
***
Wanita itu terdiam. Ardian benar-benar serius dengan ucapannya. Tapi apakah hati seorang Rindu sudah siap untuk menerima pria itu? Apakah dia harus menolak lagi untuk saat ini?
"Rin, Sayang?" Ardian menggenggam tangan Rindu. Lalu mengusap-usap punggung tangan itu dengan ibu jari. Perlahan dia mengirim pesan hatinya kepada wanita kesayangannya itu. Pesan yang penuh dengan harapan. Sorotan mata pria itu mulai meredup. Sudut kelopak matanya mulai berembun.
Rindu belum juga merespon. Seketika Ardian panik, hatinya gundah. Jangan sampai Rindu kembali diam seperti sebelumnya. Hidupnya bisa saja hancur.
"Rin …?" Panggil Ardian sekali lagi, kali ini dia menggenggam tangan Rindu begitu erat. Hingga menyadarkan Rindu dari lamunan. "Kamu kenapa?"
"Aku … aku hanya memikirkan perkataanmu."
"Hahhh … syukurlah, aku pikir kamu akan seperti itu lagi. Kamu membuatku takut!" Tubuh wanita itu dipeluknya lagi. Dia menetralkan perasaan takut yang baru saja menguasainya. Rindu kembali terdiam, dia kembali merasakan kehangatan yang menggetarkan hatinya.
Kalah, Rindu telah kalah dengan pertempuran ini. Setengah hatinya menginginkan hal yang lebih, setengahnya lagi masih takut akan perasaan kecewa.
"Rin … tolong tetaplah seperti ini, tetaplah sadar. Jangan pernah memikirkan itu lagi. Pikirkan saja Kanaya, pikirkan Mama, Alan dan Alen. Juga pikirkan saja aku yang selalu siap untuk membahagiakan kamu, mencintai kamu."
Rindu merasakan tetesan air membasahi punggungnya. Ardian menangis, Pria itu menunjukan sisi lemahnya lagi di hadapan Rindu.
"Ardi, apa aku kemarin kambuh?"
Ardian hanya mengangguk lemah. Rindu kemudian melingkarkan tangannya ke punggung Ardian. Dia mencoba menenangkan pria itu. Rindu dapat merasakan kekhawatiran Ardian dari tiap tetes deraian air mata yang jatuh membasahi punggungnya.
Kejadian semalam Rindu benar-benar melupakannya. Itu semua terjadi di bawah alam sadarnya. Apakah dia benar-benar sudah mulai gila? Jika saja Ardian tidak mengatakannya Rindu tidak pernah tahu. Sebenarnya penyakitnya seberapa parah. Selama ini ia hanya menghindari semua pertanyaan yang tidak ingin di jawabnya.
"Ardi .…"
Rindu mendorong tubuh Ardian pelan, melerai pelukan mereka. Wajah pria itu telah basah, matanya masih berkaca-kaca. Rindu terenyuh melihat sisi lemah Ardian. Diusapnya perlahan kedua sisi wajah yang basah itu bergantian.
"Aku bahagia … ada Kanaya, Mama, Alan Alen, dan kamu."
"Aku? Kamu bahagia di dekatku?"
"Emm … tentu saja, kamu sahabat yang baik. Kamu pria yang sangat perhatian. Kamu selalu melindungiku. Kamu cinta pertamaku."
__ADS_1
"Hanya itu?"
"Kamu juga pria hebat."
"Emm .…"
"Dan .…"
"Dan apa?"
"Dan … aku rasa … aku jatuh cinta lagi padamu."
"Benarkah?" Seketika mata Ardian berbinar.
"Iya, aku harus jujur. Aku tidak pernah melupakanmu, melupakan masa lalu kita. Aku hanya memendamnya selama ini. Aku telah lama menganggap perasaanku padamu hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Dan aku telah merelakannya."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang, aku baru tahu kamu juga mencintaiku. Ternyata cintaku selama ini berbalas. Ternyata cintamu sangatlah dalam. Tapi sudah terlambat, Ardi. Aku tidak memikirkan akan berumah tangga lagi. Dan …."
Layaknya seorang yang mendapat keberuntungan. Ardian serasa berada di puncaknya sekarang. Perasaan bahagianya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Secara spontan bibirnya mengecup bibir indah Rindu berkali-kali. Rindu merasakan hatinya berbunga-bunga. Hingga akhirnya kedua telapak tangannya menangkup di kedua pipi Ardian, dia menahannya.
Sesaat Rindu memandangi wajah tampan itu sangat lembut. Dia tersenyum sangat manis. Seolah mengatakan bahwa dia juga merasa sangat bahagia melalui sorotan matanya. Rindu kemudian menautkan bibir mereka, sangat dalam. Sesaat Ardian membelalakkan matanya.
Kecupan yang sangat lekat dan dalam itu akhirnya membawa mereka terbang ke awang-awang. Ardian membuka mulutnya, menangkap leher belakang Rindu dan melingkarkan tangan wanita itu ke lehernya. Mereka saling mengungkapkan perasaan. Ardian tidak melewatkan setiap bagian dari bibir wanita yang selalu membuatnya bergairah. Dari atas hingga bawah, sudut kiri hingga kanan, begitu terus berulang-ulang. Rindu pun membalasnya dengan hal yang sama. Mereka saling menikmati keindahan yang membawa mereka terbang bersama. Sesekali mereka mengambil napas yang habis di sela-sela kenikmatan itu.
Mereka saling menikmati, memainkan lidah hingga merayapi setiap rongga dalam mulut. Terdengar suara lenguhan kecil di sela aktivitas itu. Mereka semakin bergairah, hingga memejamkan mata merekam setiap sesapan yang mereka dapat. Ardian membuka matanya sesaat lalu menuntun tubuh mereka terbaring di sofa. Secara perlahan bibirnya merayap hingga ke leher dan telinga Rindu.
Secara spontan naluri wanitanya menginginkan lebih dari itu. Rindu mengangkat dagu dan mencengkeram rambut belakang Ardian. Mulutnya mengeluarkan suara lenguhan yang menggairahkan. Ardian semakin terpacu untuk melanjutkan aksinya. Sekarang bibirnya merayap ke sisi leher satu lagi hingga meninggalkan bekas kemerahan di bagian belakang leher putih itu.
Tangan satunya sedang bergerilya membelai lembut pinggang perut hingga ke dada montok Rindu. Sentuhan lembutnya menerbangkan Rindu hingga mengeluarkan suara-suara indah dari mulutnya. Sebelah tangan Rindu mencengkeram kuat belakang leher Ardian. Dan tangan satunya lagi meremas pundak Ardian menahan kenikmatannya.
Ketika tangan Ardian membuka kancing kemeja Rindu. Tiba-tiba kantong jas sebelah kanannya bergetar. Dia membiarkan. Namun, getaran itu terus saja mengganggunya. Kegiatan mereka pun terhenti seketika. Meruntuhkan gejolaknya yang hampir mencapai puncak.
"Hiisssttt ...!"
__ADS_1
Terpaksa Ardian bangkit dan mengangkat ponselnya terlebih dulu. Ardian bangkit lalu duduk di samping Rindu yang masih terbaring. Itu panggilan dari Dimas, mereka sudah membuat janji nanti malam. Mungkin Dimas ingin memastikan lagi.
"Ini dari Dimas, sebentar, Sayang."
"Emm …," Guman Rindu, dia bangun merapikan pakaiannya yang sudah berantakan. Satu kancing kemejanya telah lepas. Posisi benda yang ada di dalam kemejanya juga tidak tepat lagi. Rambutnya juga telah kusut. Tanpa mempeduliakan obrolan Ardian dan Dimas dia merapikan dirinya kembali.
"Halo …!" ucap Ardian dengan emosi tertahan, merasa kesal diganggu begitu saja.
"Ardi … lo di mana?"
"Masih di kantor."
"Satu jam lagi gue sampai ke apartemen lo, gue masih di jalan jemput Dian."
"Gue juga mau pulang."
"Ok .…"
Ardian mematikan panggilan itu, lalu menoleh ke arah wanita di sampingnya. Rindu telah selesai merapikan semuanya. Ardian tersenyum senang dan Rindu membalasnya. Kemudian Ardian mendekat lalu mengecup kening Rindu seraya berbisik.
"Maaf, Sayang … kita harus berhenti sekarang. Kita ada janji sebentar lagi."
"Kita?"
"Erm … dengan Dimas," jawab Ardian setelah mereka berhadapan.
"Dian juga?"
"Tentu saja, ayo berangkat."
"Tapi Kanaya?"
"Kita akan menjemputnya terlebih dahulu."
"Oke, baiklah." Rindu mengambil tasnya yang diletakkan tadi di meja. Lalu mengambil sebuah benda bundar dan wajahnya dengan spon bedak. Rindu menambahkan warna di bibirnya lagi. Dengan sabar Ardian menunggu ritual yang dilakukan wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Dia tersenyum mengagumi paras cantik yang telah menggetarkan hatinya.
__ADS_1
***