Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Diikuti seseorang


__ADS_3

***


Tubuh Rindu yang lemah terbaring di tempat tidur ruangan itu. Dokter baru saja memberinya obat penenang, dan sekarang wanita itu telah tertidur pulas. Dokter Anna mengajak mereka duduk dan mengobrol secara baik-baik.


"Pak, Ardian. Perkenalkan ini teman saya dari Frankfurt, Jerman. Dia datang kesini untuk liburan," kata Dokter Anna memperkenalkan mereka.


Ardian mengulurkan tangannya, mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri. "Ardian Putra Moriz."


"Dr. Lisey Austerlitz."


"How do you know her? Why can his illness recur after seeing you, Doctor Lisey?" (Bagaimana anda mengenalnya? Kenapa penyakitnya bisa kambuh setelah melihat anda, Dokter Lisey?) Ardian merasa sangat penasaran. Ia ingin mengetahui lebih jelas kejadian buruk yang menimpa kekasihnya, walaupun itu akan menyakitkan.


"I'm sorry Mr. Ardian. I didn't mean to do it. Alright I'll tell them." Doctor Lisey took a deep breath, her confession might shock them." (Saya minta maaf Pak Ardian. Saya tidak bermaksud melakukannya. Baiklah akan saya beritahu.) Dokter Lisey menarik napas dalam, pengakuannya mungkin akan mengejutkan mereka.


"Five years ago, I once treated Miss Rindu's wound somewhere." (Lima tahun yang lalu, saya pernah merawat luka Nona Rindu di suatu tempat.)


"Could it be a warehouse?" (Mungkinkah tempat itu sebuah gudang?) tanya Ardian tidak sabar. Pertemuan Rindu dengan Dokter Lisey ternyata berhubungan dengan masa lalu.


"I am not sure. I used to work as a doctor for a mafia boss, that's because I had to. At that time my eyes were covered with a black cloth. So I don't know where it is." (Saya tidak yakin. Dulu saya bekerja sebagai dokter pada seorang bos mafia, Itu pun karena terpaksa. Waktu itu mata saya ditutupi kain hitam. Jadi tidak tahu di mana tempatnya.)


"What was Rindu condition at that time." (Bagaimana kondisi Rindu pada saat itu?) tanyanya dengan nada menekan.


"Very concerned. His whole body was covered in wounds, and there were many marks …." (Sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka, dan banyak terdapat bekas ….) Dokter Lisey ragu untuk melanjutkan.


"The rape." (Pemerkosaan?) Ardian mengepalkan tinjunya, menggenggam dengan kuat. Darahnya terasa mendidih, mukanya memerah karena marah.

__ADS_1


"Yes that's right. I am very sorry to see the condition at that time. Weak powerless. I want to help, but the mafia boss is very powerful in the city." (Iya, benar. Saya sangat kasihan melihat kondisinya saat itu. Lemah tidak berdaya. Saya ingin membantu, tapi bos mafia itu sangat berkuasa di kota,) ucapnya lirih lalu menundukkan kepala.


Dokter Anna yang baru mendengar inti cerita dari kejadian yang sebenarnya, sudah dapat menyimpulkan.


"Penderita PTSD sering kali teringat pada peristiwa yang membuatnya trauma. Mereka cenderung menghindari tempat, aktivitas, dan seseorang yang terkait dengan kejadian tersebut. Bahkan, penderita merasa seakan mengulang kembali. Sering kali hadir dalam mimpi buruk, sehingga penderita tertekan secara emosional. Di kasus yang Rindu alami, ini sangat spesial. Otaknya bekerja menghapus ingatan ketika gejalanya kambuh." Dokter Anna melirik keduanya bergantian. Pada Dokter Lisey dia melihat sedikit lebih lama, dia memastikan temannya itu mengerti, walaupun hanya beberapa kalimat.


Ardian dan Lisey mendengar penjelasan Anna secara seksama. Lisey pernah belajar sedikit bahasa Indonesia, dia mengerti di beberapa bagian. Ardian berharap penyakit Rindu dapat disembuhkan dengan cepat. Begitu pun juga dengan Lisey, ia ingin sekali membantu. Dulu ketika bertemu dengan Rindu, ia menyesal tidak bisa membantunya keluar dari tempat terkutuk itu.


"Jadi bagaimana dengan proses penyembuhannya, Dok?" tanya Ardian kemudian. Ia mencoba untuk setenang mungkin.


"Kita akan melakukan psikoterapi lanjutan. Mengingat sebelumnya Rindu sudah melakukan pengobatan. Ada tiga jenis terapi yang bisa dilakukan. Terapi perilaku kognitif, terapi eksposur dan eye movement desensitization and reprocessing (EMDR). Tetapi, Rindu hanya perlu melakukan terapi yang kedua."


"Berapa lama proses penyembuhannya?"


Secara reflek, Ardian juga menatap ke arah Dokter Lisey. Dan wanita berkebangsaan Jerman itu mengangguk tanda setuju. "Apa tidak akan berbahaya?" tanya Ardian lagi.


"Sangat berisiko jika kita lakukan sekarang. Kita harus menunggu kondisi mentalnya ketika siap. Terapi ini bertujuan untuk membantunya menghadapi keadaan dan ingatan yang memicu trauma secara efektif. Termasuk menghentikan mimpi buruknya."


Ardian mendongak ke atas, ia mengusap wajahnya kasar. Pilihan ini sangat berat, ada resikonya jika pengobatan ini gagal. Ardian berpikir sejenak, ia menopang kepalanya dengan tangan.


"Pak, Ardian?" panggil Anna melihat tidak ada respon dari pria itu. Mereka terdiam untuk sesaat.


"Berapa persen kemungkinan ini akan berhasil?" tanya Ardian kemudian. Dia harus mengantisipasi jika resikonya terlalu buruk.


"Kemungkinan berhasil 90 persen. Tetapi, sebisa mungkin kita harus membuatnya senang. Kunci dari pengobatan ini adalah perasaan pasien. Jangan sampai ia mengalami tekanan apa pun. Harus ada keluarga yang mendampinginya," jawab Dokter Anna yakin.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan melakukan pengobatannya."


Suasana yang semula menegangkan. Sekarang sedikit terasa melegakan. Hawa dingin yang dipancarkan Ardian sedari tadi sedikit menghangat. Anna dan Lisey saling berpandangan dan tersenyum lega.


***


Beberapa hari kemudian.


Pagi ini Rindu harus berangkat ke kantor tanpa dijemput oleh Ardian. Ia melambaikan tangan pada mama dan Kanaya. kemudian ia masuk ke dalam mobil. Seseorang melihat Rindu dari kejauhan.


Mobil melesat membelah jalanan kota yang padat. Sang sopir yang membawa Rindu melajukan kendaraannya dengan kecepatan normal. Beberapa menit kemudian, sopir itu tersadar jika di belakangnya ada mobil berwarna hitam yang sejak tadi mengikutinya. Sopir itu terus memperhatikan lewat kaca spion.


"Ada apa, Pak?" tanya Rindu heran karena sang supir terus saja melihat ke belakang.


"Non, sepertinya ada yang sedang mengikuti kita," jawabnya jujur dan sedikit merasa cemas.


Reflek Rindu menoleh ke belakang. Dia melihat mobil sedan hitam berada di belakang mobil mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh. Mobil hitam itu tiba-tiba menyalip dari samping kanan dan berhenti tepat di depan mobil mereka. Sopir mobil yang ditumpangi Rindu menginjak rem dengan mendadak karena terkejut. Suara klakson dibunyikan berkali-kali. Mobil hitam yang menghalangi jalan mereka juga melakukan hal yang sama. Rindu merasa kesal dibuatnya. Rindu berniat turun dari mobil.


"Non, Rindu. Mau kemana? Jangan keluar, Non, biar saya saja," pinta sang supir, Rindu pun menurutinya.


Sang supir keluar dengan berani. Walaupun usianya sudah empat puluh tahun, tapi ia sanggup bila ditantang berkelahi seseorang. Sewaktu muda dia pernah menjadi juara taekwondo, itulah yang ia banggakan selama ini.


"Hati-hati, Pak!" teriak Rindu dari dalam mobil. Pintu mobil itu dibiarkan terbuka.


***

__ADS_1


__ADS_2