziva sengaja menggoda."
"Mas memang salah, harusnya bisa menahan diri." Mas Dirga menunduk lesu. Dia juga bersikap seperti ini saat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Bianca.
Aku tidak tau harus marah atau sedih mendengar semua pengakuannya. Karna saat aku berkaca, perbuatanku bahkan lebih buruk dari Mas Dirga.
Aku dengan sengaja menjalin hubungan dengan pria lain dsn secara sadar melakukan hubungan intim. Aku bahkan mengulanginya lagi di hari yang berbeda. Cinta dan rasa sakit membuatku terbuai untuk melakukan nikmat sesaat.
"Nggak perlu Mas, aku percaya sama kamu." Aku enggan memperpanjang urusan. Apalagi Ziva ketakutan saat aku memintanya untuk melakukan testpack di sini. Itu sudah cukup membuktikan kalau Ziva memang berbohong.
"Soal pekerjaanku, aku masih menyembunyikan fakta dari kamu Mas." Aku berucap lirih dan tidak berani menatap mata Mas Dirga. Dia belum tau kalau sebenarnya Mas Agam adalah pimpinan di perusahaan itu.
Aku harap Mas Dirga tidak marah setelah mengetahui bahwa selama ini aku menjadi sekretaris pribadi Mas Agam.
__ADS_1