Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Impian dulu


__ADS_3

***


Ketika cinta itu butuh perjuangan, ketika cinta itu butuh pengakuan, maka sang pencinta akan berjuang dengan sangat gigih. Tidak peduli seberapa banyak pengorbanan yang akan dilakukan, asalkan sang kekasih bahagia saat berada di sisinya. Cinta akan berjuang.


"Bila mungkin, sekarang aku merasakan betapa aku semakin mencintaimu itu bukan berarti gombal atau pun berlebihan, karena tak bisa aku pungkiri itulah yang sebenar-benarnya terjadi saat ini." — Ardian.


Saat melihat sekeliling, Rindu merasa takjub. Ardian menyadarkan dari rasa kagumnya pada tempat ini.


"Woow … Ardi, ini hebat sekali!" Rindu memutar tubuhnya, melihat ke langit-langit, mengangkat tangan. Seolah dia sedang meraba cahaya lampu.


"Kamu menyukainya? Bukankah ini dulu adalah cita-citamu?"


"Ya … dan sekarang kamu mewujudkannya."


Ardian tersenyum, lalu melirik jam pada dinding. Sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah dingin lagi.


"Eja, di mana dia?" tanya Ardian saat tidak melihat orang yang dimaksud.


"Sedang menuju kemari, Bos."


"Emmm."


Mereka pun duduk menunggu sebentar. Masih ada waktu lima belas menit lagi untuk rapat. Tidak lama kemudian pintu masuk studio itu terbuka. Mereka menoleh, dan Rindu melonjak kaget melihat seorang laki-laki yang masuk.


"Kamu …?"


"Haii," sapa laki-laki itu.


"Teo?"


"Iya, ini aku. Kamu apa kabar, Rindu?" Teo mengulurkan tangannya, hendak bersalaman.


Baru saja Rindu akan memeluk laki-laki yang telah lama tidak ditemuinya itu, Ardian menarik tangannya dengan cepat. Hingga dia terpaksa mundur ke belakang pria itu. Dengan wajah dinginnya, Ardian mendelik tajam ke arah Teo.


"Tidak usah pakai acara pelukan!" katanya ketus.


Eja dan Teo menyunggingkan senyum dan memutar bola mata mereka. Ini sisi lain dari Ardian yang baru pertama kali mereka lihat. Posesif, pikir mereka bersamaan. Sedangkan Rindu sudah kesal dengan sikap Ardian yang menghalanginya.


"Aku serahkan Rindu padamu. Tidak ada urusan lain selain pekerjaan. Dan jangan pikir aku tidak mengawasimu," ucap Ardian tegas.


"Iya … aku tau. Kamu sudah memberitahuku dari pukul tiga pagi tadi. Aku bahkan baru saja tertidur pulas, dan bos besar sudah mengganggu," kata Teo kesal.

__ADS_1


"Ermm … baiklah. Aku harus pergi rapat sekarang." Masih dengan nada bicaranya yang dingin, Ardian tidak mempedulikan keluhan Teo barusan. Lalu dia berbalik menghadap pada Rindu. "Sayang … aku pergi dulu. Jangan pedulikan pria ini. Lakukan saja pekerjaanmu ya," ucapnya seketika merubah manis.


Sikap Ardian hampir membuat Eja dan Teo tertawa geli. "Ciihh … sayang?" guman mereka kecil.


"Ok, pergilah!"


Ardian dan Eja pun pergi meninggalkan ruangan itu. Rindu mencibir di belakang mereka. Teo menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Rindu yang tampak lucu. Masih ceria seperti dulu, apa yang berbeda? Kenapa Ardian melarangnya menanyakan masa lalu wanita itu. Apakah semuanya tidak baik-baik saja? Seperti itu pikiran Teo saat ini.


"Duduklah, hari ini aku tidak akan memberimu pekerjaan. Kita hanya akan reuni untuk saja."


"Ok .…" Rindu pun ikut duduk di sebelah teman lamanya itu. "Jadi sekarang kamu adalah seorang produser?"


"Em, sejak dua tahun yang lalu. Ardian yang memaksaku bekerja di sini. Di perusahaan Papa sudah ada Kakak. Jadi aku terpaksa harus menerima pekerjaan ini!" jawab Teo asal-asalan.


"Bagaimana dengan kehidupanmu, Teo?" Rindu tampak antusias, bertemu dengan teman lama, adalah hal yang langka baginya.


"Aku?"


"Em …."


Teo tiba-tiba bangkit lalu berjalan menuju lemari pendingin. Mengambil dua kaleng soda dan membawa kembali ke posisi semula. Satu kaleng soda itu diserahkan pada Rindu. Mereka membukanya secara bersamaan. Setelah mengadu kaleng itu mereka pun meminumnya.


"Aku sudah menemukan cinta sejatiku. Kami sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah," ucap Teo kemudian.


"Terima kasih, datanglah nanti ke acara pernikahanku."


"Tentu saja aku akan datang."


Mereka terdiam sejenak. Kemudian Rindu bangkit dan berjalan menuju meja yang terdapat bermacam-macam alat untuk merekam. Dia sudah sangat penasaran dengan benda itu. Teo pun membiarkan.


"Wahh … ini hebat sekali."


"Kamu baru pertama kali melihatnya?"


"Tidak juga, dulu aku pernah lihat, tapi tidak sebanyak ini. Ini lengkap sekali," ucapnya dengan mata berbinar.


"Dulu?"


"Iya, dulu aku pernah kuliah di salah satu universitas musik Jerman. Tapi aku tidak menyelesaikannya."


"Oh, ya? Kenapa tidak kamu selesaikan?"

__ADS_1


Rindu terdiam. "Aahhh … ceritanya panjang. Aku tidak ada waktu untuk menceritakan nya." Dia mengibaskan tangannya, malas untuk melanjutkan pembicaraan itu.


Setiap kali ada pertanyaan yang mengarah ke masa lalu, otak Rindu akan bekerja secara otomatis menolaknya. Secara tidak sadar dia menghindari trauma yang pernah dia alami.


"Ok, baiklah. Rin, kamu ingin mencoba merekam?" ucap Teo setelah berpikir sejenak.


"Merekam?"


"Ya, kita akan merekam suaramu." Teo berjalan menghampiri wanita itu.


"Apa? tidak, tidak, aku …."


"Ayolah … kamu belum pernah mencobanya bukan? Dulu kita hanya bermain musik dengan alatnya. Kita bahkan tidak pernah berpikir untuk merekam secara khusus. Padahal tempat latihan kita adalah sebuah studio rekaman. Hahaha… konyol sekali, studio itu bahkan punya keluargaku," kelakar Teo kemudian.


"Apakah ini tidak masalah?"


"Tidak masalah, aku yang bertanggung jawab di sini. Ayolah … studio ini akan dipakai siang nanti. Ini kesempatan bagus. Hari ini kamu bebas, besok kamu harus bekerja keras." Teo mempertegas ucapanya, agar wanita itu tidak menolak lagi.


"Iya, iya … baiklah."


Rindu menuruti permintaan Teo. Mereka pun mulai memilih lagu dan mempersiapkan musiknya. Teo mengajarkan Rindu semua cara-caranya. Mereka melakukan keseruan bersama. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Rindu, bisa merasakan berada dalam ruangan rekaman suara. Dulu dia sangat menginginkan masuk ke ruangan seperti ini, dan sekarang ini terwujud. Walaupun tidak sebagai penyanyi seperti impiannya. Ini sudah cukup membuatnya merasa sangat bahagia.


Rindu menyanyikan lagu milik Sheryl Sheinafia dengan judul 'Setia'. Dia seakan kembali ke masa lalu. Bernyanyi dengan perasaan bebas, membuatnya jadi tenang. Tak tampak beban berat yang sedang dipikulnya sekarang.


"Oke, sempurna. Wahhh, kamu memang tidak pernah mengecewakan," puji Teo dari arah luar ruang rekaman itu.


Rindu tersenyum manis, baginya pujian kecil seperti ini sudah cukup untuk melepas kerinduan akan masa lalu. Saat semua sorak sorai penonton memanggil namanya. Saat tepukan tangan bergemuruh setelah nyanyiannya selesai.


"Lalu, kita sekarang harus bagaimana?" tanya Rindu setelah berada satu ruangan dengan Teo.


"Setelah aku mengedit, maka semua sudah selesai. Kamu boleh menyimpan hasilnya." Teo tersenyum.


"Benarkah?"


"Iya, tentu saja. Kamu mau simpan atau sebar ke internet, juga tidak apa-apa. Bukan sesuatu yang salah," ucapnya bersandar di kursi.


"Kalau begitu aku akan memberikan rekaman itu pada seseorang."


"Ardian?" Tebak Teo.


Rindu terkekeh. "Iya dia, siapa lagi yang cocok dengan isi lagu itu." Rindu tersenyum manis. Hal itu membuat Teo pun merasa bahagia.

__ADS_1


***


__ADS_2