Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Maaf dan terima kasih


__ADS_3

***


130815


Baru saja aku bermimpi kamu mendatangiku. Kita jalan-jalan di pantai, tapi kamu tidak berbicara sama sekali. Kita berlari dan bermain seperti yang sering kita lakukan dahulu. Dikala senja, kamu tiba-tiba mengatakan kata maaf dan tolong padaku. Kamu tersenyum tapi wajahmu telah basah karena air mata. Lalu kamu tiba-tiba menghilang ditelan kabut.


Aku sangat ketakutan, aku mencari-cari keberadaanmu. Apa kamu baik-baik saja di sana? Semoga saja tidak ada hal yang buruk sedang terjadi.


***


020221


Hari ini aku datang melihatmu dari kejauhan. Kamu menggendong gadis kecil yang tampak mirip dengan dirimu. Aku seperti pengecut yang berdiri dalam kegelapan.


Apakah kamu bahagia, Rindu?


Delapan tahun Rindu, waktu yang aku habiskan tanpa dirimu tidaklah mudah. Selama delapan tahun ini juga aku memendam rasa Cinta yang semakin lama semakin dalam. Aku menyesali kebodohanku yang terlambat menyadari Cinta yang sebenarnya.


Aku sangat merindukan kamu. Saat aku tau kamu telah bahagia, aku menyerah. Mencoba melupakan dan menyimpan baik-baik kenangan kita.


Ternyata kamu begitu menderita selama ini. Andai saja aku menemukan kamu lebih awal, mungkin sekarang kita sudah bahagia dengan keluarga kecil kita.


***


080321


Aku kembali mengutip kata-kata bijak. Kata yang mewakili perjuangan cintaku padamu.


'Love does not begin and end the way we seem to think it does. Love is a battle, love is a war; love is a growing up.' – James Baldwin


(Cinta tidak dimulai dan berakhir seperti yang kita pikirkan. Cinta adalah pertempuran, cinta adalah perang; cinta adalah tumbuh dewasa)


***


090321

__ADS_1


Kata-katamu ini akan aku genggam selama hidupku.


'Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah didalam hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di bagian mana saja didalam hati. Bisa datang dan pergi begitu saja.'


Aku berharap akulah orang yang mengikat jiwamu, Rindu.


***


100321


'Aku mencintaimu, tanpa awal, tanpa akhir. Aku mencintaimu karena kamu telah menjadi organ yang sangat dibutuhkan dalam tubuhku. Tanpa rasa takut. Tanpa harapan. Tidak menginginkan imbalan, kecuali bahwa kamu mengizinkan aku untuk menjaga kamu di sini di hatiku, agar aku selalu tahu kekuatan kamu, mata kamu, dan roh kamu yang memberikanku kebebasan dan membiarkanku terbang.' - Jamie Weise


Seperti itulah arti dirimu bagiku.


Rindu, I love you.


***


110321


***


Sementara itu di lantai satu, di dalam ruangan kantor sekuriti. Agnes masih dengan kemarahannya, ia tidak diijinkan pergi sebelum Ardian datang. Membuat keributan dan menyusahkan satpam di sana.


"Pak! Buka pintunya … kalian jangan sembarangan! Aku bisa melaporkan kalian ke Direktur utama!" Teriakan Agatha memekakan telinga. Pintu kantor itu di pukulnya berulang kali.


Tampaknya kedua sekuriti tadi mengurung Agnes di dalam. Ruangan yang hanya berukuran 3x4 itu. Mereka terpaksa, jika tidak mereka akan habis di cakar dengan kuku panjang wanita itu. Sekarang saja sudah ada bekas cakaran di tangan mereka, memerah dan sedikit perih.


Beberapa menit kemudian, Ardian datang bersama Eja—asisten kepercayaannya.


"Bos," sapa kedua sekuriti itu memberi hormat.


"Keluarkan dia!" perintah Ardian dengan tegas.


"Baik, Bos."

__ADS_1


Wanita itu keluar dengan kicauannya yang tidak bisa diam. Tetapi bila melihat Ardian ada di depannya, ia terdiam. "Ardian …."


"Ada urusan apa kau datang mencariku?" Pria itu bertanya dengan sikapnya yang dingin.


"Ardi, aku merindukanmu. Aku jauh-jauh datang dari London hanya untuk melihatmu," katanya lirih.


"Hah … berapa kali harus aku katakan. Jangan pernah ganggu aku lagi. Kita tidak ada hubungan apa pun." Ardian menegaskan ucapannya.


"Tapi, Ardian. Keluarga kita … kenapa ka—"


"Cukup!" Darah Ardian terasa mendidih dibuatnya. Wanita itu selalu menggunakan alasan yang sama setiap kali datang "Jangan membuatku naik darah! Aku tidak melaporkan kepada polisi itu sudah sangat bagus!" Tegasnya dengan intonasi yang menekan.


"Ja–jadi, wanita itu benar-benar adalah kekasihmu?" tanya Agnes terbata-bata. Tak ada yang bisa diragukan lagi, Ardian sangat melindungi wanita yang baru ditemui tadi.


"Tentu saja!" Ardian berteriak hingga membuat wanita itu terjingkat, lalu mendengus kesal. "Dengar … aku memberimu peringatan. Aku tidak akan segan-segan berbuat kasar bahkan dengan wanita sekali pun. Sekali lagi kau menyentuh wanitaku. Aku tidak akan tinggal diam. Jangan lagi perlihatkan muka busukmu itu di depanku lagi, paham!"


Agnes merasa sedikit terancam, ucapan Ardian benar-benar menusuk. Hatinya terasa mencelos seketika, dia terdiam membisu. Ardian berlalu begitu saja, menghampiri sang asisten yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Setelah mengatakan beberapa hal, pria itu pun pergi. Wanita itu pun dilepaskan dalam keadaan kesal setelah mendengar pesan yang disampaikan Ardian melalui sang asisten.


Dengan kekesalannya Agnes menuju basement, tempat dia memarkir kendaraan. Seharian dia menunggu kedatangan Ardian dan perlakuan yang seperti ini didapatkan. Dengan kepribadiannya yang tidak mau kalah, ini tidak akan berakhir begitu mudah. Bagaimana bisa dia kalah dengan orang lain. Prinsip dalam hidupnya, ia harus bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Jika tidak wanita itu akan merusak dan menghancurkannya.


Agnes duduk termenung di dalam mobilnya. Ia terlihat sedang berpikir. Mencoba mengingat ingat kembali wajah wanita yang ia temui di kantor Ardian.


Cukup lama ia terdiam. Kemudian Agnes membuka galeri foto pada ponselnya. Sepertinya ia mengingat, pernah melihat wajah Rindu melalui sebuah foto. Sesaat kemudian terlihat ia menarik sudut bibirnya. Sebuah rencana terlintas dalam benaknya. Lalu ia mencari nama kontak seseorang yang ada di ponsel itu dan melakukan panggilan.


***


Di sisi lainnya, Rindu sedang fokus membaca isi diary Ardian yang diambilnya di atas meja. Ia membaca lembar demi lembar, halaman ke halaman. Setiap kata, setiap kalimat yang tertulis di sana membuatnya tersentuh. Hatinya terenyuh seketika itu.


Beberapa kali terlihat Rindu menyeka pipinya yang basah karena air matanya. Setiap halaman di buku itu seakan membuatnya ingin menangis dengan keras. Setiap tanggal penulisan di sana ia cocokkan dengan hari kegiatannya di waktu itu. Ada satu halaman yang membuatnya menangis tanpa henti.


"Ardi, apakah mimpimu di hari ini adalah ketika aku mengalami kejadian itu? Hah … ternyata pesanku hari itu sampai padamu. Tuhan mengirimkan melalui mimpi. Terima kasih telah mengkhawatirkan aku," batin Rindu berujar. "Selama lebih dari delapan tahun. Disetiap hari-harimu selalu memikirkan aku. Aku bahagia, walaupun ini sudah sangat terlambat untuk aku mengetahuinya. Maaf dan terima kasih. Aku merasa kembali ke masa-masa indah kita dulu. Masa dimana hanya aku yang berjuang keras menahan rasa cintaku padamu."


Rindu mendekap buku diary bersampul kulit itu di dalam dadanya. Ia duduk dan menyandarkan kepala pada sofa. Tetes demi tetes cairan yang turun dari bendungan mata, disekanya berkali-kali. Kertas putih tipis banyak berceceran di lantai. Entah berapa lembar tisu yang habis ia gunakan untuk mengelap air mata yang ditumpahkan.


***

__ADS_1


__ADS_2