
***
Rindu masih tenggelam dalam kegelisahannya. Raut cemas dan ketakutan terlihat di wajah cantiknya. Tangisan telah berhenti, Ardian mengusap punggung tangan wanita itu dan memberi energi positifnya. Pria itu akan berusaha membuat Rindu senyaman mungkin. Setelah sedikit tenang Ardian pun mengajaknya makan.
Namun, Rindu sama sekali tidak berselera untuk makan. Ardian terus membujuk agar wanita itu mau makan walaupun sedikit. Hanya dua suapan, Rindu pun berhenti mengisi lambungnya. Ardian menghela nafas berat, jika begini Rindu masih memikirkan kecemasannya.
"Kenapa nggak kamu habiskan, Rin?"
Rindu menggeleng dan tertunduk menjawab pertanyaan Ardian.
Ardian mengusap punggung tangan Rindu. "Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang," ucapnya lirih.
Mata wanita itu langsung berbinar, dia sangat berharap bisa pulang secepatnya. Untung Ardian paham, dia sangat merindukan Kanaya. Belum pernah sekalipun Rindu berpisah dari putri kecilnya itu. Setelah melahirkan, Rindu selalu mengurus segala keperluan Kanaya sendiri. Mantan ibu mertuanya pernah sekali datang membantu, itu pun hanya selama tiga hari saat Rindu selesai melahirkan. Ayahnya Kanaya juga selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jadi Rindu belum pernah sama sekali meninggalkan putrinya itu tidur tanpanya. Hanya setelah dia bekerja Kanaya menjadi terbiasa tinggal dengan Dahlia, tidak pernah rewel sama sekali. Berbeda ketika diasuh mantan mertuanya.
"Terima kasih," sahut Rindu singkat dan dia bergegas pergi mengambil barang. Senyuman kecil terulas dari bibirnya.
Beberapa saat kemudian Rindu kembali dari kamar membawa tas dan satu paper bag berisi pakaian yang kemarin. Ardian segera membersihkan meja dengan cepat tanpa mencuci piring bekas makanan mereka. Ardian tak ingin membuat Rindu menunggu lebih lama lagi.
***
Di dalam mobil, sesekali Ardian memperhatikan raut wajah wanita yang duduk di bangku penumpang sebelahnya. Sambil dia tetap fokus mengemudi, Ardian juga harus memastikan Rindu baik-baik saja. Pujaan hatinya itu terlihat termenung sejak tadi.
"Rin, apa yang kamu pikirkan?"
"Nggak ada, aku hanya merindukan gadis kecilku," ucap Rindu lemah tanpa melihat lawan bicara. Pandangan hanya lurus ke depan.
Ardian terdiam sejenak. "Rin, kamu masih memikirkan video itu? semua berita sudah hilang, jadi kamu nggak usah khawatir lagi, ya!"
"Terima kasih," jawab Rindu singkat.
"Aku berjanji akan melindungi kamu dan Kanaya."
__ADS_1
"Aku nggak akan menerima janji, Ardi. Karena setiap janji yang diucapkan akan hilang. Bisa saja suatu saat lenyap bagaikan buih."
"Baiklah, aku tidak akan berjanji, tapi aku pasti akan melindungi kalian dengan segala kemampuan yang aku punya," ucap Ardian kemudian meyakinkan wanita itu.
"Hmm … itu lebih baik, terima kasih." Nada bicara Rindu lemah dan tidak bersemangat. Meski dia tau Ardian tulus atas ucapan yang pertama, Rindu sengaja tidak menerima. Dia hanya tidak ingin membebankan Ardian akan sebuah janji.
Seberapa banyak penderitaan yang pernah Rindu alami? Sehingga dia tidak lagi percaya pada sebuah kata 'janji'. Itulah yang Ardian pikirkan setelah ucapan Rindu tadi. Ingin sekali Ardian memeluk erat dan menggenggam tangan wanita yang dicintainya ini. Ardian ingin segera mengikat ke dalam sebuah ikatan dan membawa dalam kebahagiaan untuk seumur hidupnya.
Sesampainya di tempat tujuan, mobil Ardian berhenti di pekarangan rumah Rindu yang tidak berpagar. Rindu bergegas ingin keluar dari mobil. Ardian menahan tangannya saat wanita itu menurunkan satu kakinya.
"Rin, sebentar … aku ingin mengatakan sesuatu."
"Hmm, ada apa?" Rindu pun menoleh.
Pria itu mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya sejengkal, dia berbisik. "Aku sangat mencintaimu. Duniaku adalah dirimu. Walaupun kamu tidak dapat melihatku, aku tetap ada. Menjaga duniaku tetap indah adalah tujuan hidupku. Jadi jangan menghilangkan aku dari duniaku, ya!"
Rindu tersentak, ucapan Ardian membuat tubuh dan hatinya bergetar seketika. Terasa kehangatan dari setiap kata yang terucap. Getaran hatinya seketika menjalar ke seluruh tubuh.
"Ingatlah ini, tetap tenang dan tersenyumlah!" Ardian membelai pipi wanita itu dengan lembut.
Dengan hatinya yang masih berbunga-bunga Rindu masuk ke rumah dan berteriak memanggil sang buah hati.
"Naya, bunda pulang, Sayang. Cantik bunda ada di mana, ya?"
Dari kejauhan dia mendengar sayup-sayup suara gadis kecilnya, Rindu segera menghampiri. Dahlia dan Kanaya sedang berada diruang keluarga, dengan berlari kecil dia menyongsong putri kecilnya yang berlari ke arahnya. Gadis kecil itu ditangkap dan dibawa ke dalam dekapan, pipi dan seluruh wajah diciumnya bertubi-tubi.
"Muachh, muachh. Sayang, bunda kangen …."
"Naya juga kangen, Bunda." Gadis kecil itu melonjak kegirangan ketika melihat wajah sang bunda.
Dahlia terlihat bahagia akan susana itu. "Bagaimana perjalanannya, Rin?" tanya wanita paruh baya itu kemudian.
__ADS_1
"Semua lancar, Ma," jawabnya terpaksa berbohong, dia tidak ingin mengejutkan mamanya dengan kemunculan Ardian yang tiba-tiba.
Sesaat kemudian Dahlia terpaku melihat sosok pria yang ikut masuk keruangan keluarganya. Rindu melihat ke arah tatapan mata mamanya dan tersenyum.
"Ma, Itu Ardi. Mama masih ingat, kan?" tanyanya lembut.
Dahlia mengerutkan keningnya dan menyipitkan mata, pria itu tersenyum kepadanya. Ardian mendekat agar mama dari wanita yang dicintainya bisa melihat lebih jelas. Dahlia adalah sosok ibu yang sudah dianggap seperti mamanya sendiri.
"Apa kabar, Ma? Mama masih ingat aku?" Ardian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Ya Tuhan, Ardi ... ini kamu?" Dahlia tak percaya bisa bertemu lagi dengan anak laki-laki yang dulu sering datang ke rumahnya. "Kamu kemana saja? Kenapa tidak pernah main kesini lagi?"
Dahlia menepuk-nepuk pundak Ardian, tepukan sayang yang sering dia lakukan dulu. Dahlia bahkan sering memarahi anak itu layaknya marah dengan anak sendiri. Wanita itu adalah sosok ibu Cerewet tapi penyayang, dan sifat itu diturunkan pada anaknya—Rindu.
"Ayo duduk dulu, Nak Ardi."
Kanaya yang sedari tadi ada di gendongan Rindu tiba-tiba berbicara. "Ayah, Ayah." Tunjuknya pada Ardian lalu membentangkan tangan.
Dahlia dan Rindu saling pandang, kata 'Ayah' pertama yang Kanaya ucapkan. Dan itu ditujukan untuk Ardian yang bukan ayahnya. Padahal Rindu sering menunjukkan foto Bagas pada Kanaya.
Sedangkan Ardian terkejut karena gadis kecil itu salah mengenalinya sebagai sang ayah, tentu saja dia sangat senang. Dia menyambut uluran tangan gadis kecil itu dan membawa ke dalam dekapannya. Rindu pun melepas Kanaya dari gendongannya.
"Heii, Sayang ... kamu lucu sekali!" Ardian mengangkat Kanaya hingga melewati kepalanya, lalu mencium pipi gembul itu. Gadis kecil itu tertawa kegirangan ketika bulu halus di rahang Ardian menggelitik pipinya, Kanaya kegelian.
"Kyaa … Ayah …!" Serunya saat menepuk kedua pipi Ardian.
"Gadis kecil yang menggemaskan, sama seperti bundanya." Batin Ardian gemas dengan tingkah Kanaya.
"Iya, Sayang. Ini ayah, kamu boleh panggil ayah." Ardian kembali menciumi pipi yang menggemaskan itu, kemudian duduk dan membawanya ke dalam pangkuan.
Rindu dan mamanya melihat dengan perasaan haru, mereka saling mendekap dan tersenyum bahagia. Kedekatan ayah dan anak yang selama ini tidak pernah Kanaya rasakan, sekarang didapatnya pertama kali dari Ardian. Sosok yang sama sekali belum pernah dijumpainya. Ketika tinggal dengan ayah kandungnya Kanaya jarang mendapat perhatian.
__ADS_1
Ardian sangat betah bermain dengan gadis kecil itu. Menggelitik, mencium, dan mengajak berbicara. Kanaya yang masih berumur tiga tahun sudah bisa berbicara walaupun tidak banyak. Ardian sangat suka meladeninya.
***