
***
Jam istirahat, Ardian berlari ke UKS kembali melihat keadaan Rindu. Setelah memastikan Rindu masih tidur, dia pun berlari ke arah kantin. Ardian membeli Roti dan beberapa cemilan jua air mineral. Berpikir kalau Rindu akan lapar saat bangun nanti. Ardian segera kembali ke UKS, lalu membangunkan Rindu.
"Rin ... Rindu bangun." Ardian menggoyangkan bahu gadis itu agar terbangun.
Rindu melenguh pelan membuka matanya. Sedikit terkejut dengan kehadiran Ardian yang dekat dengan wajahnya. Tadi Rindu ketiduran setelah meminum obat penghilang nyeri.
Ardian mengambil kursi lalu duduk di sisi kanan ranjang Rindu. Melihat Rindu berusaha bangkit Ardian pun membantunya. "Kamu udah baikan?"
"Ermm." Guman Rindu seraya mengangguk.
"Ini aku bawain roti, kamu makan dulu." Ardian mengambil roti dari kantong plastik yang dia letakkan tadi di meja.
Rindu menerima pemberian Ardian. "Kamu sudah makan?" tanya Rindu kemudian, dan dijawab senyuman dan gelengan Ardian. "Aku udah gak apa-apa kok, kamu ke kantin aja sana."
"Kalau kamu udah baikan, kita ke kantin bareng, rotinya dimakan nanti aja, lebih baik makan nasi dulu."
"Ya, baiklah." Rindu pun patuh. "Ardi, makasih ya udah bantuin aku tadi," ucapnya lagi.
"Ya, sama-sama," jawab Ardian lembut. "Udah yuk jalan." Dia keluar dari ruang UKS lebih dulu seraya tersenyum. Lega dia rasakan, kondisi sahabatnya itu sudah baikan.
Rindu mengikuti Ardian berjalan di belakang. Menyembunyikan perasaan senang karena perhatian dari Ardian. Satu helaan napas kecil terdengar. "Ardi, kenapa kamu baik banget, apa perhatian seperti ini juga kamu tunjukin ke Dania? Aku semakin takut menyatakan perasaan. Sebenarnya aku seperti apa di mata kamu?" batin Rindu berujar. Begitu banyak pertanyaan di benaknya.
***
Di kantin sekolah. Dimas, Dian, Teo dan Bram yang duduk bersama melihat kedatangan Rindu dan Ardian. Mereka belum tahu keadaan Rindu yang tadi pagi karena berlainan kelas. Rindu pun lupa mengabari Dian yang biasanya lebih dulu tahu apapun yang sedang terjadi. Ardian dan Rindu menghampiri teman-temannya.
"Rin, muka kamu kenapa pucet gitu?" tanya Dian yang membuat empat orang pria yang duduk bersamanya memandangi wajah Rindu. Mereka melihat memang wajah Rindu sedikit pucat.
"Aku nggak apa-apa ... cuma kelaparan aja, belum makan." Rindu menyengir, alasan itu pun dapat diterima temannya.
"Kamu mau makan apa, Rin? Biar aku yang pergi beli." Semua pandangan kini beralih ke Ardian yang sepertinya baru mereka sadari kehadirannya.
"Woiii ... Ardi, tumben lo gabung sama kita. Biasanya juga lo makan bareng pacar lo." Pernyataan Dimas juga jadi pertanyaan Dian, Teo dan Bram. 'Tumben?'
"Memangnya kenapa, gue nggak boleh gabung sama kalian?" tanya Ardian.
__ADS_1
"Ya nggak gitu. Nggak biasanya aja," ujar Dimas.
Jawaban Dimas tidak dipedulikan. Pandangan Ardian justru beralih ke Teo yang sedang membisikkan sesuatu ke Rindu yang duduk bersebelahan. Rindu terlihat tersenyum.
"Ardi ... woiii, malah bengong." Dimas menyenggol siku Ardian.
"Nggak apa-apa. Gue cuma kangen kumpul bareng kalian." Alasannya kemudian dijawab Ooo oleh teman-temannya.
"Rindu! kamu makan apa?" Ardian memanggil dengan sedikit berteriak membuat Rindu menoleh dan teman-temannya kaget.
Rindu bergumam sejenak. "Yang biasanya aja." Rindu menjawab santai.
Ardian yang sudah tau makanan biasa yang Rindu pesan langsung menuju stan makanan. Dalam hati dia merengut. "Teo bisikin apa sih ke kamu? Kenapa kamu senang sekali?"
Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Ardian. Selama ini dia sangat yakin, Rindu lebih suka di dekatnya dari pada laki-laki lain. Tetapi Ardian tidak pernah berpikir bahwa Rindu memiliki perasaan lebih, begitu pula dirinya terhadap Rindu. Dia yakin itu hanya rasa suka sebagai teman terdekat. Perhatian yang dia beri selama ini karena status mereka yang bersahabat.
***
"Rin ... perut kamu masih sakit?" Dian yang sudah tau Rindu sakit menyusul Rindu ke kelas ketika jam pulang.
"Udah nggak apa-apa." Rindu bergumam dan tersenyum.
"Kuat, aku bisa kok."
"Oke deh, kalau kamu yakin nggak apa-apa. Oya, jadi beneran Ardian yang nganterin kamu ke UKS tadi pagi?" tanya Dian penasaran karena belum jelas cerita lengkapnya.
"Iya. Ardian juga yang belikan aku pembalut," jawab Rindu santai.
"Apa?" Seketika Dian pun tertawa terbahak-bahak. "Si–si kunyuk itu beli pembalut?" Dia tak berhenti tertawa. "Apa kata dunia?" Tawa Dian kini tertular pada Rindu. Mereka merasa harus menertawai Ardian habis-habisan bersama.
"Parah, parah! Sakit perut aku, ini lucu banget. Hahaha ... gimana ceritanya?"
Rindu mengusap air dari sudut matanya. "Aku nggak kepikiran apa-apa lagi. Kebetulan dia WA dan nungguin aku keluar dari toilet. Truss sekalian aku mintai tolong," ujarnya.
"Aku nggak bisa bayangin gimana malunya Ardi pas beli pembalut kamu." Dian kembali tertawa. "Huufftt ... ada-ada aja kamu. Udah, udah aku nggak kuat ketawa terus." Dian memegang perutnya yang hampir menegang.
Rindu pun menghela napasnya. "Aku juga nggak bisa bayangin, aku juga nggak kuat ketawa terus." Dia pun menghentikan tawa.
__ADS_1
"Ganti baju sekarang aja yuk, sampe studio kita langsung latihan, sekalian aku mau ganti pembalut," ucap Rindu kemudian.
"Ok, ayolah."
Mereka pun keluar kelas dan senyum-senyum geli. Saat melewati kelas 2-2, kelasnya Dania. Ardian terlihat ada di sana. Dua sejoli itu sepertinya sedang berdebat.
"Rin, mereka lagi berantem ya?" tanya Dian berbisik.
"Iya, sepertinya begitu."
"Baru juga dua minggu pacaran, udah berantem aja."
"Biarin ah, aku nggak mau ikut campur, yuk cepetan jalannya." Mereka pura-pura tidak mempedulikan pertengkaran itu.
Menyadari keberadaan Rindu dan Dian, Ardian menoleh sekilas. Namun, fokusnya sekarang ada di Dania. Berusaha membujuk dan meminta maaf karena kejadian tadi pagi. "Nia … Sayangku … maafin aku ya?"
Dania tampak mengerucutkan bibirnya, Ardian tersenyum gemas. Ini pertama kalinya bertengkar dengan pacar, pertama kali membujuk pacarnya yang merajuk.
"Kamu suka ya sama Rindu?"
Mendengarkan pertanyaan Dania, Ardian meledakkan tawanya. "Suka? Cewek galak itu? Yang bener aja?" Merasa lucu dengan pernyataan Dania dia pun menggeleng. Lalu Ardian menggenggam tangan sang pacar. "Sayang dengar … aku, Dimas, Dian dan Rindu udah lama sahabatan. Dan kami memang selalu saling mempedulikan. Aku juga udah bilang sama kamu, aku nggak ada perasaan apa-apa ke Rindu. Aku cuma nyaman berteman sama dia sama kayak Dimas dan Dian. Gak lebih dari itu," ujarnya.
"Bener ... cuma itu?" Dania menatap dalam mata Ardian. "Sebenarnya di mata kamu Rindu itu seperti apa Ardi?" Lanjutnya dalam hati. Cemburu, tentu saja dia akan cemburu, melihat perhatian sang kekasih terbagi pada orang lain.
"Iya bener … nggak lebih dari itu, kita cuma temen," ucap Ardian meyakinkan.
"Tapi kamu perhatiannya udah berlebihan tau nggak? Aku gak suka!"
"Iya, iya ... aku minta maaf ya … aku janji nggak akan berlebihan lagi." Ardian mengangkat tangannya membuat janji.
"Aku nggak mau tau. Pokoknya aku belum maafin kamu. Aku mau pulang, kamu jangan gangguin aku dulu. Jangan nanya-nanya, aku mau sendiri!" ucap Dania tak mau dibantah lagi lalu pergi.
Ardian akhirnya mengalah. "Ya udah kalau gitu aku anterin Sampai depan ya?"
"Terserah ...."
"Duhhh, dasar cewek, apa-apa terserah. Biarin dulu deh, dari pada tambah panjang urusanya," batin Ardian.
__ADS_1
Ardian pun terpaksa mengikuti Dania dari belakang. Menemani Dania naik angkot dan pulang sendirian. Biasanya dialah yang mengantar jemput Dania setiap hari.
***