Selimut Tetangga

Selimut Tetangga
Bab 7


__ADS_3

2 bulan berlalu sejak aku dan Mas Dirga menempati rumah ini. Hari-hariku terasa membosankan karna tidak memiliki aktivitas di luar rumah. Tidak ada teman mengobrol dan sharing. Tetangga sebelah benar-benar sibuk sebagai wanita karier. Bahkan selama 2 bulan ini, bisa di hitung hanya 4 kali saja aku dan Mbak Karina bertegur sapa. Dia jarang di rumah, selalu pergi ke luar kota karna pekerjaan. Berbeda dengan suaminya yang justru lebih banyak berada di rumah walaupun aku juga bisa lihat kalau Mas Agam sibuk bekerja dari rumah.


Hampir setiap hari aku melihat pemandangan dari kesibukan Mas Agam yang selalu duduk di teras rumah dengan laptop yang menyala. Bukan hanya itu saja, aku juga sering melihat pria yang usianya 3 tahun di atas Mas Dirga itu sering menerima telfon dengan membahas masalah pekerjaan.


Tidak maksud menguping, hanya saja suara Mas Agam sampai terdengar ke ruang tamu ku.


Rutinitas pagi ini tidak berbeda dengan rutinitas biasanya. Setelah memasak untuk sarapan dan bekal Mas Dirga, aku membersihkan rumah dan mencuci baju.


Sementara itu Mas Dirga sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. Tak berselang lama, Mas Dirga keluar dari kamar. Tubuh gagahnya yang di balut kemeja sesuai dengan tubuhnya, menonjolkan otot-otot di bagian lengan dan dada.


Kadang terselip kecemasan dalam diri karna memiliki suami tampan dan gagah seperti Mas Dirga. Takut di luar sana banyak wanita-wanita nakal yang mencoba untuk menggoda. Tapi mengingat Mas Dirga yang sejak dulu tidak pernah macam-macam, aku jadi menepis kecemasan itu dan berusaha berfikir positif.


"Hari ini aku pulang malam ya Dek." Ucap Mas Dirga tanpa menatap ke arahku. Dia malam menyambar secangkir teh di atas meja dan meneguknya.


"Lagi.?"


Gumamku kecewa. Aku hanya bisa membatin tanpa bicara langsung pada Mas Dirga. Karna aku tau itu bagian dari tuntutan pekerjaan. Tapi apa harus pulang malam hampir setiap hari.?


Sudah 3 minggu terakhir Mas Dirga selalu pulang malam, aku jadi semakin kesepian saja di rumah.


"Kenapa, kok sedih gitu mukanya.?" Mas Dirga mendekat, menangkup kedua pipiku dan mendaratkan kecupan di bibir.


"Maaf ya, akhir-akhir ini Mas pulang malam terus. Mau ada proyek baru, jadi di kejar deadline."


"Harus segera di selesaikan sebelum 2 bulan." Penjelasan Mas Dirga hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Karna apapun alasannya, aku tetap sedih dan tak mau mengerti. Aku hanya ingin butuh banyak waktu bersama Mas Dirga.


"Nggak papa kok Mas." Jawabku acuh. Entah kenapa tiba-tiba jadi tidak mood bicara dengannya. Padahal biasanya aku selalu antusias berbicara dengan Mas Dirga.

__ADS_1


"Bekalnya udah aku taro di mobil ya."


Mas Dirga mengangguk, seperti biasa selalu berterimakasih padaku karna sudah menyiapkan semua keperluannya.


Aku mengantar Mas Dirga sampai di teras rumah. Selalu ada ritual cium tangan dan cium kening.


"Hati-hati ya Mas,," Ucapku seraya melambaikan tangan pada Mas Dirga yang mulai melajukan mobilnya.


Berdiri mematung di tempat, ku tatap mobil Mas Dirga yang semakin menjauh dan tidak terlihat lagi dari pandangan mata.


Firasat apa ini.? Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiranku selepas mengantar kepergian Mas Dirga ke kantor.


"Jangan ngelamun, masih pagi." Suara maskulin itu membuat lamunanku buyar. Aku tersenyum tipis setelah menoleh ke arahnya. Lagi-lagi Mas Agam keluar dengan membawa laptop dan duduk di teras.


"Mbak Karina belum pulang Mas.?" Tanyaku basa-basi. 3 hari yang lalu aku bertemu dengan Mbak Karina saat dia akan pergi ke bandara. Dia bilang katanya mau pergi ke Bali.


"Kalau belum 1 minggu nggak akan pulang." Jawab Mas Agam. Raut wajahnya terlihat malas, atau mungkin kesal. Entahlah.


"Bia punya stok selai nggak.? Di dapur cuma ada roti, kehabisan selai nih."


"Mau ke depan tanggung, sebentar lagi meeting." Ucapnya panjang lebar. Mas Agam tampak santai saja saat menanyakan selai padaku. Tidak terlihat canggung ataupun malu. Mungkin karna sudah kepepet, dan perut harus segera di isi sebelum meeting.


"Maaf Mas,, Bia nggak pernah nyetok selai, soalnya Bia sama Mas Dirga nggak suka makan roti." Jawabku tak enak hati. Tapi memang benar-benar tidak ada. Mas Dirga lebih suka makanan berat.


"Santai aja, nggak perlu minta maaf." Katanya kemudian tersenyum tipis. Mas Agam beranjak dari duduknya, sepertinya dia akan ke dapur untuk mengambil roti. Karna tadi hanya membawa laptop dan kopi saja.


"Sebentar Mas, Bia masih punya nasi goreng seafood. Kebetulan tadi bikin banyak." Ucapanku menghentikan langkah Mas Agam.

__ADS_1


"Nggak alergi seafood kan.?" Tanyaku.


Mas Agam hanya diam saja, tapi menjawab dengan gelengan kepala. Pria itu menatap lekat dan membuatku merasa canggung.


"Bia ambilin dulu ya nasi gorengnya." Aku buru-buru masuk ke dalam rumah, tak mau berlama-lama saling pandang dengan Mas Agam.


Sampainya di dapur, aku menuangkan semua nasi goreng di penggorengan ke dalam piring.


Aku jadi merasa kasihan pada Mas Agam. Keadaannya benar-benar berbanding terbalik dengan Mas Dirga.


Berbeda dengan Mas Dirga yang hampir semua keperluan dan kebutuhannya di siapkan olehku, Mas Agam justru menyurus dirinya sendiri. Untuk sarapan dan membuat kopi saja harus di lakukan sendiri karna Mbak Karina jarang ada di rumah.


Ku hampiri Mas Agam yang sudah fokus di depan laptop. Sebenarnya agak canggung, tapi mencoba santai.


"Maaf Mas, ini nasi gorengnya. Semoga cocok di lidah Mas Agam." Kataku sembari meletakkan piring di atas meja.


"Makasih Bia. Jadi enak nih,," Ucap Mas Agam dengan candaan. Dia lansung menyambar piring nasi goreng itu dan mengambil sendok di atas meja. Rupanya Mas Agam sudah menyiapkan sendok.


"Sama-sama Mas." Jawabku sambil menatap Mas Agam yang langsung menyendok nasi goreng buatanku dan melahapnya.


"Enak. Kamu bikin sendiri.?" Mas Agam berkomentar setelah memasukkan suapan pertama ke dalam mulut. Dia bicara padaku, tapi tangan dan matanya fokus pada nasi goreng dan kini sudah memasukkan suapan kedua kedalam mulutnya. Aku sampai tidak bisa membedakan antara lapar atau memang enak.


"Iya Mas, bikin sendiri. Mas Dirga suka banget sama nasi goreng seafood, jadi hampir seminggu sekali aku masak nasi goreng." Jawabku panjang lebar. Hanya sekedar memberitahu saja, tapi sepertinya Mas Agam tidak tertarik dengan perkataanku.


"Besok-besok kalau bikin nasi goreng lagi, bolehlah di kirim kesini." Katanya sambil terkekeh.


"Iya Mas, siap." Aku mengiyakan walaupun tau Mas Agam hanya bercanda.

__ADS_1


"Jangan di anggap serius Bia, aku cuma bercanda." Ucapnya.


Aku hanya tersenyum tipis, setelah itu pamit pulang.


__ADS_2