
***
Seorang laki-laki dengan hoodie hitam turun dari mobil yang berada di depan mobil mereka. Pria itu menutup kepala dan memakai topi. Tiba-tiba dia melayangkan tinjunya yang cukup keras hingga membuat sopir tadi tersungkur. Jalanan terlihat sepi, dan Rindu tidak menyadari itu. Pria berpakaian hoodie itu menghentikan mobil mereka tepat di jalan tol yang sepi pengendara.
"Aaaaaaa …." Rindu menjerit keras, ia mencoba meminta bantuan. Tetapi tidak ada kendaraan lain di sana.
Rindu ingin keluar dan membantu. Tapi ia sangat merasa ketakutan. Tubuhnya bergetar sangat hebat. Pria itu mulai mendekat ke arahnya. Rindu terkejut begitu melihat sosok pria yang ada di balik pakaian hitam itu
"Ma–Mas, Bagas?" tanya Rindu pada diri sendiri.
Pria itu tersenyum dari kejauhan. Senyuman yang sangat menakutkan. Saat sampai di depan pintu kemudi, ia membuka kunci pintu bagian belakang tempat Rindu berada. Wanita itu mencoba menghindar.
"Apa-apaan kamu, Mas!" teriak Rindu mencoba menghentikan aksi mantan suaminya itu.
Tanpa berkata-kata lagi, Bagas membuka pintu dan menarik Rindu keluar dari dalam mobil. Wanita itu berteriak, meronta minta dilepaskan. Untung saja obatnya diminum dengan teratur, kejadian ini tidak terlalu mempengaruhi mentalnya.
"Mas, Lepas!"
"Diam kamu! Ikut aku sekarang!" Bagas menggenggam dengan kuat pergelangan tangan Rindu dan menariknya secara paksa.
"Mau kemana, Mas! Lepaskan aku, Mas!"
Teriakan Rindu tidak diperdulikannya. Bagas terus menarik dan mendorong Rindu masuk ke dalam mobil. Ia memasangkan sabuk pengaman, lalu menutup dengan kasar. Rindu tidak ada kesempatan untuk melarikan diri, pintu telah terkunci.
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi. Membawa mereka ke sebuah tempat yang sepi. Rindu yang ketakutan menggenggam pegangan yang berada di atas kepalanya. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pelipisnya. Jantungnya bekerja tidak beraturan. Bagas seperti orang yang berbeda, penampilannya juga banyak berubah. Rindu hampir tidak mengenalinya.
"Mas, Mas, hentikan mobilnya, kamu jangan seperti ini. Aku takut, Mas!" Suaranya bergetar, ia memohon dengan mengiba.
Raut wajah Bagas terlihat sangat menakutkan. Matanya merah dan tercium aroma menyengat alkohol dari tubuhnya. Rindu hampir muntah dibuatnya, apalagi dengan kecepatan mobil yang membuat perutnya terasa diaduk-aduk.
"Mas, kita mau kemana?" Rindu memperhatikan jalanan, hanya ada beberapa buah kendaraan yang terlihat. Wajahnya semakin ketakutan.
Beberapa menit kemudian, mobil masuk ke sebuah lahan kosong. Bagas memarkirkan kendaraannya di tengah lapangan. Rindu segera membuka sabuk yang membentang di badannya dan keluar dengan tergesa-gesa. Rindu memuntahkan isi perut yang berontak ingin keluar sedari tadi.
__ADS_1
"Mas, Bagas. Badanmu bau sekali, berapa banyak kamu minum?" Rindu memundurkan tubuh, pria itu mendekat padanya.
Dengar kasar Bagas mendorong tubuh Rindu hingga tersandar ke mobil. Dia mengungkung Rindu dengan kedua tangannya. Wanita itu menegang, mencoba menjauhi wajah mantan suaminya itu.
"Katakan, dia pria itu?" tanyanya dengan nada dingin dan menekan.
"Apa maksud kamu, Mas?"
"Jangan berpura-pura, aku tahu kamu berhubungan dengan pria itu sekarang."
Terdengar bunyi yang sangat keras, hingga Rindu tersentak. Bagas memukul bagian atap mobil dengan kepalan tangannya.
"La-Lalu, apa hubungannya dengan semua ini? Bukankah hubungan kita sudah berakhir?" tanyanya kemudian dengan ketakutan, lututnya mulai terasa lemas.
"Aaarrgghhh …!" Bagas berteriak mengacak-acak rambutnya. Kemudian menarik paksa Rindu masuk ke jog bagian belakang. Wanita itu di lempar dan ia masuk langsung menindih tubuh Rindu.
"Aaaaa, aaarrgg … Mas! Mau apa kamu?" Tangan Rindu ditahan di atas kepala, ia terus memberontak.
"Aku sudah memperingatkanmu. Apa kau lupa!" bentaknya memekakkan telinga Rindu.
"Oh … jadi benar dia pria itu? Dia ayah dari anak yang kau lahirkan?"
Bagas teguh dengan pendiriannya selama ini. Dia masih berpikir Rindu berselingkuh. Otaknya benar-benar telah diracuni. Banyak omongan yang membuatnya percaya akan hal itu. Bahkan ia percaya bahwa alasan Rindu ingin bercerai adalah karena ayah dari anak yang Rindu lahirkan, seperti pemikirannya selama ini.
"Apa maksudmu? Kanaya anakmu mas, darah dagingmu!" Perkataan Bagas benar-benar membuatnya marah, pria itu masih tidak mempercayainya.
"Setelah yang aku mengikuti kalian beberapa hari ini, kamu pikir aku akan percaya, hah! Hahaha, aku tidak bodoh, Rindu!" bentaknya sekali lagi dengan mengguncang tubuh Rindu. Dia benar-benar terlihat kacau, wajah dan matanya memerah.
Rindu merasakan tubuhnya seakan tak berdaya. Kemarahan yang Bagas perlihatkan seakan membuat emosinya pun ikut menguap. "Mas, kenapa kamu tidak percaya juga. Aku tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun selain kamu, Mas!"
"Benarkah? Lalu anak itu?" Kepala Bagar bergerak ke kiri dan kanan secara perlahan, mata merahnya menusuk dengan tatapan tajam.
"Aku sudah mengatakannya berulang kali, Kanaya putrimu, Mas." Rindu mencoba melunakkan nada bicaranya, dia ingin ini semua cepat berakhir.
__ADS_1
Namun, tampaknya Bagas tidak peduli. "Aahhh … persetan. Kau harus menjadi milikku sekarang!"
Bagas mencium bibir Rindu secara paksa. Serbuan pria itu membuat Rindu memberontak sekuat tenaga. Gila! Bagas yang sekarang seperti sedang kesetanan.
"Ermmm, emmm, le … pas. Mas, jangan seperti ini, aku mohon!" Rindu melawan, dia mengatupkan mulutnya. Kepalanya terus bergerak ke kiri dan kanan.
Bagas mengangkat kepalanya. Tubuhnya semakin ia rapatkan pada tubuh Rindu. "Diamlah!"
"Mas, asal kamu tahu, kekasihku telah memasang alat pelacak di ponselku. Dalam waktu kurang dari 30 menit ia akan sampai di sini!" ucap Rindu menekankan, dan semua itu memang benar. Ardian telah melakukan banyak cara untuk menjaga keselamatan Rindu.
Cekalan Bagas pun melonggar. Rindu akhirnya mendorong sekuat tenaga. Kakinya yang bebas diangkat dan menghantam bagian bawah pria itu. Bagas berteriak, melepaskan cengkraman tangannya. Ia mengerang kesakitan. Namun, saat Rindu ingin lari, tubuh Bagas menindihnya dengan kuat.
"Kurang ajar! ****** sialan!" Umpatnya dengan berteriak memegangi bagian bawah perutnya. Tendangan Rindu begitu kuat sehingga benda itu terasa ngilu.
Setelah berusaha menahan sakitnya, pria itu meraih kerah baju Rindu dan menatap tajam kearah matanya. "Ingat ini, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia. Aku sudah mengatakan sebelumnya padamu. Dan aku tidak akan main-main dengan ucapanku waktu itu!" ucap Bagas dengan mengancam.
"A-apa maksudnya?"
"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi. Aaaarrgghh … keluar!" Bagas membuka pintu mobil dan menarik Rindu keluar secara paksa. Rindu terjerembab ke atas rerumputan akibat dari dorongan Bagas. Tas Rindu yang ada di jok depan penumpang dibuang begitu saja.
Wanita itu terdiam mencerna ucapan Bagas yang terakhir. Di masih bergetar karena ketakutan. Rindu berpikir keras, dia mencoba mengingat-ingat kembali tentang ancaman mantan suaminya dulu.
"Kanaya! Aaahhhh … Kanaya!" Rindu berteriak sekeras mungkin, ia memukul-mukul dadanya. Erangannya sangat memilukan. Dia tidak pernah berpikir jika Bagas akan tega menyakiti putri mereka.
Rindu merangkak meraih tas yang berada tidak jauh darinya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ada banyak panggilan masuk dari Ardian. Ia ingin menghubungi Ardian kembali. Namun, ponsel itu tiba-tiba berbunyi. Dengan tangan bergetar Rindu menerima panggilan itu.
"Rin … Rindu, kamu baik-baik saja?" Suara Ardian terdengar sangat panik di seberang sana.
"Ardi … aaarrgghhh … Kanaya, Ardi, Kanaya!"
Rindu meraung-raung begitu mendengar suara Ardian. Wajahnya telah basah karena air mata.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
***