Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 85


__ADS_3

Bianca Pov


Mas Agam masih bungkam. Dia membuatku bingung untuk mengatakan apa yang ingin aku sampaikan padanya. Takut jika ucapanku hanya semakin melukai perasaannya. Karna sejauh ini aku masih merasa kalau Mas Agam menaruh kebencian padaku. Terbukti saat beberapa kali tanpa sengaja kami beradu pandang di teras rumah masing-masing. Mas Agam menatapku tajam penuh amarah.


"Terkadang apa yang menurut kita baik untuk kita, belum tentu baik menurut Tuhan." Lirihku.


"Tuhan nggak akan pernah salah menetapkan jodoh dan takdir seseorang."


"Siapapun jodoh Mas Agam nantinya, aku harap dia jauh lebih baik dariku."


"Sekali lagi aku minta maaf,," Aku menundukkan kepala, tulus meminta maaf pada Mas Agam atas semua rasa sakit yang dia terima di luar kehendak ku.


Sejak awal aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkan Mas Agam. Aku sudah yakin untuk menikah dengannya jika sudah bercerai dari Mas Dari. Tapi kemudian Tuhan menganugerahkan ku dua malaikat yang sejak dulu aku tunggu-tunggu dan selalu ku sebut dalam do'a ku. Hingga aku berfikir hubunganku dengan Mas Agam tidak bisa di lanjutkan lebih jauh lagi.


Belum lagi sifat Pak Airlangga yang jelas-jelas tidak menyukai hubunganku dengan Mas Agam. Dia bahkan rela membuang anaknya jika lebih memilihku.


Aku terlalu memaksakan takdir dan kehendak jika tetap melanjutkan hubungan dengan Mas Agam. Akan banyak perasaan orang lain yang harus di korbankan demi kebahagiaan kami berdua yang bahkan belum tentu akan abadi.


"Aku mengerti, kamu boleh pergi." Usirnya dingin.


"Jangan khawatir, aku juga sudah melupakan perasaanku padamu." Mas Agam bicara tegas dan penuh penekanan.


Aku hendak merespon ucapannya, tapi baru sempat mengangkat wajah untuk menatapnya, Mas Agam sudah lebih dulu masuk kedalam rumah dan menutup pintu.


Aku menghela nafas berat melihat respon Mas Agam. Aku berharap kami bisa memahami dan menerima kenyataan dengan lapang dada sekalipun memang tidak mudah. Tapi semua itu juga demi kebaikan kami untuk melanjutkan hidup masing-masing tanpa ada sesuatu yang mengganjal ataupun menghambat kebahagiaan kita nantinya bersama pasang masing-masing yang sudah di tetapkan oleh Tuhan.

__ADS_1


...****...


"Sudah selesai.?" Tanya Mas Dirga saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.


Aku menganggukkan kepala.


"Agam nggak bicara kasar sama kamu kan.?" Mas Dirga menatap cemas.


"Nggak Mas, dia nggak banyak bicara juga. Sepertinya dia masih belum bisa memaafkan ku." Aku tersenyum tipis. Mas Dirga langsung mengusap pundakku dengan lembut.


"Jangan di pikirkan, yang penting kamu sudah meminta maaf."


"Kita do'akan saja supaya dia cepat menemukan wanita yang tepat." Ucap Mas Dirga dengan ketulusan yang terlihat dari sorot matanya.


Aku menganggukkan kepala seraya mengaminkan do'a Mas Dirga.


...*****...


3 bulan berlalu. Aku dan Mas Dirga benar-benar membuka lembaran baru dengan suasana berbeda di rumah yang juga baru kami tempati selama 3 bulan ini. Kami benar-benar sudah memaafkan kesalahan masing-masing dan sekalipun tidak pernah mengungkitnya.


Selama itu pula kami tidak lagi di pertemukan dengan Ziva maupun Mas Agam. Kehidupan kami selama 3 bulan terakhir ini benar-benar fokus pada kebahagiaan kita dan kesehatan twins di dalam kandungan ku.


Setiap bulan kami selalu pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan dan kondisi twins. Kami juga sering menghabiskan weekend dengan pergi berlibur seperti biasanya. Tentu saja hal itu membuat quality time kami semakin mengenangkan.


Pagi ini aku sedang sibuk untuk menyambut kedatangan tetangga dari Jakarta yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Mbak Nilam, Mbak Sita dan Mbak Monik akan datang bersama keluarga kecil mereka masing-masing.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya mereka akan datang menemui ku di Bandung setelah hampir 7 bulan aku tinggal di kota ini.


Dengan beralasan aku akan mengadakan syukuran rumah baru, mereka bersedia untuk datang ke Bandung. Kebetulan anak-anak mereka sedang libur sekolah, jadi bisa mereka ajak.


Sejauh ini aku sengaja belum memberitahukan tentang kehamilanku pada mereka. Aku yakin mereka akan terkejut setelah melihat perutku yang terlihat membuncit ini.


Di usia kehamilanku yang sudah 4 bulan, perutku sudah terbilang sangat besar. Mungkin karna ada dua bayi sekaligus dalam perutku.


"Sudah Dek, kamu duduk aja. Kan ada Bu Reni,," Mas Dirga mengambil pisau dari tanganku. Dia merangkul pundakku dan mengajakku beranjak dari dapur.


"Jangan terlalu cape, kasian anak-anak." Ujarnya penuh perhatian. Padahal aku hanya membantu memotong sayur-sayuran saja dan membereskan 1 kamar tamu beberapa jam yang lalu. Sedangkan 2 kamar yang lain sudah di bersihkan oleh Bu Reni, Wanita berusia 50 tahun yang sudah 2 bulan ini bekerja untuk membatu ku mengurus rumah.


"Gimana badan aku gak makin bengkak kalau nggak di bolehin ngerjain pekerjaan rumah." Keluhku. Aku mencebikkan bibir pada Mas Dirga. Berat badanku benar-benar merangkak drastis. Baru memasuki trimester 2, tapi sudah naik 16kg.


Entah akan sebengkak apa tubuhku jika sudah memasuki trimester ke 3.


Mas Dirga terkekeh, lalu menarik gemas bibirku yang masih mengerucut.


"Nggak masalah, semakin bengkak justru semakin seksi." Bisiknya seraya merubah posisi dengan memelukku dari belakang. Mas Dirga terus menggiring ku sampai mengajak ku masuk ke dalam kamar.


"Iihh,, ngapain ke kamar.?" Protes ku. Tapi Mas Dirga malah meletakkan jari telunjuknya di bibirku dan menutup pintu menggunakan satu kakinya.


"Kelamaan puasa, sekalinya buka nggak cukup makan sepiring." Ujarnya dengan seringai mesum.


Sejak tau aku hamil, Mas Dirga memang berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh ku. Dia terlalu mengkhawatirkan twins, takut terjadi sesuatu pada mereka. Mengingat baru pertama kali aku hamil setelah menunggu lebih dari 3 tahun. Jadi Mas Dirga benar-benar menjaga kandungan ku sekalipun Dokter memperbolehkan kami melakukan hubungan suami istri asal pelan-pelan.

__ADS_1


Dan baru 3 hari yang lalu Mas Dirga berani menyentuhku, itu sebabnya dia terus menempel padaku untuk memintanya lagi dan lagi.


__ADS_2