
***
Ardian membelai wajah Rindu yang tengah tertidur. Membenahi rambut yang menutupi bagian wajah. Pemandangan itu dilihat oleh kedua pria yang turut menyaksikan ketegangan sebentar tadi. Ardian benar-benar terlihat sangat menyayangi Rindu. Terpancar dari sinar matanya yang penuh kasih.
Sang petugas polisi masih ingin bertanya. "Apa ini sering terjadi, Pak Ardian?" Dia juga ikut cemas, berpikir bahwa ini bisa saja terjadi masalah darurat.
"Tidak, penyakitnya hanya akan kambuh jika merasa syok atau marah terlalu berlebihan," ujar Ardian.
"Apa perlu saya panggilkan ambulan?"
"Tidak perlu, Pak, terima kasih. Obat tadi sudah bisa membantunya untuk tenang."
"Syukurlah …." Petugas itu mengelus dadanya. "Jika tidak ada apa-apa lagi, saya permisi kembali ke dalam." Dia pun berpamitan.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama, Pak Ardian." Polisi itu pergi meninggalkan mereka. Kondisi sudah terkendali, tugasnya telah selesai.
Ardian menghembuskan napas lega. Hampir saja dia terlambat memberikan pertolongan pertama. Dokter Anna berpesan, jika Rindu kambuh sewaktu-waktu, obatnya harus segera diberikan dalam jarak kurang dari lima menit. Jika terlambat sedikit saja, Rindu bisa terbawa ke dalam alam bawah sadarnya.
Dari kejauhan seseorang memanggil Ardian. Bram berlari secepatnya setelah mendengar kabar bahwa Rindu pingsan. Ardian yang hendak pergi pun mengurungkan niat, tadinya dia pikir tidak akan bertemu Bram hari ini.
"Bram?" Ardian menurunkan kaca pada pintu mobil.
"Ardi …." Bram memegangi dada mengatur napas yang tersengal karena berlari.
"Ada apa?"
"Bagaimana dengan Rindu?"
"Sudah aku beri obat, sekarang tidur."
"Syukurlah. Ada yang harus aku bicarakan denganmu."
Bram tampaknya membawa informasi penting. Ardian melihat sebuah map di tangan Bram.
"Sebaiknya di rumah saja, Rindu harus istirahat."
"Baiklah, aku akan menyusul di belakang."
__ADS_1
Ardian pun pergi terlebih dahulu. Dia memikirkan hal penting apa yang ingin Bram sampaikan. Pria itu mencoba menenangkan pikiran. Rindu yang ada di sebelah tampak tidur pulas. Syukurlah, pengaruh obat penenang yang diberikan Dokter Anna bisa bekerja dengan cepat.
***
Bram duduk menunggu Ardian di ruang tamu. Sementara Ardian membawa Rindu masuk ke kamar, untuk membaringkannya. Ardian sengaja membawa wanita itu pulang ke tempatnya karena tidak ingin orang di rumah Rindu khawatir.
"Ada hal penting apa, Bram?" tanya Ardian saat mereka telah duduk berhadapan.
Tanpa mengulur waktu lagi, Bram kemudian meletakkan map yang berisi laporan penyelidikan di meja. Raut wajahnya tampak tegang, informasi ini mungkin akan mengejutkan Adian. Namun, hal ini harus disampaikan agar Ardian bisa memikirkan langkah selanjutnya.
"Apa ini?" tanya Ardian menatap pada map berwarna biru tua itu.
"Bukalah, ada beberapa informasi yang harus kamu tau," pinta Bram menggeser map itu ke depan.
Ardian pun mengambilnya. Kemudian dia membuka dan melihat lembar pertama. Wajahnya langsung menegang, dia melihat nama Rindu tertera di sebuah foto.
"Apa maksudnya ini?"
"Ini adalah bukti yang kami temukan di rumah Sella. Terdapat data-data Rindu di sana. Dari hasil penyelidikan, Stella sudah mengenal Rindu sejak lama." Bram menjelaskan perlahan.
"Bagaimana bisa?" Ada tanda tanya besar di kepala Ardian.
"Stella merupakan komplotan penculik yang pernah bergabung dengan sindikat perdagangan manusia di Jerman," lanjut Bram. Ini benar-benar bukan masalah biasa.
"Rindu dulu pernah tinggal di Jerman bukan? Dan …." Bram terdiam.
Bagi seorang anggota polisi, menyampaikan informasi secara benar adalah tugas. Namun, jika kasus seperti ini terjadi pada kerabat dan teman sendiri, Bram juga harus memikirkan kata-kata yang tepat.
"Pemerkosaan?" tanya Ardian memastikan.
"Maaf … iya. Dan data itu menunjukan jika Stella pernah kenal dengan Anton, Pamannya Rindu. Lebih tepatnya mantan suami Maya, Tantenya Rindu."
"Lalu?" Wajah Ardian mulai merah dan menegang. Mendengar nama Anton disebut, kupingnya terasa panas.
"Sepertinya … Rindu bisa menikah dengan Bagas sudah direncanakan mereka sejak awal," jelas Bram kemudian.
"Apa! Bagaimana mungkin?" Ardian menggenggam buku jarinya.
"Stella dan Anton bekerja sama untuk mempertemukan Bagas dan Rindu ketika di Jepang," sambung Bram. "Rindu pernah berlibur di negara tersebut, di sana pertemuan pertama mereka."
__ADS_1
"Kurangi ajar!"
Entah apa yang akan Ardian lakukan mulai sekarang. Masalah ini ternyata berhubungan satu sama lain. Mulai dari kejadian buruk yang menimpa Rindu. Hingga pernikahannya yang gagal, yang sudah direncanakan dari awal. Kemarahan Ardian sudah di ubun-ubun.
Melihat keadaan Ardian yang telah dikuasai amarahnya. Bram pun merasa ragu untuk melanjutkan.
"Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu." Bram berpikir sejenak. Memastikan Ardian bisa menahan emosinya. "Aku minta, kamu tenangkan diri dulu."
Ardian pun berpikir, ucapan Bram benar. Dia harus berkepala dingin saat ini. Rindu bisa saja terbangun, jika dia tiba-tiba mengamuk.
"Katakan saja, berikan semua informasi itu padaku," ucap Ardian tampak menahan amarah.
"Kemungkinan besar, Stella mengenal pria Jerman yang melakukan itu pada Rindu."
"Apa maksudmu?" tanya Ardian bingung. Pria itu? Apakah maksudnya pria yang menyakiti Rindu?
"Bukalah halaman ke empat." Bram memberi arahan.
Ardian membalikkan halaman demi halaman. Pada halaman kedua dan ketiga, terdapat beberapa foto korban dan barang bukti. Saat melihat halaman keempat, Ardian terdiam. Matanya yang telah memerah mulai tampak basah. Marah, dia sangat marah. Tapi kemarahannya lebih banyak tertutupi dengan penyesalan. Namun, penyesalan itu tidak ada artinya lagi. Bagaimanapun juga semua adalah kehendak takdir, dan saat ini yang diinginkan hanyalah melindungi wanitanya.
"Kami tidak mendapatkan informasi pria itu. Tapi namanya ditulis dalam buku catatan yang Stella punya."
Bram terlihat tidak tega untuk melanjutkan perkataannya. Seperti yang Teo katakan, hati Ardian akan rapuh jika berhubungan dengan Rindu. Awalnya dia tidak mengerti, tapi setelah mengetahui tentang penyakit Rindu, ditambah lagi dengan fakta yang ia temukan dalam kasus yang ditanganinya. Bram merasa sangat kasihan pada Ardian, terutama pada Rindu.
"Ardi …," panggil Bram.
Tak ada respon, Ardian terdiam cukup lama. Ia bersandar pada sofa dengan wajah yang sudah terlihat kusut.
"Ardi … apa yang akan kamu rencanakan?" Bram memastikan apa yang sahabatnya itu ingin lakukan selanjutnya.
Ardian mengerang tertahan. "Tentu saja aku akan menyeretnya ke penjara," ucap Ardian dengan nada berapi-api.
"Ardi, sepertinya pria itu bukanlah orang biasa. Dia punya kekuasaan, dia punya kekuatan. Dia adalah ketua mafia di sana." Bram pun merasa kasus ini sangatlah rumit.
Mendengar itu Ardian semakin marah. Rindu ternyata telah berhadapan dengan orang seperti itu. Ardian sama sekali tidak ada kekuatan jika berhadapan dengan organisasi seperti mafia. Sesuatu yang bisa diandalkan adalah uang. Walaupun dia tahu beberapa rekan bisnisnya ada yang menyelam ke dalam dunia gelap itu. Selama ini Ardian tidak mau terlibat dengan mereka. Semua yang dia kerjakan haruslah bersih.
"Kita harus bagaimana? Kamu bisa membantu, Bram?" tanya Ardian terdengar hampir putus asa.
"Maaf, kita tidak bisa melakukannya. Ini sangat jauh dalam jangkauan kami. Pergerakan organisasi mafia di sana sangat rumit. Sejauh apa pun berusaha, banyak dari mereka yang berhasil lolos dari kejaran polisi. Cara kerja mereka sangat terselubung. Bahkan tidak bisa dipungkiri juga ada oknum yang terlibat."
__ADS_1
Ardian mengusap kasar rambutnya. Dia sungguh merasa kesulitan kali ini. Mau tak mau dia harus meminta bantuan kepada salah satu rekan bisnisnya. Meskipun sebagai gantinya adalah investasi yang mungkin akan menghabiskan banyak uang.
***