
Ku parkirkan mobil di carport rumah dan bergegas keluar. Sekilas aku melirik Mas Agam yang tengah duduk di teras rumah dengan memakai kemeja lengan panjang namun memakai celana pendek. Sebuah tawa geli hampir saja keluar dari bibirku. Buru-buru ku tutup mulut agar tidak menertawakan penampilan Mas Agam. Sangat rapi dari dari pinggang ke ujung kepala, dan tampak santai dari pinggang ke bawah. Aku rasa Mas Agam mau meeting karna sudah siap di depan laptop.
Ku lihat secangkir kopi dan roti menemani sarapan paginya. Miris sekali, suami di rumah sedang bekerja dengan hanya sarapan roti, tapi istrinya malah pergi dengan pria lain dan bermesraan di tempat umum.
Tapi nasibku dan Mas Agam nyatanya tak jauh berbeda.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja. Nggak usah di tahan-tahan,," Teguran datar Mas Agam membuat terperanjat. Bagaimana dia bisa tau kalau sejak tadi aku menahan tawa.? Sedangkan pandangan matanya tampak fokus pada laptop.
"Ehh,, E,,enggak kok Mas, memangnya apa yang harus di ketawain." Aku mengelak, lalu mulia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah.
"Habis dari mana.?" Pertanyaan Mas Agam membuat langkahku terhenti. Pria yang memiliki kharisma tinggi itu menatap ke atahku.
Ku tatap wajah pria yang kalah tampan dari Mas Dirga, hanya saja kharisma dan pesona yang dia miliki cukup jauh di atas Mas Dirga. Mungkin itu yang membuat Mas Agam terlihat tampan dari segala sudut.
"Ke bandara, habis nganter Mas Dirga." Aku menjawab dengan pikiran yang tak lagi fokus lantaran teringat dengan Mbak Karina. Ingin sekali rasanya mengadukan apa yang aku lihat pada Mas Agam. Mbak Karina harusnya bersyukur memiliki suami setia dan baik sepertinya.
"Dirga mau ke luar kota.?"
Pertanyaan Mas Agam hanya ku jawab dengan anggukan kepala.
"Mbak Karina kemana lagi Mas.?" Jiwa penasaranku muncul. Aku ingin tau Mbak Karina pamit kemana pada Mas Agam.
“Ke Jogja,," Jawabnya acuh.
Aku mengerutkan dahi, jelas sekali Mbak Karina berbohong. Yang aku lihat, Mbak Karina dan pria itu akan melakukan penerbangan dengan tujuan NTT. Mungkin saja mereka berdua akan pergi berlibur.
"Mbak Karina sering pergi ke luar kota, apa Mas Agam nggak pernah curiga.?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Sontak aku langsung meminta maaf padanya.
"Maaf Mas, Bia nggak bermaksud,,,
"Aku suaminya. Aku tau semua yang dia lakukan meski di belakangku." Potong Mas Agam. Dari perkataannya, entah kenapa aku merasa kalau Mas Agam mengetahui perselingkuhan Mbak Karina dengan pria itu.
Tapi jika itu benar, lalu kenapa Mas Agam diam saja dan tidak ada upaya untuk membuat Mbak Karina berhenti bermain gila.
__ADS_1
Apa dia juga memiliki pemikiran yang sama denganku.? Membiarkan mereka puas bermain-main sebelum menentukan keputusan yang terbaik.
Entahlah, hanya Mas Agam saja yang tau.
...*****...
Sore ini aku mulai berkutat di dapur untuk membuat tomyam. Semua bahan sudah aku keluarkan dari lemari pendingin. Aku mulai membuat kaldu udang sembari memotong bahan-bahan yang lain.
1 jam lalu Mas Dirga baru saja menelfonku melalui sambungan vidio. Mengetahui bahwa Mas Dirga benar-benar ke luar kota untuk bekerja, sedikit menepis prasangka burukku padanya.
Setidaknya aku melihat sendiri Mas Dirga satu kamar dengan teman kerjanya itu.
"Ya ampun, pantesan nggak mendidih-mendidih kaldunya." Keluhku saat melihat api di kompor tidak menyala lagi.
Aku bergegas melepas regulator untuk menggantinya dengan gas yang baru. Cukup lama berkutat memasang gas, tapi kompor tak kunjung menyala. Tidak biasanya aku kesulitan memasang gas. Lagipula apa yang tidak bisa aku lakukan sebagai ibu rumah tangga. Mengangkat galon dan mengganti lampu saja aku bisa.
"Sepertinya aku harus meminta bantuan, daripada malam ini gagal makan tomyam." Gumamku seraya beranjak dari dapur. Aku akan meminta bantuan pada tetangga terdekat, siapa lagi kalau bukan Mas Agam. Cuma dia satu-satunya tetangga yang aku kenal. 2 tetangga lainnya malah jarang menampakkan batang hidungnya.
"Permisi Mas,,," Teriak setelah menekan bel. Semoga saja aku tidak menganggu Mas Agam.
"Ya ampun,, paling nggak pake baju dulu dong Mas sebelum buka pintu." Ucapku malu. Mataku jadi melihat tubuh atletis Mas Agam yang di penuhi pahatan otot.
"Takut tamunya keburu pulang kalo pake baju dulu." Suara Mas Agam terdengar santai. Aku tidak menatapnya karna masih memejamkan mata.
"Ada apa Bia.?" Tanyanya.
"Itu mau minta tolong pasangin gas. Tumben susah di pasangnya, nggak nyala-nyala." Keluhku.
"Susah apa nggak bisa.?" Ucapnya dengan nada menyindir.
"Bisalah. Memangnya selama ini siapa yang pasang gas kalo bukan Bia. Mas Dirga paling anti masang gas karna trauma." Jawabku cepat.
"Tolong pasangin ya Mas, Bia lagi masak nih, belum mateng." Aku berbalik badan untuk beranjak, tentunya dengan mata yang masih ku tutup menggunakan tangan.
__ADS_1
"Oh iya tapi pake baju dulu ya Mas." Ucapku mengingatkan. Aku buru-buru pergi tanpa menoleh, entah bagaimana ekspresi dan respon Mas Agam saat aku bicara panjang lebar padanya.
Selang 5 menit Mas Agam datang ke rumah. Aku menyuruhnya masuk dengan berteriak dari dapur.
"Lagi masak apa memangnya.?" Mas Agam muncul di dapur di sertai dengan suara maskulinnya.
"Cuma tomyam, lagi pengen makan yang berkuah." Jawabku. Mas Agam hanya mengangguk, lalu mulai berjongkok di depan dapur untuk memasangkan gas.
"Dirga berapa lama ke luar kota.?" Mas Agam bersuara setelah beberapa saat kami saling terdiam. Aku fokus memperhatikan Mas Agam yang sedang memasang gas. Sepertinya memang ada sedikit masalah sampai Mas Agam juga kesulitan.
"Cuma 3 hari,," Jawabku.
"Susah ya Mas.?" Aku mendekat, memperhatikan Mas Agam yang menepuk-nepuk kepala regulator.
"Kayaknya udah habis dari tadi tapi sama kamu nggak langsung di matiin." Tuturnya.
Setelah itu dia menyalakan kompor lagi dan berhasil.
"Makasih ya Mas." Ucapku senang karna tidak gagal makan tomyam.
"Nggak butuh makasih, butuhnya makanan. Laper nih." Sahutnya dengan candaan.
"Iya siap, nanti aku anterin kalo sudah mateng."
"Lagian emang sengaja bikin banyak buat di bagi sama Mas." Aku bicara sembari melanjutkan memasak.
"Nggak usah di anterin, aku tungguin aja sampe mateng." Dengan santai Mas Agam duduk di depan meja makan. Aku sontak melotot, mana bisa berduaan seperti ini dalam rumah.
"Nggak boleh nungguin di dalem, kalo mau di teras aja. Apa kata orang nanti,," Dengan tegas aku menyuruh Mas Agam keluar.
"Orang yang mana.? Disini nggak ada siapa-siapa lagi. Kita mau ngapain aja juga nggak akan ada yang tau." Jawaban Mas Agam membuatku syok. Bisa-bisanya dia berfikir seperti itu.
"Kayaknya Mas Agam minta di getok pakai penggorengan nih." Aku langsung mengambil wajan, tentu saja hanya untuk menggertaknya saja. Tapi Mas Agam malah terkekeh dan buru-buru kabur.
__ADS_1
"Cantik-cantik galak." Cibirnya sambil menahan tawa.