Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Tidak terbebani lagi


__ADS_3

***


Semuanya tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan yang Ardian perbuat. Bagaimana tidak, Ardian seperti memborong satu toko mainan. Semua mainan itu telah memenuhi ruangan yang tamu Ardian. Kanaya tampak antusias melihat semua mainan itu. Rindu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ardian mengambil Kanaya dari pangkuan Dian, dan meletakkannya di box. Satu persatu mainan diletakkan di dalamnya, dan sebagian diletakkan di luar box. Kanaya tampak sangat senang dengan semua mainan barunya.


Beberapa saat kemudian, pintu apartemen itu diketuk seseorang. Sepertinya makan malam mereka sudah datang. Ardian memesankan makanan dari hotel bintang lima untuk menyambut kedatangan teman-temannya. Mereka pun makan malam bersama. Suasana kebersamaan itu terasa hangat, sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti ini.


Saat dilihat putri kecilnya sudah memejamkan mata dan tidur dengan nyaman, Rindu keluar dari kamar. Dia mencari keberadaan Ardian yang tadi ditinggal sendirian. Rindu menuju ruang tamu, Ardian ternyata sedang membersihkan mainan Kanaya yang baru dibelinya itu. Semua teman-temannya sudah pulang setengah jam yang lalu.


"Ardi … biar aku saja yang merapikan."


"Sayang, kamu disini? Kanaya sudah tidur?" Ardian menoleh kebelakang dan bertanya.


"Sudah … aku saja yang merapikan mainannya," pinta Rindu lagi.


"Tidak usah, Sayang, kamu duduk saja, sebentar lagi ini selesai." Ardian menolak dan melakukan aktivitasnya.


"Baiklah, aku buatkan minuman dulu." Rindu pun memutuskan untuk melakukan hal lain.


Ardian tersenyum mengiyakan. Dia merasa seperti berada dalam kehidupan berumah tangga. Dipandanginya punggung cantik wanita kesayangannya itu. Ada perasaan bahagia yang teramat dalam hatinya kini.


Beberapa menit kemudian Rindu kembali dengan dua cangkir teh hangat. Dia menyajikan teh dengan aroma melati yang bisa menenangkan. Sedangkan Ardian sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia pun duduk di sofa seraya melakukan pekerjaan kantor dari komputer tabletnya. Ardian menyambut kedatangan Rindu dengan senyuman yang menawan.


"Ardi, ini aku buatkan teh melati."


"Terima kasih, Sayang. Kemarilah," pinta Ardian menepuk ruang kosong di sebelahnya. Rindu pun ikut duduk.


"Tunggulah sebentar lagi, aku akan mengantar kalian pulang. Aku harus menyelesaikan ini dulu," ucap Ardian seraya menyeruput teh buatan Rindu.


"Baiklah." Rindu terdiam sejenak. "Ardi … terima kasih."


Ucapan Rindu membuat Ardian menoleh. "Terima kasih, untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk semua yang kamu berikan pada Kanaya," jawab Rindu.


Ardian meletakkan tabletnya di meja. Lalu merangkul pundak wanita yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan semuanya karena itu harus kulakukan. Semua karena aku menyayangi Kanaya, aku sangat menyukainya, dia gadis imut yang sangat menggemaskan. Aku sudah mulai menyayanginya dari pertama aku melihatnya."


Rindu terenyuh mendengar ucapan pria di hadapannya. "Kenapa kamu sangat baik Ardi, apa kamu tidak keberatan menerima Kanaya?"


Ardian terkekeh. "Apa maksudmu, aku bahkan tidak memikirkan itu sama sekali. Bagiku Kanaya sudah seperti putriku sendiri. Entahlah, aku merasa sudah ada ikatan batin dengannya."


"Benarkah?"


"Iya, Sayang …," ucap Ardia dengan nada manja seraya mencolek hidung Rindu. Pelipis wanita cantik itu di kecup, lalu berbisik. "Terima kasih … karena sudah mau kembali padaku. Terima kasih untuk menerimaku lagi. Terima kasih sudah mau mencintaiku lagi."


Rindu mendengarkan bisikan Ardian seperti suara kedamaian. Kata itu begitu menyentuh hingga langsung merasuki jiwanya, dia terbuai. Secara spontan Rindu merebahkan kepalanya di bahu lebar Ardian, lalu melingkarkan tangannya ke belakang. Rindu memeluk Ardian tiba-tiba, pria itu tersenyum dan membalas pelukan itu.


"Rindu … I love you!" bisik Ardian lagi.


"I love you to!" balas Rindu kemudian.


"Ardi …," panggil Rindu lembut.


"Kenapa, Sayang?"


Hembusan napas Ardian yang hangat terasa merayapi puncak kepala Rindu. Pria itu berulang-ulang mengecup dan menghirup aroma rambutnya yang wangi. Rindu memejamkan matanya sesaat, kemudian melerai pelukan hangat itu.


"Aku akan menceritakannya."


Kening Ardian mengerut. "Menceritakan apa?" tanya Ardian memandangi wajah wanitanya lekat-lekat.


"Semuanya," jawab Rindu singkat.


Ketika sadar akan ucapan Rindu, Ardian terkejut. Kenapa Rindu tiba-tiba ingin bercerita. Apakah ini benar-benar tidak masalah? Apakah ini tidak akan membahayakan bagi Rindu? Pernyataan itu dia pertanyakan dalam benaknya. Ardian harus memastikan pada Rindu terlebih dahulu. "Kamu yakin? Kamu akan baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya … aku rasa aku bisa mengatasinya. Lagipula kamu ada disini. Jika nanti aku tiba-tiba diam, kamu harus segera menyadarkan aku, ya!"


"Apa tidak apa-apa, Sayang? Aku tidak masalah harus menunggu lebih lama, jika kamu belum siap menceritakan semua." Ardian tampak sedikit ragu, dia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Rindu.


"Aku siap, Ardi. Lagipula kamu akan mengetahuinya cepat atau lambat. Aku hanya ingin kamu tahu semuanya itu langsung dari mulutku. Dan kamu juga harus menceritakan semuanya tentangmu," ucap Rindu meyakinkan.


Ardian pun merubah posisi duduknya, membuat posisi senyaman mungkin. Rindu pun demikian, dia menggeser duduk hingga mereka berhadapan. Ardian menggenggam tangan kekasihnya itu. Membuat suasana tenang terlebih dahulu.


"Baiklah, aku juga akan bercerita. Setidaknya ini akan membuat kita tidak terbebani lagi," ujar Ardian menatap Rindu.


"Iya," ucap Rindu lagi.


"Aku akan memulainya, setelah itu baru kamu yang bercerita. Aku harap setelah semuanya selesai, kamu akan melupakan semuanya. Tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi pikiran-pikiran yang mengganggu," pinta Ardian, agar Rindu tidak terbebani dengan masa lalu.


Rindu mengangguk. "Ya … aku mengerti."


Ardian menarik napasnya dalam-dalam. Menenangkan pikiran, sebisanya dia harus mengendalikan dirinya. Ardian harus kuat terlebih dahulu, agar Rindu bisa merasa nyaman. Saat ini Rindu memang sudah merasa sedikit tenang, tidak terasa lagi tekanan yang selalu memberatkan. Dia merasa yakin bisa melakukanya.


"Aku akan memulainya."


Ardian lalu menceritakan bagaimana waktu kejadian dia di Bandara. Ketika Rosnu telah pergi dari hidupnya. Seberapa sulit perjuangannya selama di luar negeri, untuk menjadi lebih kuat. Seberapa sakitnya menahan rindu yang tak kunjung terobati. Seberapa dia harus bersabar, untuk dapat bertemu kembali dengan sang pujaan hati.


Setelah semua apa yang ingin dia katakan selesai. Ardian pun meminta Rindu bercerita. Bagaimana kehidupan Rindu selama di Jerman. Bagaimana wanita itu bisa berakhir dengan trauma yang diderita. Dan bagaimana bisa menikah dengan Bagas


"Kamu benar-benar sudah siap?" tanya Ardian lagi.


Rindu pun menghela napas panjang. "Iya, aku sudah siap, Ardi."


"Oke, aku akan mendengarkan."


***

__ADS_1


__ADS_2