
***
Jam istirahat makan siang. Sebagian besar karyawan pergi ke kantin atau ke luar kantor untuk mengisi perut mereka yang kosong. Sebagian kecil lagi tetap tinggal di tempat kerja mereka karena harus bergiliran saat istirahat. Ada juga beberapa orang lainnya bisa istirahat sesuka hati mereka, bisa karena pekerjaan atau memang malas untuk keluar.
Gedung kantor itu memiliki dua lantai untuk tempat istirahat para karyawan. Satu lantai untuk karyawan umum dan satu lantai lagi khusus untuk golongan produser, artis. Lantai itu juga diperuntukkan untuk para jajaran direktur ke atas. Untuk bisa masuk ke lantai ini harus memiliki tanda pengenal khusus pula. Kedua lantai ini memiliki restoran dan cafetaria sendiri. Semua fasilitas yang disediakan Ardian ini untuk kenyamanan semua karyawan.
Rindu bisa masuk ke lantai khusus ini berkat Teo yang menjabat sebagai salah satu produser perusahaan itu. Dia belum memiliki kartu akses untuk masuk kemana pun di dalam perusahaan.
Ardian yang baru saja selesai rapat langsung turun ke lantai satu, dia hendak pergi keluar. Hari ini dia harus menemui psikiater yang dipilih Eja untuk Rindu. Dokter terbaik yang khusus menangani PTSD. Rindu harus berobat secepat mungkin, harus sembuh.
"Eja … kamu urus urusan kantor untukku, biar aku yang pergi menemui dokter itu sendiri. Jika memungkinkan aku akan langsung membawanya menemui Mama Dahlia."
"Baiklah, Bos."
"Oo … satu hal lagi, masalah akuisisi perusahaan itu bagaimana?"
"Itu sudah ditangani, Bos, semuanya sudah selesai. Besok kita bisa langsung ke sana mengambil alih."
"Ok … kamu atur jadwalnya."
"Ya, Bos."
Mobil Ferrari silver itu pun pergi meninggalkan lahan parkir depan lobby. Eja yang semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran bos-nya itu hanya bisa mengelus dada. Dalam waktu tiga hari ini dia tidak cukup tidur, hanya untuk memenuhi permintaan bos dinginnya itu. Mengakuisisi sebuah perusahaan percetakan, yang bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan EM entertainment.
"Hanya cinta yang bisa membuatmu melakukan apa pun, Bos," gumannya pelan. Perutnya sudah sangat keroncongan. Eja juga perlu mengisi ulang tenaganya. Tadi sempat menawarkan kepada Ardian untuk makan siang terlebih dahulu. Namun, bos-nya itu menolak mentah-mentah.
***
Saat ini Ardian sedang menuju ke rumah Rindu. Dia tidak berhasil membujuk dokter itu untuk datang menemui Dahlia. Ardian terpaksa menunggu beberapa hari lagi, karena jadwal sang dokter sedang padat. Kali ini dia datang untuk bertemu dengan Kanaya sekaligus untuk menyampaikan kabar ini kepada Dahlia. Entah kenapa Ardian merasa ingin segera bertemu dengan gadis kecil itu. Dia merasa telah memiliki ikatan dengan semenjak Kanaya memanggilnya 'Ayah' beberapa hari lalu.
Mobilnya baru saja terparkir di depan rumah. Tubuh mungil yang dirindukan sudah muncul di depan pintu. Tampaknya Kanaya telah menyadari kedatangannya. Ardian berlari menyongsong Kanaya yang sedang merentangkan tangan.
"Ayah … ayah …," panggil gadis kecil yang imut itu.
"Aya … aduuhhh … kangen ayah, ya?"
__ADS_1
Ardian mengangkat tubuh mungil Kanaya hingga melewati kepalanya. Kanaya terpekik kegirangan. Lalu Ardian mensejajarkan tubuh itu dan menopang pinggul mungil Kanaya dengan lengannya. Ardian menciumi pipi gembul milik Kanaya berkali-kali.
"Oma mana, Sayang?" tanya Ardian kemudian.
"Aya! ya ampun …!" Dahlia yang berlarian keluar pun berteriak. Sepertinya dia tidak tahu Kanaya pergi keluar sendiri. Raut wajahnya terlihat ketakutan.
"Ma …?"
"Ardi? Untung ada kamu, Nak!"
"Kenapa, Ma?"
"Ini tadi, Kanaya mama tinggal sebentar ambil minum, Mama lupa pintunya kebuka. Hampir saja Mama jantungan, Ardi!"
"Mungkin Kanaya keluar pas liat Ardi datang, Ma … Kanaya baik-baik saja."
"Ya sudah … ayo masuk!"
Mereka pun akhirnya masuk. Kanaya mengoceh entah apa kepada Ardi, dan anehnya pria itu bisa menanggapi, obrolan mereka yang seperti menyambung. Sesekali dia menjawab 'iya' dan 'ohya'. Gadis kecil itu bercerita tentang mainan yang dimilikinya.
"Ini teh kamu, Ardi."
"Makasih, Ma."
"Eh … itu Kanaya sudah tidur?" tanya Dalia saat melihat Kanaya telah diam di pangkuan Ardian.
Ardian mengintip gadis di pangkuannya sebenar. "Belum, Ma … sepertinya sebentar lagi."
"Sini, biar Mama tidurkan di kamar."
Ardian pun menyerahkan gadis kecil itu ke tangan oma-nya. Namun, baru saja Kanaya berada di gendongan Dahlia, dia merengek tidak ingin pergi dari pangkuan pria yang dianggap ayahnya. Lalu Ardian kembali mengambil Kanaya dari tangan Dahlia.
"Cup, cup, Sayang … sini sama Ayah lagi!"
"Sepertinya Kanaya ingin tidur di pangkuan kamu, Ardi."
__ADS_1
"Iya, Ma … tidak apa-apa, biarkan Kanaya tidur di sini."
Gadis kecil yang imut itu kembali ke dalam pelukan Ardian. Dia menyandarkan tubuhnya ke dada bidang itu dan menempelkan telinganya di bagian jantung. Seperti yang selalu dia lakukan pada bunda-nya.
"Kanaya kalau mau tidur dan bangun selalu seperti itu. Selalu ingin dekat dengan suara detakan jantung Rindu."
"Oya? Apa dia lebih nyaman seperti ini?"
"Iya, tapi jika tidur dengan Mama tidak pernah seperti itu. Kenapa dengan kamu dia bisa nyaman?"
"Entahlah, mungkin karena bunyi detak jantungku sama seperti bundanya," jawab Ardian asal bicara.
"Karena kamu sangat hangat padanya, Ardi. Dia seperti sudah mengenalmu sangat lama."
"Baguslah, Ma … dengan begini akan lebih mudah untukku mengambil hati Rindu. Kanaya sudah bisa menerimaku sebagai ayahnya, Ardi sangat bersyukur."
"Kamu harus lebih banyak bersabar … tidak mudah untuk Rindu membuka lagi hatinya."
"Iya, Ma … Ardi pasti akan menunggu hingga Rindu siap."
Mereka berdua tersenyum. Senyuman antara ibu dan anak. Dahlia merasa Ardian sudah menjadi menantunya. Andai saja Rindu mau membuka sedikit hatinya. Mungkin mereka akan menjadi keluarga yang sangat hangat. Saling menyayangi satu sama lain.
"Oya, Ma, dalam tiga hari lagi psikiater buat Rindu akan datang ke sini."
"Baiklah, lalu selanjutnya bagaimana?"
"Dokter akan menanyakan dulu gejala dan penyebabnya. Setelah itu dokter akan melakukan psikoterapi pada Rindu."
"Terimakasih, Ardi. Semoga dengan begini Rindu bisa cepat sembuh. Dia memang tidak menunjukkan sikap yang membahayakan. Tapi dia selalu bicara sendiri ketika tidak ada siapapun di dekatnya. Terkadang juga dia bermimpi buruk, dia sering berteriak dalam tidurnya."
Ardian terasa teriris begitu mendengar penuturan dari Dahlia. Hatinya seperti terkoyak-koyak. Tangannya telah mengepal dengan kuat menahan rasa bersalahnya. Wanita yang dia cintai merasakan penderitaan seperti itu. Ardian tidak tahu apakah nantinya dia sanggup untuk mendengarkan kisah lengkapnya.
Gadis kecil di pangkuan menggeliatkan tubuhnya. Ardian tersentak lalu mengeratkan lagi pelukannya. Puncak kepala Kanaya di kecup dan dihirupnya, aroma khas gadis kecil itu sangat menenangkan hatinya. Seketika Ardian merasa sedikit tenang. Dia sudah sangat menyayangi Kanaya, sama seperti dia menyayangi dan mencintai Rindu.
***
__ADS_1