
3 hari di tinggal Mas Dirga ke luar kota, malam ini dia akan pulang ke rumah. Aku sudah menawarkan diri untuk menjemputnya, tapi Mas Dirga melarang dengan alasan akan pulang sendiri menggunakan taksi karna tidak mau membuatku menyetir malam-malam.
Sebenarnya sulit untuk percaya perkataan Mas Dirga, mengingat apa yang sudah dia lakukan di belakangku. Bisa saja dia melarangku untuk menjemputnya karna wanita itu yang akan menjemput di bandara.
Tapi biar saja, anggap saja aku bodoh dan tidak tau apapun.
Akan aku beri kesempatan pada Mas Dirga untuk bersenang-senang di belakangku, tapi jika waktunya tiba, jangan harap aku akan diam saja setelah apa yang sudah Mas Dirga lakukan padaku selama ini.
Mendengar suara pintu yang terbuka, aku bergegas dari kamar. Meski menyimpan kekecewaan pada Mas Dirga, tapi aku masih menjalani peran dengan baik sebagai seorang istri. Berdandan cantik dan wangi, memakai baju yang bagus dan sesuai selera Mas Dirga, tentu dengan lingerie.
Senyum Mas Dirga tampak merekah saat melihatku keluar dari kamar. Dia meletakkan koper dan paper bag begitu saja sebelum akhirnya menghampiri dan menarik ku ke dalam pelukannya. Mendekap erat, entah berapa kali kecupan mendarat di pucuk kepalaku.
"Mas kangen banget sama kamu Dek,," Ucapnya setelah puas mengecup pucuk kepalaku.
"Aku juga,," Merespon dengan seulas senyum, sulit sekali rasanya tersenyum di tengah-tengah hati yang kecewa. Mas Dirga mungkin tidak bisa melihat jika di balik senyum itu menyimpan kekecewaan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan.
"Besok-besok Mas sekalian ajak kamu aja kalo mau ke luar kota lagi, biar tidurnya ada yang bisa di peluk." Mas Dirga kemudian terkekeh kecil, dia mencubit gemas hidungku.
"Kan sekamar sama temen kantor, kenapa nggak peluk dia aja." Aku berusaha menimpali ucapan Mas Dirga dengan candaan, meski sebenarnya malas berbicara dengan.
"Mas masih normal Dek. Tidur sekamar sama dia aja Mas terpaksa, apa lagi meluk dia." Mas Dirga melepaskan pelukannya, dia mengambil 3 paper bag dan menyodorkannya padaku.
"Ini oleh-oleh buat kamu, kebanyakan cuma makanan khas dari sana." Ujarnya.
__ADS_1
Aku duduk di sofa setelah menerima paper bag itu. Jangan ke luar kota, setiap pulang dari kantor saja Mas Dirga pasti membelikan sesuatu untukku. Terkadang aku bingung dengan Mas Dirga, sikap dan perhatiannya yang besar sudah cukup membuktikan kalau dia sangat mencintaiku, tapi kenapa dia bisa membaginya dengan wanita lain.
Mengeluarkan satu persatu isi di dalam paper bag, aku menatanya di atas meja. Sementara itu, Mas Dirga duduk di sampingku sembari menceritakan kegiatannya selama berada di luar kota.
Aku hanya merespon sewajarnya, tak terlalu antusias seperti biasanya saat sedang berbicara dengan Mas Dirga.
"Mas,, ini mainan siapa.?" Aku syok saat mengeluarkan isi pada paper bag terakhir. Mainan anak laki-laki yang ada di tanganku, seketika mengingatkan aku pada sosok anak yang di suapi oleh Mas Dirga. Tidak salah lagi, Mas Dirga pasti membelikan mainan ini untuknya. Tega sekali dia.
Aku jadi semakin penasaran, siapa sebenarnya anak kecil itu. Bagaimana kalau ternyata anak itu adalah anak kandung Mas Dirga.?
"Itu punya Rehan Dek, dia beli buat keponakannya. Pasti ke tuker sama paper bag punya Mas waktu di pesawat." Dengan cepat Mas Dirga mengambilnya dari tanganku dan memasukkan kembali mainan itu ke dalam paper bag.
"Besok sore Mas anterin ke rumahnya, sekalian mau ambil berkas kantor." Ucapnya tanpa menatap mataku sedikitpun. Bahkan Mas Dirga terkesan menghindari bertatap muka denganku.
"Oh, aku pikir Mas beliin buat siapa gitu,,," Aku tersenyum kecut. Mual sekali rasanya berpura-pura bodoh seperti ini. Mas Dirga pasti tertawa puas dalam hati karna merasa aku sangat mudah di bohongi.
"Pengen sih beli juga, tapi nanti nunggu ada baby di sini,," Mas Dirga mengusap perutku, cukup lama dan membuatku terdiam. Saat itu juga aku merasa kacau dengan kesedihan dan amarah yang tak bisa di bendung lagi, hingga reflek menepis kasar tangan Mas Dirga dari perutku.
Apa yang aku lakukan tentu saja membuat Mas Dirga kaget. Dia menatap bingung ke arahku.
"Dek,, kamu kenapa.?" Suara Mas Dirga sangat lirih penuh kecemasan.
"Aku susah punyak anak Mas.! Jadi nggak perlu bahas anak.!!" Untuk pertama kalinya aku membentak Mas Dirga. Aku kehilangan kendali karna terlalu muak dengan sandiwaranya. Dan setelah sekian lama, Mas Dirga kembali bicara soal anak dan itu membuatku sensitif karna sampai detik ini tak kunjung di beri kepercayaan untuk hamil.
__ADS_1
"Sayang,, kamu itu bicara apa." Dengan penuh kecemasan dari sorot matanya, Mas Dirga menarikku dalam dekapan.
"Mas minta maaf, demi apapun Mas nggak bermaksud seperti itu. Maaf kalau ucapan Mas bikin kamu tersinggung." Nada bicara Mas Dirga penuh rasa bersalah. Aku tau dia tidak bermaksud menyinggung perasaanku, hanya saja situasi saat ini sedang berbeda.
Aku hanya bisa menangis, terisak tanpa suara dengan sakit di dada yang begitu menghimpit.
Apa mungkin karna aku belum memberikan anak untuknya, Mas Dirga sampai hati bermain dengan wanita lain. Bahkan sudah ada anak di tengah-tengah mereka yang entah anak Mas Dirga atau bukan.
Mendorong pelan dada Mas Dirga, aku melepaskan diri dari dekapannya.
"Maaf, aku mau tidur dulu.. Tehnya usah aku siapin di meja makan." Sembari menghapus air mata, aku beranjak dari sofa. Mas Dirga tentu tidak membiarkanku pergi begitu saja, dia menahan tanganku.
"Kamu kenapa Dek.? Cerita sama Mas kalau ada masalah, jangan seperti ini." Pintanya memohon.
"Apa kamu nggak betah tinggal di rumah ini karna sepi.?"
"Apa perlu kita pindah ke rumah rumah lama.?"
Mas Dirga tampak kelabakan melihatku bersikap seperti tadi.
"Nggak perlu, aku senang tinggal disini."
"Aku hanya ngerasa cape, pengen istirahat. Maaf nggak bisa temenin ngobrol malam ini." Aku menarik tangan dari genggaman Mas Dirga dan beranjak ke kamar.
__ADS_1
Aku harus menenangkan diri dengan cara menghindar interaksi bersama Mas Dirga, karna dia yang sudah membuat mood ku berantakan.