Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 82


__ADS_3

Bianca Pov


Mas Dirga terus meyakinkanku agar aku mau memilih salah satu rumah yang akan dia beli.


Mas Dirga juga menuturkan kalau Pak James sendiri yang akan meminjamkan uang padanya. Jadi tidak akan mengajukan pinjaman dari perusahaan, melainkan di pinjami langsung oleh pemilik perusahaan.


Dan setelah rumah ini terjual, bisa digunakan untuk membayar pinjaman pada Pak James meski tidak bisa untuk menutupi seluruh uang yan akan Mas Dirga pinjam.


Dan pada akhirnya aku menunjuk salah satu rumah yang menarik perhatianku saat pertama kali melihatnya. Rumah yang terlihat sangat nyaman dan teduh dengan kolam renang berukuran 2 x 4 meter di halaman belakang.


"Besok kita bisa langsung survei rumahnya. Barusan marketingnya bales chat. Katanya dia punya waktu besok siang jam 10." Tutur Mas Dirga setelah membaca pesan di ponselnya.


...****...


Pagi itu pukul 8 pagi, aku dan Mas Dirga sudah bersiap untuk melihat rumah yang akan kami beli.


Saat aku keluar dari rumah, sebuah mobil yang sangat aku kenali memasuki carport rumah Mas Agam. Aku menatap ke arah mobil itu karna setelah 2 minggu berlalu, Mas Agam baru kembali ke rumah. Aku pikir dia malah sudah pindah.


Begitu mobil berhenti, seorang wanita turun dari dalam mobil, di susul dengan Mas Agam.


Aku baru mengenali wanita itu setelah dia menoleh ke arahku. Dia tampak terkejut melihatku.


"Tante.? Jadi rumah Tante disini.?" Arumi hendak berjalan menghampiriku, namun Mas Agam menahan langkahnya dengan menahan pergelangan tangan Arumi.


"Ayo masuk.!" Seru Mas Agam yang terdengar ketus. Dia menarik kasar tangan Arumi, tapi wanita itu menarik tangannya.


"Iihh,,!! Apaan sih Om, sakit tau.!" Arumi menggerutu. Dia sempat mengusap sekilas pergelangan tangannya yang tadi di cengkram oleh Mas Agam.


"Aku dengar Tante sudah bersuami, kenapa waktu itu menjalin hubungan dengan Om Agam.?" Dengan ekspresi polosnya, Arumi melontarkan pertanyaan yang mampu membuatku kembali merasa sangat rendah dan memalukan.

__ADS_1


"Arumi.!!" Mas Agam kembali memegang tangan Arumi, tapi kembali di tepis.


"Sebentar Om, aku mau bicara sama Tante Bianca." Ujar Arumi dan bergeser sedikit menjauh dari Mas Agam.


"Maaf ya Tante, waktu itu aku yang mengadukan hubungan kalian pada Papa Airlangga. Mungkin kedengarannya jahat, tapi kami sudah di jodohkan. Ternyata Papa Airlangga langsung menyelidiki Tante setelah aku bilang padanya."


"Aku harap Tante nggak deketin Om Agam lagi, lebih baik Tante kembali saja menjalani hidup dengan suami Tante dan jadi istri yang baik. Jangan,,,"


Arumi menghentikan ucapannya. Tatapan matanya beralih ke belakangku. Dia tampak bengong dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Ya ampun, ganteng banget." Lirih Arumi. Dia mengulum senyum tipis dengan pandangan mata tetap fokus ke arah belakangku.


"Dek,, Ayo masuk,," Suara Mas Dirga membuatku reflek menoleh ke belakang. Ternyata Arumi menatap Mas Dirga yang baru saja keluar dari rumah.


Mas Dirga tampak melirik sekilas ke arah Mas Agam dan Arumi. Dia tidak mengatakan apapun dan memilih membukakan pintu untukku.


"Maaf Arumi,, aku ada urusan." Aku pamit Arumi dan buru-buru masuk ke dalam mobil.


"Jangan dipikirin ucapan anak kecil itu,," Lirih Mas Dirga dengan satu tangan yang mengusap punggung tanganku. Dia melirik sekilas dan kembali fokus menatap jalanan.


"Mas dengar ucapan Arumi.?" Aku menatap serius ke arah Mas Dirga.


Dia mengangguk kecil dengan satu tangannya yang masih mengusap punggung tanganku.


"Aku percaya kamu nggak sengaja dekat dengan Agam, tapi keadaan yang membuat kalian dekat." Ucapnya. Aku menundukkan kepala, sedikit tersentuh karna sejauh ini Mas Dirga selalu berucap lembut padaku dan tidak menghakimiku meski aku sangat salah.


...****...


Mas Dirga membelokkan mobil ke arah taman yang tidak jauh dari komplek perumahan. Taman yang setiap weekend selalu ramai di penuhi penjual makan dan orang-orang yang sekedar ingin jalan-jalan ataupun joging.

__ADS_1


"Mampir kesini sebentar ya Dek. Tiba-tiba pengen rujak buah." Mas Dirga menyengir tipis.


"Kamu pengen makan sesuatu nggak.?" Tawarnya kemudian.


"Belum tau, nanti aku ikut turun aja." Jawabku yang di tanggapi oleh anggukan Mas Dirga.


Kami turun dari mobil dan menyusuri pinggiran taman dimana banyak penjual makanan berjejer di sana. Mas Dirga tampak mengedarkan pandangan, mencari penjual rujak buah yang dia inginkan. Beberapa belakangan ini Mas Dirga memang suka tiba-tiba menginginkan sesuatu. Dari makanan yang sebelumnya tidak pernah dia makan, belakangan suka dia makan. Aku jadi tidak heran saat Mas Dirga tiba-tiba ingin memakan rujak buah.


"Ayo kesana Dek, itu ada rujak buah." Mas Dirga menunjuk ke arah gerobak rujak buah sembari menggandeng tanganku.


Mas Dirga membeli rujak buah itu dan mengajakku makan di taman. Mas Dirga memasukkan mangga muda kedalam mulutnya dan mengunyah dengan lahap. Aku sampai menelan ludah melihat cara makan Mas Dirga. Padahal tadi aku menggeleng saat di tawari rujak itu olehnya.


"Kalau pengen bilang aja Dek,," Goda Mas Dirga dengan menahan tawa. Sepertinya dia melihatku menelan ludah.


Aku tersenyum malu.


"Enak ya Mas.?" Tanyaku.


Mas Dirga mengangguk cepat.


"Mau buah apa.?" Tanya Mas Dirga.


"Mangga,"


Mas Dirga kemudian menusuk buah mangga dan menyuapkannya ke dalam mulutku.


Kami menikmati rujak itu sampai habis tak tersisa. Bahkan sempat berebut potongan buah terakhir.


Mas Dirga sampai menyuruh untuk suit. Walaupun ujung-ujungnya Mas Dirga memberikan potongan terakhir padaku meski dia yang menang suit. Aku tau Mas Dirga hanya sedang mencoba untuk mencairkan suasana setelah beberapa minggu kemarin hubungan kami tidak baik.

__ADS_1


"Daddy,, Daddy,,," Aku mengangkat wajah saat mendengar seorang anak kecil berteriak. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, tampak seorang anak laki-laki berlari ke arah kami. Disusul dengan seorang wanita yang sangat aku kenal dan seorang pria yang juga mengejar anak itu.


Aku menghela nafas pelan, rasanya tidak hanya ingin pindah rumah, tapi pindah dari kota ini untuk membuka lembaran baru.


__ADS_2