Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kenangan Rindu


__ADS_3

***


"Rindu … aku sudah sangat merindukan kamu. Kenapa kamu pergi begitu saja? Kenapa kamu tidak terus terang? Kenapa harus mengambil keputusan seperti ini? Seharusnya aku tidak pergi ke rumah nenek, seharusnya aku menemuimu setiap hari, seharusnya aku bertanya tentang keadaanmu waktu itu. Haahh!"


Ardian mengusap-ngusap kasar wajahnya dan memejamkan matanya sejenak. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke meja belajar. Lalu mengambil sebuah buku yang tersimpan rapi di laci meja itu. Dia mengingat kembali, buku itu adalah pemberian dari Rindu tahun lalu. Buku diary bersampul kulit berwarna hitam itu masih kosong hingga kini. Desain-nya sangat unik, bahkan terdapat tali dan gantungan kemudi bajak laut pada bagian atas. Selama ini Ardian merasa tidak ada hal penting yang harus dituangkan ke dalam buku.


Pada halaman depan, Ardian menuliskan sebuah kata dengan pulpen putih. Kata itu ditulis dengan indah, kata yang sangat bermakna—Rindu. Ardian lalu mengambil pulpen bertinta hitam dan membuka halaman pertama.


Ardian menghela napas panjang. Menahan kesedihan, menatap lekat-lekat ujung pulpen. Dia harus melakukannya, agar kenangan tentang Rindu tetap terjaga.


310513


Rindu ….


Hari ini pertama kalinya ku goreskan tinta hitam di buku ini, buku pemberianmu. Kamu mengatakan suatu saat nanti aku akan membutuhkannya. Dan sekarang aku benar-benar butuh untuk menuliskan kenanganku bersamamu.


Hari ini kamu tiba-tiba menghilang, kamu tahu, seperti apa keadaanku sekarang?


Aku menggila Rindu, aku sangat kehilangan dirimu, kenapa kamu pergi begitu saja?


Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu.


Aku bahkan belum sempat mengatakan sebaris kalimat itu kepadamu. Rindu kamu pergi kemana?


Wajah diangkat, dia memejamkan mata menahan cairan hangat itu agar tidak kembali mengalir. Buku itu pun Ardian tutup, lalu diikat dan disimpannya kembali ke laci dengan rapi. Kemudian Ardian mengambil ponsel yang tergeletak di samping bantal dan duduk di pinggiran ranjang. Ardian menghubungi nomor Rindu sekali lagi, tapi masih tidak tersambung. Lalu dia mencoba menelpon Alan atau Alen, sama, tidak tersambung juga. Ardian membuka galeri foto di ponselnya. Dia memandangi foto-fotonya bersama Rindu. Ardian membaringkan tubuhnya, lalu mendekap ponsel yang terlihat wajah Rindu pada layar.


Karena ketidak pekaannya, karena kebodohannya yang tidak mengenali cintanya lebih cepat. Dia harus merasakan kehilangan sekarang.


"Rindu … maafkan aku yang begitu bodoh. Maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku. Maaf Rindu, cintaku datang terlambat. Aku menyesalinya sekarang."


Dengan segala rasa penyesalannya. Ardian memeluk seolah-olah Rindu-lah yang sedang dia peluk. Mata pun dipejamkan, berharap akan melihat Rindu dalam bayangannya. Tubuhnya lelah dan Ardian pun terlelap bersama bayangan gadis yang dia rindukan.


***


Ketika pagi menjelang.


Mama Della tampak cemas menunggu Ardian keluar dari kamar. Semalaman Ardian berdiam diri di ruangan pribadinya itu, tidak makan ataupun minum. Untung saja Ardian tidak mengunci pintu, jadi Mama Della bisa dengan bebas masuk dan melihat keadaannya. Makan malam yang dibawakan Mama Della tadi malam pun tidak disentuh Ardian sama sekali.

__ADS_1


Mama Della menghela nafasnya berat. Ardian masih tertidur dengan ponsel yang menyala di samping kepalanya. Ponsel itu pun diambil dan diletakkan di atas nakas sebelah tempat tidur. Dia tau, Ardian pasti lelah karena kemarin berlarian di bandara. Juga tidak makan seharian. Wanita itu sangat prihatin dengan keadaan putra semata wayangnya itu.


"Ardi … bangun, Nak." Mama Della menggoyangkan tubuh sang putra. Berharap Ardian mau bangun dan turun untuk makan.


Ardian bangun dan menggeliat meregangkan otot-ototnya. Mata pun membuka perlahan, masih nampak semburat kemerahan dan sedikit membengkak. "Mama … kenapa, Ma?"


"Bangun dulu, Sayang. Makan dulu, dari kemarin kamu belum makan, kan?"


"Ardi belum lapar, Ma."


"Jangan begini, Ardi, kamu hari makan. Tidak baik seperti ini, walaupun kamu merasa sedih, tapi kamu harus tetap menjaga kesehatan. Kalau sampai sakit bagaimana? Kamu tidak mau, kan membuat Mama khawatir?" Tutur Della lembut.


"Baiklah, tapi Ardi mandi dulu."


"Ya sudah … Mama tunggu kamu di bawah ya."


"Iya, Ma …."


Mama Della tersenyum sambil mengusap-usap tangan Ardian. Memberikan respon positif-nya kepada Ardian agar putranya itu merasa tenang. Hal yang harus dilakukan seorang ibu kepada sang putra saat sedang mengalami masalah. Lalu mama Della pergi meninggalkan kamar Ardian dan menutup pintu secara perlahan.


Ardian kini mencari-cari keberadaan ponselnya. Dia mengingat meletakkan di samping kepalanya tadi malam. Saat tatapan mata tertuju ke arah nakas, dia pun menghela napas lega. Kemudian Ardian mengambil dan melihat kembali foto yang masih terpampang pada layar. Ardian mendekatkan ponsel ke bibirnya lalu mengecup foto Rindu.


Setelah mengucapkan selamat pagi, Ardian mengecup foto itu kembali. Kemudian dia bergerak dan menuju ke kamar mandi. Hari ini Ardian akan pergi ke rumah Rindu. Menanyakan kabar Rindu kepada keluarganya. Ardian ingin segera menyusul Rindu di manapun dia berada. Bahkan ke ujung dunia sekalipun, dia pasti akan datang menemui kekasih hatinya itu.


***


Ardian pulang ke rumah dengan kecewa, setelah tidak menemukan siapa pun di rumah Rindu. Ardian kembali mengurung diri di kamar, meratapi penyesalannya. Tiba-tiba terdengar ketukan dari arah pintu.


"Ardi … Sayang, boleh Mama masuk?" terdengar suara Mama Della setelah ketukan ketiga.


Ardian pun bangun dan membukakan pintu. Kemudian dia duduk bersandar di kursi meja belajarnya. Mama Della mengikuti langkah putranya dan duduk di tepian tempat tidur. Ardian berbalik menghadap sang mama.


"Ardi … kamu tadi dari mana?" tanya Mama Della lembut.


"Dari rumah Rindu, Ma."


"Lalu?"

__ADS_1


"Tidak ada siapa-siapa. Mungkin mereka semua sudah pindah ke kampung halaman Mama Dahlia," jawab Ardian. Dia hanya menduga-duga saja. Belum tentu apa yang dia pikirkan benar.


Ardian tampak kembali murung. Semua jawaban dia jawab dengan menundukkan wajah. Mama Della memandangi sendu si putra kesayangan. Kasihan, itulah yang Mama Della rasakan. Seolah-olah dia ikut merasakan seperti apa kesulitan yang Ardian rasakan saat ini.


"Ardi … Mama mau mengatakan sesuatu."


"Emm … Mama mau bilang apa?"


"Kamu sampai kapan akan murung seperti ini?"


"Entahlah, Ma. Ardi merasa tidak ada semangat sama sekali."


"Kamu benar-benar mencintai Rindu?"


"Tentu saja, Ma. Kalau tidak kenapa Ardi bisa merasakan sakit seperti sekarang ini? Setelah Ardi sadar perasaan ke Rindu, semua terasa sangat berat."


"Lalu kamu tidak akan memikirkan masa depan lagi?"


"Maksud, Mama?"


"Sini, Sayang. Duduk di samping Mama."


Mama Della meraih tangan putranya dan mengajaknya duduk di sebelah. Mama Della membelai rambut Ardian, seperti kebiasaannya selama ini. Walaupun sekarang Ardian sudah dewasa, bagi Mama Della, putranya itu tetaplah anak yang akan tetap dimanjakan. Setidaknya untuk saat tertentu seperti ini.


"Mama mengerti, putra Mama sekarang benar-benar sudah dewasa. Sudah bisa mengenal apa itu cinta."


"Tapi semua sudah terlambat, Ma."


"Kita memang tidak bisa menebak cinta, Sayang. Semuanya yang kita inginkan belum tentu akan sama dengan apa yang cinta inginkan. Sekarang mungkin kamu terluka, dan terpisah dari cinta kamu. Mungkin suatu saat nanti kamu akan menemukan jalan untuk membuatnya kembali."


"Benarkah, Ma … Ardi masih bisa bertemu Rindu?"


"Tentu saja, kamu hanya perlu yakin, suatu saat nanti kalian akan bertemu lagi."


"Terima kasih, Ma. terima kasih sudah meyakinkan Ardi. Ardi sayang Mama."


Mereka saling berpelukan. Mama Della mencoba menenangkan suasana hati putranya yang sedang patah hati.

__ADS_1


***


__ADS_2