
***
Rindu baru bekerja selama tiga hari ini, tapi suasana kerja sudah terasa akrab. Dua orang rekannya juga sangat membantu dalam berkomunikasi. Maklumlah Rindu hanya bisa berbahasa Inggris, sedangkan di sana tidak semua orang yang mengerti. Steven, pria keturunan Amerika yang empat tahun lebih tua darinya. Belinda, gadis keturunan asli Jerman yang setahun usia di atasnya.
"Oo … Rindu, you are so beautiful today." (Oo... Rindu, kamu cantik sekali hari ini)
"Thank you Steven, you look very handsome too." (Terima kasih Steven, kamu juga terlihat sangat tampan)
Steven yang baru saja datang, menyapa Rindu. Bagi orang di sana itu adalah hal yang biasa, saling memuji dan memberi kecupan sudah menjadi kebiasaan. Itu bisa di nilai sebagai sopan santun di antara mereka. Perlahan Rindu mulai belajar mengenai ini. Tapi untuk sentuhan fisik, dia masih sangat menolak, itu sudah merupakan prinsip hidupnya.
"Rin, Steven sudah sampai. Tante tinggal pulang dulu. Nanti kamu pulang diantar Steven ya, bahaya pulang malam sendirian," pamit Tante Maya.
"Iya, Tante juga hati-hati pulangnya."
"Iya, Sayang." Tante Maya mengalihkan pandangan ke Steven, dia bicara dari kejauhan. "Steven, ich gehe nach Hause. Bitte passen Sie auf meinen Neffen auf." (Steven, saya akan pulang. Tolong jaga keponakanku)
"Natürlich, Madam, Maya." (Tentu, Nyonya Maya)
"Dankeschön." (Terimakasih)
Rindu yang masih dalam tahap belajar, memperhatikan pembicaraan mereka. Walaupun dia kurang mengerti, tapi dia tahu maksud dari pembicaraan itu. Setelah berpamitan Maya bergegas pulang. Untuk sementara Rindu hanya ditugaskan di bagian kasir, dia masih harus banyak belajar mengenai semuanya. Walau Rindu sering melakukan kesalahan, Steven akan membantu memperbaiki dengan penuh kesabaran.
***
Dua tahun kemudian.
Frankfurt am Main University of Music and Performing Arts (HfMDK). Universitas Musik dan Seni Pertunjukan Frankfurt am melatih sekitar 900 siswa untuk menjadi seniman, pendidik, dan ilmuwan yang profesional dan bertanggung jawab secara sosial. Universitas ini memiliki tenaga pendidik 63 profesor dan 350 dosen.
Di sinilah Rindu sekarang berkuliah. Universitas musik ternama di Frankfurt jerman. Rindu berjuang sangat keras untuk bisa masuk ke Universitas ini. Sekarang Rindu sudah memasuki semester ketiga di jurusan 'Composition Bachelor'. Tujuan Rindu memilih jurusan ini untuk mewujudkan impiannya menjadi komposer independen.
Dua tahun belakangan ini, Rindu sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya sekarang. Siang hari adalah jadwalnya untuk kuliah. Dan sore hingga malam hari dia akan bekerja. Tante Maya tidak pernah membatasi pergaulan Rindu di sana. Baginya asalkan Rindu bisa menjaga diri dan tau batasan-batasan itu tidak jadi masalah. Toh Rindu sekarang sudah dewasa bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
__ADS_1
Sore itu Rindu berpapasan dengan Anton, suami Tante Maya. Rindu merasakan gelagat yang aneh dari pria itu. Selama dia tinggal di rumah tantenya, Rindu hanya beberapa kali terlihat akrab dengan pria tersebut. Itu karena dia terlalu sibuk dengan jadwal kuliah dan kerjanya saat ini. Biasanya Anton hanya datang di waktu siang saat Tante Maya berada di Bar. Lalu kenapa sekarang dia muncul di sana?
Waktu pun terus berlalu, dan tahun ini telah memasuki awal bulan desember. Musim dingin telah tiba, musim di mana semua orang berpakaian sangat tebal dan berlapis-lapis. Rindu masih sibuk dengan rutinitasnya seperti biasa. Malam itu pengunjung tidak begitu ramai. Mungkin karena cuaca yang dingin, orang-orang banyak memilih untuk berdiam diri saja di rumah.
Steven dan Belinda mengajak Rindu minum Bir agar tubuh mereka tetap hangat. Sudah menjadi kebiasaan di sana, untuk menggunakan minuman beralkohol sebagai minuman penghangat tubuh. Meskipun begitu, Rindu tidak pernah membiarkan dirinya mabuk. Minuman itu hanya dia jadikan sebagai penghangat tubuhnya. Musim dingin di Jerman sangat ekstrim. Kadang-kadang suhu bisa mencapai minus 15 derajat atau lebih. Dan Rindu menghindar dari serangan dingin yang dapat merenggut nyawa.
"Wahh … cuaca hari ini sangat dingin," ucap Steven memulai obrolan.
"Iya … aku bisa mati kedinginan jika terus begini," jawab Rindu meneguk Bir di meja.
"Kamu masih belum terbiasa dengan musim dingin di sini, Rindu?" tanya Steven kemudian.
"Ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Kalian ingat, bagaimana aku meringkuk di tempat tidur selama seminggu. Ya Tuhan, aku merasa akan menjadi balok es waktu itu."
Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Lalu mengadu gelas mereka bersamaan dan bersulang. Mereka tertawa-tawa kecil.
"Ya, dan aku memberikan Bir kepadamu. Kamu menolak awalnya, tapi aku memaksa. Jika bukan karena Bir itu, mungkin kamu sudah tamat," sambung Belinda menjulurkan lidahnya.
Dan mereka kembali meledakkan tawa. Waktu luang mereka gunakan untuk bercengkrama mengakrabkan diri. Steven yang ternyata diam-diam mengagumi pribadi Rindu, melihat dengan penuh arti.
"Rindu … ceritakan lagi mengenai cinta pertamamu. Apa kamu masih memikirkannya?" tanya Belinda.
"Emm … Ardian? tentu saja, dia satu-satunya cinta yang aku punya. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku akan menyimpannya saja di dalam hatiku."
Jawaban Rindu membuat Steven merasa punya harapan. Selama ini dia selalu ragu untuk memulainya, Rindu terlalu susah didekati. Terbukti dari caranya menanggapi rayuan dari pria di sekitar.
"Kalau begitu, bisakah aku mencobanya?" tanya Steven kemudian.
Kening Rindu mengerut. "mencoba apa?" tanyanyabingung.
"Memintamu menjadi kekasihku."
__ADS_1
"Apa … Steven, kamu serius?" sahut Belinda kemudian.
"Tentu saja," jawab Steven meyakinkan mereka berdua.
Ketika Rindu hendak menimpali pengakuan Steven barusan. Tiba-tiba Anton datang, dia terlihat sangat panik. Mereka semua terkejut dengan kedatangan Anton.
"Keponakanku … Rindu, kamu harus segera pergi ke rumah sakit!"
"Apa yang terjadi, Paman?"
"Tantemu, terkena serangan jantung. Sekarang ada di UGD!"
"Ya Tuhan … bagaimana ini bisa terjadi, Paman? Baiklah aku akan segera ke sana!"
Steven melihat gelagat Anton sedikit mencurigakan. Anton di kenal sangat licik, dan terkadang mampu membohongi Istrinya sendiri.
"Biarkan aku ikut," ucap Steven menimbali.
Sebelum mereka memulai perdebatan, segerombolan pelanggan datang. Pria-pria kekar itu ingin minum Bir untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Steven, sepertinya kamu tidak akan bisa pergi. Aku tidak bisa mengatasinya sendirian." Ucapan Belinda dibenarkan oleh Rindu.
Anton pun meyakinkan Steven bahwa Rindu akan baik-baik saja bersamanya. Steven benar-benar tidak rela membiarkan Rindu pergi dengan pria licik itu. Tapi tidak mungkin juga dia membiarkan Belinda sendirian dengan pelanggan pria sebanyak ini. Dan akhirnya Steven mengalah terpaksa harus tinggal di Bar.
Rindu bergegas mengambil barang-barangnya. Dengan sedikit berlari mereka pergi ke rumah sakit. Anton memanggil taksi, Rindu tampak cemas memikirkan keadaan Tante Maya.
Di tengah perjalan Anton tanpa berkata apa-apa lagi. Kepanikan yang tadi terlihat sangat nyata, telah berubah saat ini. Rindu menaikkan sebelah alisnya melihat perubahan wajah Anton yang tiba-tiba. Tanpa dia sadari taksi yang bertujuan ke rumah sakit telah merubah rute jalannya.
"Paman, pergi kemana ini? Kenapa jalannya sangat berbeda?" Rindu bertanya karena dia pernah pergi ke rumah sakit sebelumnya.
***
__ADS_1