Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 45


__ADS_3

Memasuki gedung kantor cabang, aku berjalan di belakang Mas Agam.


Tampak semua karyawan menyapa dengan sopan dan hormat pada anak pemilik perusahaan ini.


Dan beberapa wanita tampak saling berbisik dengan mata yang berbinar saat menatap Mas Agam. Sepertinya aku tau apa yang sedang mereka bisikkan tentang Mas Agam.


Melihat dari raut wajah dan tatapan mereka, sudah jelas kalau mereka mengagumi sosok Mas Agam.


Dengan postur tubuh dan wajahnya, serta sejuta pesona yang di miliki oleh Mas Agam, maka tak heran kalau wanita-wanita itu hampir tanpa kedip menatap Mas Agam. Pria itu memang nyaris sempurna jika di nilai secara fisik. Bahkan ekspresi datar dan dinginnya tak mampu menutupi kesempurnaannya. Justru memberikan kesan maskulin.


"Silahkan masuk Pak Agam, Pak Airlangga dan yang lainnya sudah menunggu di dalam." Ucap seorang wanita yang membukakan pintu ruangan untuk kami.


Mas Agam hanya mengangguk singkat dan bergegas masuk ke dalam.


"Makasih,," Ucapku pada wanita itu sebelum bergegas masuk untuk menyusul Mas Agam.


"Maaf kami sedikit terlambat." Kata Mas Agam pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Aku mengukir senyum pada mereka seraya membungkukkan badan untuk menyapa.


Pak Airlangga tampak menatapku tanpa ekspresi. Pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu kemudian menyuruh aku dan Mas Agam untuk bergabung.


Rapat di mulai, pembahasannya mengarah pada rencana pemindahan perusahaan pusat ke Jakarta dan soal proyek baru yang di tangani oleh perusahaan pusat dan perusahaan cabang.


Aku menyimak dan mencatat poin-poin yang penting.


Pak Airlangga akhirnya menyudahi rapat setelah hampir 2 jam kami berada di ruangan ini.


Satu persatu dari mereka mulai keluar dari ruang rapat, kini hanya tinggal kami berdua dan Pak Airlangga saja di dalam ruangan ini.


"Jadi gimana Gam.? Kamu sudah ambil keputusan.?" Pak Airlangga menatap degan sorot mata tajam. Pembawaannya begitu tenang berwibawa.


"Hmm, aku setuju memegang perusahaan pusat di Bandung." Jawab Mas Agam datar.


"Papa bukan membahas hal itu. Kalau masalah memegang perusahaan memang sudah seharusnya kamu yang mengelola karna cuma kamu satu-satunya ahli waris perusahaan itu." Tutur Pak Airlangga.


"Papa membahas tentang Arumi . 2 bulan lagi dia lulus sekolah. Kedua orang tuanya juga sudah setuju."


Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Pak Airlangga yang menyebutkan nama wanita. Entah kenapa aku langsung paham kemana arah pembicaraan Pak Airlangga.

__ADS_1


"Pah, aku nggak mau bahas itu sekarang." Tegas Mas Agam tanpa merendahkan harga diri Pak Airlangga di depanku. Karna Mas Agam menatap teduh.


"Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi.?"


"kamu selalu menghindar setiap kali Papa membahas tentang Arumi." Nada bicara Pak Airlangga sedikit naik.


"Nanti kita bicarakan lagi. Aku harus ke ruangan kerja" Mas Agam mengakhiri pembicaraan. Dia melirikku seolah memberikan isyarat untuk beranjak dari ruangan ini.


"Agam.! Papa belum selesai bicara.!" Tegas Pak Airlangga dengan tatapan semakin tajam.


"Dua bulan lagi kamu harus melamar Arumi.!" Serunya.


Sejak tadi aku menahan kegelisahan, kini setelah mendengar perintah Pak Airlangga yang menyuruh Mas Agam untuk melamar wanita bermain Arumi, kegelisahanku semakin menjadi. Bahkan ada rasa sakit yang mulai menyeruak dalam dada.


"Pah.!" Tegur Mas Agam tegas. Dia langsung melirikku dan pandangan kami beradu.


Aku mengukir senyum tipis yang di paksakan.


"Maaf Pak, kalau begitu saya pamit keluar dulu." Pada akhirnya aku pamit Pak Airlangga untuk keluar dari ruang rapat.


"Permisi Pak Agam, saya akan tunggu di luar." Aku kembali mengukir senyum padanya dan bergegas keluar dengan membawa berkas di tanganku.


Duduk tak jauh dari ruang rapat, aku seperti raga yang kehilangan nyawa. Pandangan mata menerawang jauh, rasa sakit semakin lebar menyelimuti dada.


Mas Agam diminta untuk melamar seseorang. Membayangkan hal itu membuat hatiku berdenyut nyeri. Sepertinya aku cemburu dan tidak rela melihat Mas Agam bersama wanita lain.


...*****...


Saat ini aku sedang berada di dalam ruangan kerja yang di khususkan untuk Mas Agam selama kami berada di Jakarta.


Sejak keluar dari ruang rapat, Mas Agam tak banyak bicara. Dia hanya menghampiriku dan mengajakku ke ruangan ini.


Aku juga tidak membuka obrolan tentang masalah pribadinya, meski sebenarnya sangat penasaran dengan keputusan Mas Agam tentang permintaan Pak Airlangga.


Aku dan Mas Agam sibuk berkutat dengan laptop masing-masing. Kami hanya bicara sesekali, itupun membicarakan soal pekerjaan.


2 jam berlalu, Mas Agam mengajakku untuk meninggalkan ruangan karna sudah waktunya jam pulang.


"Kita langsung ke hotel saja ya, aku cape." Ujar Mas Agam yang tampak frustasi. Aku mengangguk dan mengikuti langkah kakinya.

__ADS_1


Langkah kami berhenti di depan lift, bersamaan dengan itu, Pak Airlangga juga berjalan ke arah lift.


Aku langsung menyapanya dan tersenyum ramah. Pak Airlangga membalas dengan anggukan dan balas melempar senyum tipis.


"Pikirkan baik-baik ucapan Papa. Jangan terlalu lama mengambil keputusan." Ucapnya seraya menepuk pelan pundak Mas Agam. Saat itu juga aku melihat raut wajah Mas Agam yang semakin frustasi. Pria itu hanya menghela nafas berat dan mengangguk kecil.


...*****...


"Bia mau pesan kamar saja Mas,," Ucapku yang langsung berjalan ke arah resepsionis hotel tanpa menunggu persetujuan dari Mas Agam.


Karna mendengar obrolan Mas Agam dan Pak Airlangga tentang wanita yang bernama Arumi, aku jadi berfikir untuk tidak menginap satu kamar dengan Mas Agam.


"Jangan macam-macam, Bia." Tegur Mas Agam lirih. Dia mencekal pergelangan tanganku dan membawaku menjauh dari meja resepsionis.


"Aku nggak bisa satu kamar sama Mas Agam. Apalagi,,,


"Kenapa.?" Potong Mas Agam cepat.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran.? Bukannya kamu sudah setuju kita satu kamar.?" Mas Agam mencecarku dengan pertanyaan sembari menatap penuh selidik.


"Apa karna obrolan Papa di kantor.?" Tebaknya. Aku tak menjawab, tapi menundukkan kepala karna tak berani menatap Mas Agam.


Aku yakin pria itu sudah tau jawabannya sekalipun aku tak bersuara.


"Jangan di pikirin, aku nggak akan melamar wanita manapun."


"Kamu pasti tau siap wanita yang aku inginkan." Ucapnya teduh. Hal itu membuatku berani menatap Mas Agam. Rupanya pria itu sedang menatapku dengan tatapan dalam penuh cinta.


Tentu saja rasa sakit dan cemburu yang sempat menyelimuti dada, seketika sirna begitu saja setelah mendengar ucapan dan tatapan mata Mas Agam.


Aku langsung menghambur ke pelukannya. Tak peduli dengan status ku. Yang jelas saat ini aku memiliki perasaan yang sama seperti Mas Agam.


"Pelukannya lanjut di kamar aja." Bisik Mas Agam yang kemudian melepaskan pelukanku.


Wajahmu langsung merona, malu pada Mas Agam sekaligus pada orang yang sedang lewat di sana karna memeluk Mas Agam di depan orang lain.


...****...


...Besok libur up....

__ADS_1


__ADS_2