
Tubuhku menegang. Hi Sa pan di pucuk berwana merah muda itu mampu membuatku melayang. Aku reflek menekan dan meremas rambut Mas Agam dan berharap dia akan semakin dalam meny -esapnya. Aku tak ragu untuk meloloskan desa-han. Karna setiap kali aku selesai men de sah, Mas Agam semakin bersemangat memberikan kenikmatan padaku.
Suhu di dalam kamar mandi kini meningkat. Aku mulai kepanasan seiring dengan gairah yang kian menggebu.
Mas Agam benar-benar membuatku lupa akan statusku. Dia hanya mengingatkan ku akan rasa nik mat yang mampu mengalahkan logika.
Kini tubuh bagian atasku sudah di buat polos oleh Mas Agam. Piyama dan br-a milikku tergelak begitu saja di lantai kamar mandi.
Mas Agam terus bermain di bukitku seolah tak pernah puas memainkan dan meng hi sapnnya.
"Mass,," Mataku membulat sempurna, sedangkan tanganku mencekal pergelangan tangan Mas Agam yang menyusup ke celanaku. Bahkan ujung jarinya sudah menyentuh area lembah di bawah sana. Sekalipun aku menginginkan lebih, tapi rasanya takut untuk memulainya.
"Kenapa.? Kamu mau aku berhenti.?" Tanya Mas Agam. Dengan santai dia menarik tangannya keluar dari dalam celanaku.
Harusnya aku senang karna tidak bertindak terlalu jauh, tapi sayangnya aku malah kecewa saat Mas Agam mengeluarkan tangannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Mas Agam, aku langsung menyambar bibirnya. Kedua tanganku di kalungkan pada leher Mas Agam hingga aku semakin leluasa menciumi bibirnya.
Nyatanya aku tidak bisa menahan gejolak dan rasa nikmat akibat perlakuan Mas Agam.
Dalam keadaan tubuh yang sama-sama polos, Mas Agam menggendongku keluar dari kamar mandi dan membaringkan ku di ranjang dengan hati-hati.
Dia langsung mengungkung ku dan kembali memberikan serangan yang mampu membuat gairahku semakin memuncak.
Aku benar-benar sudah kehilangan akal sehat dan menjadi sangat murahan karna membiarkan tubuhku di sentuh pria selain Mas Dirga.
"Ahh Mas Agamm,," Aku meremas kuat rambut Mas Agam sedang berada di bawah sana. Dia membuatku gila dengan permainan lidahnya.
...**...
"Bia,, are you okay.?" Mas menyentuh lembut pundakku. Saat ini aku sedang berbaring membelakanginya. Baru beberapa menit yang lalu kami merengkuh kenikmatan dengan penyatuan untuk pertama kalinya.
Kenikmatan sesaat itu telah membawaku pada kegelisahan dan rasa bersalah pada Mas Dirga.
Meski Mas Dirga yang memulainya lebih dulu dengan menghancurkan kepercayaan dan hatiku. Tapi jauh dalam lubuk hatiku, aku masih memikirkan perasaan Mas Dirga.
Aku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Perasaanku benar-benar kacau setelah melakukan kegiatan panas bersama Mas Agam.
__ADS_1
"Maaf,," Mas Agam berucap dalam.
"Apa kamu menyesal.?" Tanyanya lirih. Mas Agam sampai menyingkirkan tangannya dari pundakku.
"Bia mohon jangan bahas sekarang Mas,," jawabku lemah.
Obrolan ini hanya semakin membuatku gelisah.
Aku bisa mendengar Mas Agam menghela nafas berat. Beberapa saat kemudian aku merasakan pergerakan di atas ranjang. Rupanya Mas Agam turun dari ranjang.
"Aku pesan sarapan dulu,," Kata Mas Agam yang berjalan meraih telfon untuk memesan makanan.
Aku hanya diam saja memperhatikan dan mendengarkan Mas Agam yang sedang menelfon.
Begitu selesai, pria itu tampak berjalan ke sudut ranjang dan menunduk untuk mengambil bekas pengaman yang tadi dia pakai.
Aku membuang pandangan saat tak sengaja tatapan mata kami beradu.
Mas Agam berlalu tanpa mengatakan apapun, dia memasukan bekas pengaman itu ke dalam tempat sampah. Lalu tubuh tegapnya yang hanya memakai celana pendek, menghilang di balik pintu kamar mandi.
Seketika aku ingat dengan obrolan kami sebelum milik Mas Agam menyatu denganku.
"Kamu yakin Bi.? Aku nggak akan meminta apalagi memaksa. Tapi aku nggak akan menolak kalau kamu yang menginginkannya."
Saat itu Mas Agam berusaha keras meyakinkanku agar aku tidak salah mengambil keputusan. Tapi tanpa berfikir berulang kali, aku meminta Mas Agam untuk melakukannya.
Aku sedikit terperanjat ketika Mas Agam turun dari ranjang dan meraih dompetnya di atas nakas.
Mas Agam mengeluarkan pengaman dari dalam dompetnya. Sontak membuatku berfikir kalau Mas Agam sudah berencana untuk melakukan kegiatan terlarang itu denganku.
Saking terkejutnya, Mas Agam bahkan tau apa yang ada di dalam pikiranku.
"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan Bi." Katanya sembari melirik pengaman di tangannya. Padahal aku tidak mengatakan apapun saat itu.
"Kamu tau kita bukan anak kecil. Kedekatan antara wanita dan pria dewasa sudah pasti berbeda dengan kedekatan seorang anak kecil."
"Aku membawa ini untuk berjaga-jaga saja."
__ADS_1
"Kalau sekarang kamu berubah pikiran, aku nggak keberatan berhenti detik ini juga."
Mas Agam menjelaskan panjang lebar. Dia duduk di sisi ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosku.
Aku bisa memahami semua perkataannya dan bisa menarik kesimpulan jika Mas Agam tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Sebagai pria dewasa, aku yakin sulit untuk mengendalikan diri jika sudah dalam situasi seperti ini. Tapi Mas Agam hanya akan melakukannya jika mendapatkan persetujuan dariku.
...******...
Aku kehilangan konsentrasi saat sedang menyelesaikan pekerjaanku. Bayangan kegiatan panas ku bersama Mas Agam terus berputar-putar di kepala.
Aku tidak menyangka bisa melakukan hal segila itu dengan Mas Agam.
"Berhenti melamun Bia.! Selesaikan dulu kerjaan kamu. Papa sudah menunggu hasilnya." Teguran Mas Agam membuatku terperanjat.
"Maaf Mas,," Lirihku. Mas Agam tak menjawab, pria itu hanya menghela nafas.
Aku mencoba untuk fokus dan bergegas menyelesaikan laporan hasil rapat beberapa jam yang lalu.
"Kalau sudah selesai, kamu print dan bawa keruangan Papa." Mas Agam kembali bersuara setelah lebih dari 30 menit kami sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.
"Iya Mas,," Aku beranjak dari mejaku untuk mengerjakan perintah Mas Agam.
Setelah mencetak laporan yang aku buat, aku pamit pada Mas Agam dan pergi ke ruangan Pak Airlangga.
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu setelah diijinkan masuk.
"Siang Pak," Aku mengukir senyum tipis seraya membungkukkan badan padanya. Pak Airlangga tengah duduk di sofa dan memegang berkas ditangannya.
"Duduk.!" Ujarnya tegas. Aku mengangguk kemudian duduk di seberang Pak Airlangga.
Aku menyodorkan hasil kerjaku dan sedikit memberikan penjelasan pada ya.
"Sudah berapa lama.?!" Aku sedikit tersentak mendengar suara tegas itu. Kini aku menatap bingung.
"Maaf Pak, maksudnya bagaimana.?" Keningku berkerut. Aku tidak paham dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan putra saya.?" Pak Airlangga menatap tajam penuh selidik. Saat itu juga tubuhku terasa kaku dan tenggorokan seketika kering.
Aku gelagapan menjawab pertanyaan Pak Airlangga.