Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 40


__ADS_3

"Bia,," Jantungku sesaat berhenti berdetak saat tangan kekar tiba-tiba memelukku dari belakang.


"Disini saja, pulang pun kamu sendirian di rumah." Mas Agam berbisik manja. Aku menelan saliva dengan susah payah, berusaha membasahi tenggorokan yang terasa kering. Jantung berdetak kencang saat ini, aku rasa Mas Agam bisa merasakan detak jantung ku yang tak karuan ini.


Pikiran dan hatiku masih bisa sedikit berfikir waras, tapi apa daya, tubuh ini seolah memaksa untuk tetap tinggal.


Aku sudah terlalu jauh melewati batas bersama Mas Agam. Bahkan beberapa menit sebelumnya kami baru saja melakukan ciuman panas setelah makan malam bersama. Dan ciuman itu menjadi ciuman ketiga kami.


Aku seolah menutup mata dengan statusku yang masih menjadi istri Mas Dirga. Atau mungkin gelap mata karna terlalu sakit atas semua kebohongan yang di lakukan oleh Mas Dirga. Lalu berusaha untuk mencari pelampiasan dengan melakukan cara yang sama.


Sepertinya setan mulai merasuki akal sehatku. Aku diam saja saat Mas Agam mengunci pintu rumah dan menahan ku di sini.


Suara gemercik hujan terdengar kian deras.


Mas Agam berjalan mendekat, dia menggandeng tanganku tanpa ada penolakan dariku.


Mas Agam membawaku masuk ke dalam salah satu kamar yang aku ketahui bukan kamar utama. Detak jantungku semakin tidak terkendali. Kegugupan menyelimuti, di tambah dengan pikiran yang menerawang jauh, membayangkan hal yang akan terjadi setelah Mas Agam menutup pintu kamar ini.


"Mas,,,!" Aku menahan langkah saat hampir mendekati ranjang.


"Bukankah kita sudah terlalu jauh.?" Aku gelisah menatap Mas Agam.


"Aku cuma mau di temenin tidur sama kamu, Bia. Janji nggak akan macam-macam." Mas Agam menjawab penuh keyakinan.


Pada akhirnya kami berbaring di atas ranjang yang sama setelah Mas Agam menghidupkan pendingin ruangan dengan suhu rendah.


Mas Agam memelukku dari belakang, membenamkan wajahnya pada ceruk leherku.


"Aku hanya ingin seperti ini, tidur sambil memeluk seseorang yang membuatku tenang dan nyaman. Membuatku bisa melupakan sejenak permasalahan yang nggak ada habisnya." Lirih nya dengan suara dalam yang terdengar tercekat.


Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa Mas Agam sedang berada di titik terlemah.


Aku memejamkan mata, menikmati ketengan dan kenyamanan yang juga bisa aku rasakan dalam. dekapan Mas Agam.


Perasaan ini tentu salah, apa yang aku lakukan juga salah. Tapi tak bisa di pungkiri bahwa kami berdua sama-sama membutuhkan ketenangan dan kenyamanan.


“Jangan terus memikirkan hal-hal yang membuat kamu sakit dan kecewa, Bianca. Kamu berhak bahagia dengan hidupmu." Pelukan Mas Agam semakin erat.


"Lupakan semua rasa sakit hatimu, bukan untuk malam ini saja, tapi setiap kali sedang bersamaku."


"Aku hanya ingin melihat sisi ceriamu, jadi jangan lagi menunjukkan kesedihan di depanku karna itu membuat aku sakit."

__ADS_1


Apa yang baru saja di sampaikan Mas Agam terdengar tulus. Aku terdiam, bingung harus menjawab seperti apa.


...******...


Pagi itu saat aku terbangun, aku hampir saja berteriak karna kaget melihat wajah pria lain yang sedang mendekap ku.


Rasa takut dan cemas seketika menyelimuti. Aku telah melakukan kesalahan besar dengan tidur satu ranjang dengan pria selain suamiku. Meskipun kami tidak melakukan apa-apa selain Mas Agam yang hanya memelukku.


Sesaat aku menatap lekat wajah Mas Agam. Meski dalam keadaan tertidur pulas, pesona dan kharismanya tak luntur sedikitpun.


Aku tak akan menyangkal bahwa aku memang sangat mengagumi sosoknya.


Ku singkirkan tangan Mas Agam dengan perlahan, aku beranjak turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamar. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi. Aku berniat membuatkan sarapan lebih dulu sebelum pulang ke rumah.


...*****...


"Kenapa tadi nggak bangunin aku.?" Tanya Mas Agam saat membukakan mobil untukku.


Kami sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Nggak tega banguninya. Kayaknya pules banget." Jawabku sembari masuk ke dalam mobil. Obrolan sempat terjeda sampai Mas Agam menyusul masuk ke dalam mobilnya.


"Sudah lama aku kesulitan tidur, biasanya selalu tidur tengah malam. Itupun sering terbangun." Jawabnya. Dibalik raut wajahnya yang tenang, entah kenapa aku merasa kalau Mas Agam menyimpan kesedihan saat menceritakan hal itu.


"Ngomong-ngomong, makasih sarapannya."


"Tadi sempat kaget, aku pikir sudah ada istri baru karna sudah ada sarapan saat aku bangun. Tapi ternyata istri tetangga." Mas Agam berucap datar, tapi dia tampak berusaha menahan senyum.


"Memangnya siapa yang memasukkan istri tetangga ke dalam rumah, bisa-bisanya sampai kaget." Jawabku sedikit menyindir dan bibir mencebik.


Mas Agam akhirnya terkekeh, seolah tak bisa menahan tawanya.


"Kamu terlalu menggemaskan,," Mas Agam mengacak pucuk kepalaku seraya melirik sekilas karna dia sedang fokus menyetir.


...******...


"Siapa.?" Tanya Mas Agama, membuatku reflek meletakkan ponselku di sofa tempat kami duduk.


Saat ini aku dan Mas Agama sedang membahas soal meeting dengan kolega yang akan di lakukan setelah makan siang.


"Mbak Sita, temen Bia waktu di rumah lama." Jawabku yang kembali fokus pada berkas di atas meja.

__ADS_1


"Bia udah revisi poin yang ini Mas,," Aku menunjukkan berkas itu pada Mas Agam.


"Kenapa nggak di angkat.?"


"Hha.? Memangnya boleh.?" Antara antusias dan bingung, aku reflek bertanya seperti itu pada Mas Agam. Dan sepertinya ekspresi wajahku sangat memalukan sampai Mas Agam tak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Nggak papa, angkat dulu saja." Katanya seraya mengusap pucuk kepalaku.


"Aku juga mau ke toilet sebentar." Mas Agam beranjak.


Aku tak menyia-nyiakan waktu dsn langsung menelfon balik Mbak Sita.


"Halo Mbak,, maaf tadi Bia nggak sempet angkat telfonnya." Ucapku saat panggilan terhubung.


"Mbak Sita apa kabar.?" Aku terlalu antusias karna sudah beberapa hari tidak berkomunikasi dengan Mbak Sita dan yang lainnya.


"Baik Dek,,"


"Kamu lagi di Jakarta yah.? Kenapa nggak kabarin Mbak.?"


"Terus tadi siapa anak laki-laki yang di gendong Dirga.? Baru beberapa bulan pindah ke Bandung, kamu udah bawa anak aja."


"Pokoknya pulang dari mall kamu harus mampir loh ke rumah Mbak.!"


"Tadi Mbak panggilin kamu sama Dirga tapi kayaknya nggak denger, malah buru-buru pergi."


"Sekarang Mbak udah di rumah."


"Inget ya, kamu harus main kesini.!"


Aku terpaku, pikiranku langsung mengarah pada Mas Dirga dan perempuan serta anak laki-laki itu.


Mas Dirga benar-benar keterlaluan, dia pergi ke Jakarta bersama wanita itu, tapi menggunakan alasan urusan pekerjaan.


"Halo Dek Bianca.? Kok diem aja.? Kamu denger Mbak ngomong kan.?"


"Ehh,, iya Mbak. Kami buru-buru Mbak, harus pulang lagi ke Bandung. Nanti weekend aku janji akan ke Jakarta."


"Bia minta maaf nggak bisa main sekarang."


Dengan berbagai alasan, aku berusaha membuat Mbak Sita agar tidak curiga.

__ADS_1


Untungnya Mbak Sita bisa mengerti.


__ADS_2