
***
Rindu tampak tidak bergeming saat mengetahui Dian yang datang. Dan dia juga yakin, Dimas pasri sekarang juga ada di belakangnya.
"Kalian sudah datang?" Rindu balik bertanya tanpa melihat pada sahabatnya itu. Matanya tetap fokus pada wajah kekasihnya. Berharap ialah orang pertama yang melihat Ardian bangun.
"Bagaimana dengan keadaan Ardi?" tanya Dimas kemudian.
"Dokter baru saja melakukan pemeriksaan. Dia telah melewati masa kritisnya." Rindu terdiam sejenak. "Pria bodoh ini belum mau bangun. Entah kenapa betah sekali tidur di sini." Rindu berseloroh tiba-tiba. Mungkin karena ingin merasakan suasana lebih baik lagi.
Dimas dan Dian justru tersenyum. Syukurlah, kejadian ini tidak mempengaruhi kondisi mental Rindu. Sahabatnya itu pasti berusaha dengan keras melawan pikirannya.
"Kamu sudah makan?" tanya Dian seraya mengusap bahu Rindu.
"Belum."
"Kemarilah, aku membawakan makanan untukmu."
"Nanti saja. Aku mau melihat si bodoh ini bangun." ucapnya membelai punggung tangan Ardian dengan lembut.
"Jangan keras kepala. Kamu mau ikut berbaring seperti dia? Jika Ardi bangun, ia akan menyalahkan kami yang tidak bisa menjagamu."
Rindu menghela napasnya berat. Dian benar, dia tidak boleh terus menerus menyusahkan orang di sekitarnya. Rindu pun mengangguk mengiyakan. Dian menyiapkan makanan yang ia bawa di meja, Dimas pun ikut membantu.
"Ardi, tunggu sebentar. Aku harus mengisi perutku, menunggumu bangun ternyata membutuhkan tenaga ekstra," kelakar Rindu menenangkan suasana hatinya yang sedih.
Rindu pun bangkit, dan hendak melepaskan genggaman tangannya. Saat telah berbalik, tiba-tiba dia merasakan tangannya dicekal oleh Ardian. Rindu tersentak dan segera berbalik melihat pada tangannya. Tatapannya langsung beralih pada wajah wajah Ardian.
"Ardi, kamu bangun!" seru wanita itu sedikit berteriak.
Dian dan Dimas yang mendengar, berbalik dan melihatnya. "Ardi." panggil mereka. Secara bersamaan bergerak menghampiri Ardian.
Ardian tampak berusa membuka matanya, perlahan. Orang pertama yang dia lihat adalah Rindu yang berdiri di sebelah, sedang menggenggam tangannya. kemudian beralih pandang ke depan, ada Dian dan Dimas saling merangkul.
"Kalian berisik sekali. Kalian membuatku terbangun."
Rindu langsung membungkukkan badan dan memeluk kekasihnya dengan erat. Tangisannya pecah begitu saja, ia terlalu senang melihat Ardian telah sadar. Dian dan Dimas merasa lega melihatnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Ardian melingkarkan sebelah tangannya di punggung wanita itu.
"Bodoh. Aku seharusnya berteriak dengan keras. Supaya kamu bisa terbangun lebih cepat," ujar Rindu masih terisak dalam tangisnya.
Ardian tersenyum tipis. "Aku sudah mendengarnya empat kali."
Rindu tampak bingung sejenak. "Apa?" Dia pun menegakkan badan kambali.
"Kamu mengataiku, 'bodoh' dari tadi," ucap Ardian lemah, terdengar tidak terima dengan ucapan itu. Sebenarnya dia sudah sadar dari beberapa menit yang lalu. Hanya saja matanya belum bisa terbuka. Mulut dan tubuhnya masih terasa kaku.
"Kamu mendengarnya? Sejak kapan?" tanya Rindu kemudian.
"Aku pikir sedang bermimpi, kamu ada di hadapanku dan mengatakan sesuatu. Lalu aku tersadar karena mendengar makianmu."
Tak peduli dengan omelan pria itu. Rindu pun kembali memeluk Ardian, perasaan haru ini tidak dapat dibendungnya lagi. Setelah beberapa saat, dia kembali menjauh, lalu duduk di samping Ardian.
"Ardi, terima kasih." Rindu tersenyum memandangi wajah kekasihnya itu. Walau terdapat luka memar di beberapa bagian, wajah Ardian tetap terlihat tampan di matanya. Mereka pun saling pandang dan tersenyum.
"Ermm … ermm …."
Dimas mendehem tiba-tiba. Kedua sejoli itu tersadar dan menoleh pada Dimas. Sepasang suami istri di hadapan mereka tampak tersenyum pura-pura tidak melihat.
"Siapa?" tanya Rindu dan Dian melihat Ardian dan Dimas bersamaan.
"Bram," jawab Dimas, semua mata pun beralih menatapnya, termasuk Ardian.
"Benar, apakah dia … terlibat?" tanya Ardian kemudian. Sementara Rindu dan Dian menyimak pembicaraan itu.
Dimas menghela napas sejenak. Wajahnya tampak datar saat melihat ketiga orang itu menunggu jawaban darinya. "Bram adalah mata-mata polisi. Kasus ini adalah misi rahasianya." Sontak ketiganya dibuat terkejut.
"Benarkah?" tanya Dian kemudian.
"Iya, ternyata selama ini dia menghilang untuk melakukan pelatihan dan sekarang ia telah menjadi polisi rahasia berpangkat satu," lanjut Dimas menjelaskan.
Semua informasi itu juga baru saja dia dapat dari Teo. Dia adalah orang kedua yang mengetahui hal itu di antara sahabatnya yang lain.
Tentu saja mereka semuanya terkejut. Bram ternyata menyembunyikan rahasia selama ini. Rahasia keluarga yang teman-temannya belum ketahui. Ia adalah anak dari seorang jendral, dan seluruh keluarganya berprofesi di bidang yang sama. Mengabdi kepada negara adalah hal turun temurun dari generasi ke generasi di keluarganya.
__ADS_1
***
Ardian telah dirawat selama dua minggu di kamar VIP rumah sakit itu. Rindu selalu menemani siang dan malam. Keluarganya selalu datang tiap hari untuk mengantarkan Kanaya. Rindu hanya bisa bertemu Kanaya di siang hari. Beruntung Kanaya bisa mengerti saat Rindu belum bisa menemaninya tidur. Gadis kecil itu juga tampak baik-baik saja. Penculikan tempo hari sepertinya tidak terlalu berpengaruh. Teman-teman Rindu juga datang bergantian menemaninya di rumah sakit. Setidaknya dirinya bisa menghindari Ardian yang selalu bertingkah aneh.
Pagi itu Rindu sedang bersiap-siap untuk mengurus kepulangan Ardian. Kondisi pria itu saat ini sudah cukup membaik. Luka di bagian perutnya sudah mulai mengering dan tidak perlu perawatan intensif lagi.
"Sayang …," panggil Ardian manja. Sekarang apa lagi kelakuan aneh yang akan dia lakukan.
"Emmm," sahut Rindu sekenanya, dia sedang sibuk memasukkan pakaian Ardian ke dalam tas.
"Kemarilah, duduk disampingku." Ardian menepuk ruang kosong di sampingnya. Ia tidak sabar untuk segera memeluk kekasihnya itu.
"Sebentar, aku harus menyelesaikan ini dulu."
Matanya mengikuti setiap gerakan Rindu menata pakaian mereka. "Cheek …." Tas itu pun dia ambil, Ardian tiba-tiba menarik Rindu hingga duduk di pangkuannya.
"Ardi … hati-hati dengan lukamu!" Rindu yang kaget, berusaha menjauh dari Ardian.
"Tidak apa-apa, tidak kena." Ardian merangkul pinggang Rindu. Mereka saling berhadapan, memandangi wajah masing-masing.
Rindu pun melingkarkan kedua tangannya di leher Ardian dan tersenyum. "Kenapa?"
"Aku kangen mau peluk kamu." Ardian merebahkan kepalanya dengan manja di dada wanita itu.
"Ada-ada saja," ucap Rindu sembari menggeleng. Dia membiarkan, Ardian memang selalu seperti ini, dan Rindu mulai terbiasa dengannya.
"Ardi."
"Mmmm."
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Untuk pengorbanan yang kamu lakukan. Maaf, aku telah meragukanmu waktu itu."
Ardian melonggarkan pelukannya. "Sayang, jangan berterima kasih lagi. Aku sudah cukup mendengarnya. Mama Lia, Alan dan Alen juga. Semua itu tidak perlu. Aku merasa harus melakukanya, Kanaya sudah menjadi bagian dari hidupku. Jadi, jangan bilang terima kasih dan maaf lagi untuk hal ini, mengerti?" Ardian mencolek hidung Rindu gemas.
__ADS_1
Rindu tersenyum dan membelai pipi kekasihnya dengan lembut. Detik kemudian, kecupan singkat dia sematkan.
***