Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Harus kembali


__ADS_3

***


Tidak ada di mana pun jalan itu lurus selamanya. Setiap tujuan pasti akan melalui belokan dan halangan. Di jalan yang lurus kemudahan akan dirasakan. Di jalan yang berlubang akan ada kesulitan, tapi tetap harus diteruskan. Di jalan yang berbelok harus hati-hati saat menghadapi tikungan. Hingga akhirnya tujuan itu ada di depan mata. Maka hati akan merasa puas dan bahagia.


Begitu pun juga dengan cinta. Tidak ada yang namanya cinta tanpa perjuangan. Tidak ada cinta tanpa kesulitan. Tidak ada cinta tanpa penghalang. Cinta menuntut untuk membuat sang pencinta menjadi kuat. Cinta mendorong sang kekasih untuk berjuang menuju kisah yang indah nantinya. Cinta penyemangat juga kekuatan yang tiada duanya.


Ardian dan Rindu ibarat dua insan yang sedang berjuang menghadapi rintangan cinta mereka. Entah jalan cinta seperti apa yang akan mereka lalui nanti. Yang mereka tau sekarang adalah untuk terus maju apapun halangan kedepannya nanti.


"Rin, hari ini kita tidak langsung ke kantor, ya," ucap Ardian seraya membukakan pintu mobilnya.


"Kenapa, kita mau kemana dulu, Ardi?" tanya Rindu berdiri di samping, mereka berhadapan.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Kamu juga akan tahu nantinya."


"Baiklah, asalkan jangan yang aneh-aneh aku ikut."


Pria itu tersenyum lalu mencubit hidung Rindu gemas. Rindu membalas dengan muka cemberut dan tersenyum tipis. Mereka melambaikan tangan pada Kanaya dan Mama yang mengantar sampai depan pintu. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan berangkat. Pagi hari mereka dimulai dengan senyuman.


Mobil hitam milik Ardian melaju dengan kecepatan sedang. Mereka menuju ke sebuah tempat yang sudah lama tidak Rindu datangi. Tepatnya delapan tahun yang lalu, dimana sang papa masih ada mengisi hari-harinya.


"Ardi, kita mau ke …." Ucapan Rindu terhenti begitu Ardian benar-benar memasuki gerbang sebuah gedung.


"Benar, Sayang, kita sekarang berada di perusahaan papa kamu dulu," jawab Ardian tersenyum melirik ke arah Rindu.


"Tapi, kenapa kamu membawaku ke sini?" tanyanya heran.


"Aku sudah membeli pabrik ini."

__ADS_1


"Hah, maksudnya apa?"


Ardian justru tersenyum melihat reaksi Rindu yang menggemaskan. Mobil diparkirkan di tempat khusus, di sana telah ada Eja dan Dika yang menunggu kedatangan mereka. Rindu terdiam, dia berfikir kenapa Ardian melakukan ini semua adalah untuk dirinya.


"Yuk, Sayang kita turun."


"Ardi, kenapa kamu sampai melakukan ini? Aku tidak pernah meminta, kamu selalu memberi. Ardi, apa aku pantas untuk semua ini?" tanyanya lirih.


"Sssttt … Sayang, jangan bicara begitu. Kamu pantas mendapatkannya. Kulakukan semua ini untukmu. Semua karena rasa cinta dan sayang aku sama kamu. Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, oke!" Ardian mengusap puncak kepala Rindu dan tersenyum. Kebiasaannya ketika dulu saat masih sekolah.


Dodol resek julukan yang biasa Rindu sebut, dan gadis galak, Ardian selalu membalas Rindu. Dulu Rindu merasa senang mereka bercanda seperti itu, dia selalu membalas dengan muka cemberut. Bedanya sekarang, usapan Ardian di kepalanya membuat Rindu merasa nyaman, dia lebih bahagia.


"Ardi, aku nanti harus bagaimana? Apa yang harus aku katakan pada Paman Yono dan Paman Adit. Kami sudah lama tidak bertemu dan …."


"Kamu jangan pikirkan itu. Semua yang seharusnya menjadi milikmu harus kembali padamu. Perusahaan ini salah satunya. Keluarga kamu berhak untuk mendapatkan itu kembali," terang Ardian mengelus lembut pipi Rindu, lalu menggenggam tangannya.


"Terima kasih, Ardi."


"Jadi, kita bisa turun sekarang?" Rindu mengangguk, Ardian mengecup punggung tangannya dengan lembut.


Rindu memainkan peranya disini, atas instruksi dari Ardian, Rindu harus bersikap dingin dan angkuh. Karena tujuan mereka adalah untuk membuat kedua saudara Papa Ariel yang serakah itu mati kutu. Ardian ingin Rindu mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya. Dengan penuh percaya diri Rindu berjalan di samping Ardian. Di belakang mereka ada Eja dan Dika—pengacara yang mengurus urusan pengalihan saham.


Saat memasuki ruangan rapat, semua yang ada di sana menyambut dengan antusias. Yono, Adit dan tiga orang pemilik saham yang lain menyalami mereka bertiga. Sedangkan Rindu menunggu di luar ruangan, sesuai perintah dari Ardian. Setelah urusan penandatanganan selesai, Eja mengajak Rindu masuk.


"Kamu, Ri–Rindu …?" tanya Yono terbata-bata melotot ke arah Rindu. Dia adalah adik pertama Papa Ariel, otak dari perebutan perusahaan itu dulu.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Adit kemudian, dialah orang yang dulu mengusir Mama Dahlia keluar dari perusahaan itu secara kasar.


Dengan percaya diri Rindu masuk dan berjalan ke tempat Ardian berada. Ia tidak memperdulikan kedua pamannya itu. Rindu membusungkan dada berjalan penuh keanggunan. Ardian bangkit dan mulai berbicara.


"Tuan-tuan, perkenalkan … Rindu Pramita. Ahli waris perusahaan ini yang sebenarnya," kata Ardian mengundang pertanyaan semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Perdebatan pun terjadi. Yono dan Adit tidak dapat menerima. Mereka menuduh Ardian-lah yang membuat perusahaan ini bangkrut. Mereka menolak untuk menjual perusahaan itu Tapi semua berkas telah ditandatangani dan ada pengacara yang mengesahkan semuanya.


"Jadi, kalian yang menjatuhkan perusahaan ini, dan membelinya untuk anak itu!" tunjuk Yono pada Rindu dengan marah.


"Maaf Pak Yono, perusahaan ini memang sudah mengalami kesulitan dari awal. Kami hanya mengambilnya kembali dengan cara yang benar," jawab Ardian kemudian dengan sikap dinginnya.


Perusahaan percetakan yang dibangun dengan susah payah oleh almarhum papanya Rindu, memang pernah jaya di tangan Yono dan Adit. Itu pun karena almarhum telah banyak bekerja sama dengan rekan bisnis yang lumayan besar. Tapi karena keserakahan mereka berdua, perusahaan ini hanya bertahan beberapa tahun saja dalam kejayaan.


"Ada yang ingin kamu sampaikan, Rin?" Rindu menatap Ardian lalu menoleh ke arah kedua orang yang dikenal adalah pamannya.


"Terima kasih, Paman. Sudah mau mengembalikan perusahaan ini?" ucap Rindu mengukir senyum sinisnya.


"Aku tidak pernah ingin memberikan perusahaan ini padamu!" bentak Dika mengundang perhatian semua orang.


"Aku juga tidak pernah ingin mengambil semua ini darimu, Paman. Tapi seseorang mengatakan, semua yang sudah menjadi milikku, harus kembali padaku."


"Kau! Anak yang tidak tau diri. Aku yang bersusah payah membangun semua ini!"


"Paman lupa? Papa yang membawa Paman masuk, Papa yang memulai semuanya. Papa bahkan banyak membantu kalian berdua! Jadi siapa yang tidak tau diri!" balas Rindu berapi-api, ia sudah tidak tahan dengan perlakuan kedua pria itu pada keluarganya.


"Anak kurang ajar!"


"Cukup!" teriak Ardian membuat semua hening. "Eja, Dika … kalian urus ini semua, aku tidak mau ada keributan lagi di sini. Usir mereka berdua dari perusahaan ini!"


"Baiklah, Bos," jawab Eja dan Dika bersamaan.


Ardian mengajak Rindu keluar dari ruangan itu. Mereka menatap kepada kedua orang itu dengan sinis. Ardian merasa puas dengan hasil kerjanya, sudah lama ia menanti kesempatan seperti ini. Akhirnya usahanya selama tiga tahun ini berhasil. Di luar ruangan sudah ada beberapa orang sekuriti berlarian. Sepertinya Eja sudah mempersiapkan semuanya.


Ketika mereka baru sampai di mobil, Eja menelpon dan menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat penting pada Ardian. Rindu memperhatikan raut wajah kekasihnya itu. Raut wajah tidak senang dengan kabar yang baru saja ia terima.


"Ada apa, Ardi?" tanya Rindu penasaran, raut wajah Ardian membuatnya bertanya.

__ADS_1


Ardian menarik napasnya berat. Bagaimana ia harus menjelaskan kepada Rindu tentang apa yang terjadi. Mungkin ini akan menjadi masalah baru untuk Rindu.


***


__ADS_2