
***
Ketika Rindu masih larut dalam kesedihannya, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang pria bergegas menghampirinya. Melihat begitu banyaknya tisu bekas di lantai, dan buku yang ada di dekapan Rindu. Tanpa bertanya ia langsung merengkuh tubuh Rindu yang telah bergetar.
"Rin … apa kamu mendengarku?" tanya Ardian tepat di telinga wanitanya.
Rindu hanya mengangguk pelan, dia mendorong tubuh Ardian menjauh agar pelukannya terlepas, lalu meletakkan buku diary itu di pangkuannya.
"Kamu membaca semuanya?" Ardian memandangi wajah Rindu, tampak jelas raut kekhawatiran. Ia menyeka sisa air mata yang masih tergenang di kelopak mata cantik milik Rindu.
"Iya," jawab Rindu lirih.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Maaf, aku lupa menyimpan diary itu kembali. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu membacanya."
Wanita itu menggeleng. "Jangan meminta maaf, aku yang merasa sangat penasaran. Aku tidak seharusnya menyentuh sembarangan barang-barang milikmu, maaf."
Ardian berkali-kali menyeka pipi Rindu yang kembali basah. "Sstttt … sudahlah, jangan menangis lagi. Aku sakit bila melihat air matamu. Yang pasti kamu akan terlihat jelek," ucap Ardian membuat Rindu mengukir senyuman. "Nah … senyum gitu, kan cantik."
Ardian mengambil buku diarynya dari pangkuan Rindu. Ia bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya. Buku itu disimpan kembali di laci dan menguncinya. Rindu diam dan menunggu.
"Ardi."
"Emmm."
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apakah Om dan Tante bisa setuju dengan hubungan kita?"
Pria itu kembali mendekat, dia mengerti akan kecemasan Rindu. Ardian kembali duduk di sebelah kekasihnya itu, meraih kedua tangan Rindu lalu menggenggam dengan erat. Ardian mengangkat tangan kanannya dan mengecup punggung tangan Rindu. Tatapan matanya lurus memandangi raut wajah Rindu yang bersemu. Ia tersenyum dalam kecupan bibirnya.
"Sayang, aku tahu kamu pasti bisa, kamu juga sudah mengenal Papa dan Mama, kan? Sayang, aku juga percaya mereka pasti akan menerimamu sebagai menantu."
"Tapi, Ardi. Jika mereka menolak karena statusku, bagaimana?"
"Sssttt … jangan pikirkan hal itu. Mama dan Papa sudah tahu semuanya. Mereka pasti bisa mengerti, hanya saja mereka belum tahu tentang hubungan kita. Aku janji, aku pasti akan menyakinkan mereka."
__ADS_1
"Iya … aku hanya takut."
"Udah jangan di pikir lagi. Aku antar kamu pulang."
"Sekarang? Tapi masih jam kerja, aku gak mau dibilang makan gaji buta," ucapnya polos.
"Hahaha … sejak kapan kamu bekerja? Kamu bahkan bermalas-malasan dari tadi." Terkadang Rindu juga bisa bersikap polos, Ardian kadang merasa gemas dibuatnya.
"Itu karena aku penasaran pada dia. Wanita yang selalu mengejarmu," ucap Rindu kesal. "Jangan bilang kalau aku cemburu, tidak akan," katanya cemberut, memanjukan bibirnya.
"Hahaha … iya, iya, baiklah. Kamu tidak cemburu, tetapi jealous," goda Ardian kemudian
"Ardi! Ah … terserah saja." Rindu mencebikkan bibirnya, dia bangkit dengan kesal.
Ardian tersenyum geli, dia yakin jika Rindu sedang cemburu sekarang ini. Dengan gerakan tangannya dia menangkap tangan Rindu dan menariknya hingga Rindu terjatuh ke atas pangkuannya. Tindakan tiba-tiba Ardian sontak membuatnya terkejut. Ardian melingkarkan tangannya di pinggang ramping kekasihnya itu. Rindu mencoba melepaskan diri.
"Ardi …." Rindu mendorong dada Ardian dengan tangannya.
"Sssttt … boleh aku menciummu sekali lagi?"
Wajah wanita itu telah memerah padam karena malu. Setelah semua perasaan Ardian terungkap yang ia baca melalui diary itu. Rindu merasa perbedaan pada hatinya. Debaran jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Bahkan darahnya terasa mengalir sangat deras ketika berada di posisi seperti ini.
Ciuman yang biasa perlahan menjadi semakin dalam. Ardian menaikan sebelah tangannya meraih tengkuk Rindu dan memperdalam lagi. Mereka saling menautkan hingga menjelajahi setiap rongga mulut mereka. Tidak ada satu bagian pun yang ingin mereka lewatkan.
Ciuman panas itu berlangsung cukup lama. Napas mereka saling memburu. Hingga terdengar lenguhan kecil dari mulut Rindu di sela luumaatan yang mereka nikmati. Seketika itu Ardian tersadar dan melepaskan pagutannya. Mereka pun terengah-engah mengatur pernapasan. Wajah mereka bersemu kemerahan, saling melemparkan senyuman.
"Bodoh, tahan … jangan sampai aku hilang kendali. Terakhir kali aku hampir tidak bisa menahannya. Jangan gegabah, Rindu mungkin tidak akan mau melakukannya," guman Ardian dalam hatinya.
Ardian menempelkan keningnya ke kening Rindu, lalu mengecup kening kekasihnya itu dengan lembut.
"Terima kasih."
"Terima kasih."
Ungkapan perasaan mereka bersamaan. Terasa lucu, dan mereka tertawa kecil.
"Kita pulang sekarang," ajak Ardian kemudian.
__ADS_1
"Emm …," jawab Rindu singkat dengan anggukan kepala.
Rindu beranjak dari pangkuan kekasihnya itu. Ia merapikan pakaiannya, begitu pun juga dengan Ardian. Dengan bergandengan tangan mereka pergi meninggalkan ruangan kantor itu.
***
Waktu berjalan begitu cepat, sepuluh hari kemudian. Ardian sedang duduk menunggu di depan sebuah ruangan. Tidak jauh darinya, ada meja pusat informasi. Di sana ada seorang suster yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di depan layar komputer.
Pria itu terlihat gelisah. Kakinya tidak bisa diam dari tadi, terus saja bergerak naik turun mengetuk lantai. Matanya tidak lepas dari pintu ruang konseling di depan. Rindu ada di dalam sana.
Tanpa ia sadari dari kejauhan, di ujung koridor klinik itu. Ada seseorang yang sedang mengintai. Seorang pria berperawakan tinggi, badan besar. Pria itu mengenakan hoodie berwarna hitam dan menutup kepala dengan penutupnya. Ia juga menggunakan topi agar bisa menyamarkan wajah. Pria itu sudah mengikuti mereka dari waktu berangkat tadi.
Sudah hampir dua jam Rindu berada di dalam ruangan itu. Berapa banyak pertanyaan yang diberikan dokter pada wanita itu? Apakah Rindu baik-saja di dalam sana? Pertanyaan itu Ardian tanyakan dalam hatinya. Bukan untuk dijawab seseorang, tapi hanya untuk mengurangi rasa gelisahnya yang teramat berat.
"Silakan minumannya, Pak." Seorang office boy meletakkan secangkir teh hangat di meja. Itu cangkir yang ke lima.
"Terima kasih," ucap Ardian datar.
Beberapa menit kemudian. Di koridor klinik itu berjalan seorang wanita ke arah meja informasi. Wanita itu seperti berkebangsaan lain. Paras wajahnya terlihat seperti berasal dari Eropa. Setelah bertanya beberapa pertanyaan, wanita itu pun duduk. Posisinya berhadapan dengan Ardian. Sekilas mereka saling menyapa lewat tatapan mata. Dengan sedikit menganggukkan kepala, wanita itu tersenyum pada Ardian.
Lima belas menit kemudian, pintu itu akhirnya terbuka. Ardian bergegas menghampiri Rindu. Dari balik pintu itu keluar seorang dokter yang memberikan pengobatan—Dokter Anna. Kemudian disusul dengan Rindu yang mengulurkan tangan kepada dokter itu. Ardian juga ikut bersalaman dan mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba wanita yang duduk di hadapan Ardian tadi, bersuara.
"Mis, Rindu?" sapa wanita itu.
Seketika itu dunia Rindu terasa ingin runtuh. Lututnya terasa goyah. Ia butuh sesuatu untuk berpegangan. Ardian yang menyadari itu, dengan sigap menggenggam kedua lengan Rindu dan menahannya.
"Li-sey … Dokter Lisey?" Rindu terengah-engah.
"Wie gehts ihnen, Miss?" (Apa kabar anda, Nona?) Wanita itu bertanya dalam bahasa Jerman. Ia mengulurkan tangan.
Tiba-tiba Rindu merasakan serangan yang sangat hebat di dadanya. Napasnya mulai tidak teratur. Matanya terlihat kosong. Ardian menjadi panik, begitupun juga dengan Dokter Lisey dan Dokter Anna.
"Who are you? Why did he become like this after seeing you?!" (Siapa kamu? Kenapa dia menjadi seperti ini setelah melihatmu?!) Ardian terlihat sangat marah.
"Pak, Ardian. Sebaiknya kita membawa Nona Rindu kembali ke dalam. Saya akan melakukan pemeriksaan!" Potong Dokter Anna, mencegah perdebatan itu. Kondisi pasien yang lebih utama.
Dengan cepat Ardian membopong tubuh Rindu masuk lagi kedalam. Raut wajahnya terlihat sangat panik dan marah.
__ADS_1
***