
***
Rindu sedang berada di kamar. Ponsel masih menempel di telinganya. Raut wajahnya yang tampak tidak biasa. Memerah dan tengah marah. Bahkan helaan napasnya terlihat tidak teratur. Rindu sedang berdebat dengan seseorang dari seberang panggilan sana.
Ya, siapa lagi kalau bukan Bagas—mantan suaminya. Hanya pria itulah satu-satunya sumber masalah terbesar Rindu saat ini. Laki-laki yang selalu bisa membuatnya menaikkan nada suara. Rindu jarang bisa menahan emosi jika sudah berbicara dengan pria tak bertanggung jawab itu.
"Ingat ini baik-baik, walau sekarang kamu sudah resmi berpisah denganku, tapi jangan harap aku akan membiarkanmu begitu saja. Kamu tau, aku tidak akan bertanggung jawab apapun yang terjadi. Aku tidak peduli, apapun yang kamu lakukan."
"Termasuk … tanggung jawabmu kepada Kanaya, putrimu?" Rindu menaikkan suaranya.
"Hugh … putriku? Apa kau yakin dia itu putriku?"
"Apa yang kamu katakan, Mas!" Rindu benar-benar marah.
"Melihat kelakuanmu di masa lalu, aku tidak yakin bahwa dia itu anakku," nada bicara Bagas terdengar mengejek.
"Keterlaluan kamu, Mas!" bentakan nyaring terdengar di penjuru ruangan. "Hatimu apakah terbuat dari batu, Mas? Tega kamu bilang gitu!"
"Aahhh … sudahlah … aku ingatkan padamu, jika kamu ingin aku tidak mengusik ketenangan kamu sekarang, maka jangan sekalipun kamu berhubungan dengan pria manapun. Baru saja kamu menyangkal postingan beberapa hari yang lalu, aku juga tidak bisa membuktikan, karena sudah hilang. Aku akan mengawasimu, jika kamu kedapatan menikah atau punya kekasih, aku akan mengambil putrimu secara paksa!" Bagas mengancam, terdengar kesungguhan dalam ucapannya itu.
Rindu terduduk lemas setelah Bagas mengakhiri panggilan begitu saja. Ponsel terlepas dan tergeletak di kasur. Pikirannya sudah dipenuhi dengan bayangan masa lalu yang menyakitkan. Seketika itu juga air mata Rindu mengalir dengan deras. Entah sadar atau tidak, Rindu meraung menangis sejadi-jadinya.
Seperti sebuah luka yang masih belum sembuh sempurna terkena tetesan air sabun. Seperti api unggun yang masih mengeluarkan asap tersulit bahan bakar lagi. Suatu peristiwa yang tidak seharusnya disebut, diungkit dan disinggung, seperti bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu. Sekarang sepertinya itu tak dapat terelakkan lagi. Rindu telah hilang kendali, tangisannya bahkan sangat, sangat terdengar menyakitkan.
Rindu tiba-tiba bangkit, dia meraih gelas pada nakas sebelah ranjang. Dengan penuh amarah, luka dan kesakitan, Rindu melempar gelas itu ke dinding. "Aaarrgghhh …!"
__ADS_1
Pecah, berserakan tak berbentuk. Dalam hitungan detik wajah Rindu berubah pucat pasi, tubuhnya bergetar, tangan mengepal, pikiran mulai kosong, menatap bayangannya sendiri pada cermin. Detik kemudian tubuhnya luruh memeluk lutut. Rindu kembali mengalami kondisi traumatiknya.
Pintu kamar terbuka secara kasar. Ardian yang mendengar teriakan langsung berlari menghampiri wanita itu di kamar. Dia terlihat panik, bingung dengan situasi yang terjadi sekarang. Langkah kakinya dipercepat, lalu menggenggam lengan Rindu dan mengguncangkan tubuhnya.
"Heeiii … Rin, kamu kenapa?" Melihat wajah Rindu yang memucat dengan tatapan kosong, membuat Ardian semakin bingung. Rindu tidak merespon sama sekali. "Rindu, sadar … heii … sadarlah!" Panggilnya cukup keras.
Dahlia, Alan dan Alen juga berlari menghampiri mereka. Rindu tampak sudah dibanjiri dengan air mata. Dahlia panik, begitu pun dengan kedua putra kembarnya.
"Ardi … apa yang terjadi?" tanya Dahlia panik.
"Ardi … tidak tahu, Ma. Tiba-tiba saja Rindu menjadi seperti ini. Tadi Ardi mendengar teriakan dan suara pecahan," tutur Ardian.
Dahlia mulai merasa takut, kakinya seakan tidak kuat menopang berat badan. Alan dan Alen yang siap siaga segera memegangi tubuh sang mama. Sepertinya Dahlia mulai mengira-ngira. Satu-satunya alasan kenapa Rindu bisa seperti ini, pasti karena teringat akan masa lalunya.
Ardian termangu. "Sepertinya Rindu sedang menelepon, Ma. Ardi tidak berani mengganggu, karena Rindu terdengar marah." terang Ardian. Dia kemudian meraih kedua tangan Rindu, karena wanita itu terus *******-***** pahanya dari tadi.
Tanpa berpikir panjang lagi. Dahlia menyuruh Ardian mendudukkan Rindu di ranjang. Ardian yang kalut segera membopong tubuh wanita itu. Kemudian menurunkan secara perlahan. Dahlia membantu meninggikan beberapa bantal agar Rindu bisa bersandar.
"Alan … ambilkan segelas air. Alen ambilkan obat kakakmu di laci meja sana!" perintah Dahlia, dia menunjuk ke laci kecil pada meja rias.
Kedua saudara kembar itu terus bergerak melaksanakan perintah mamanya. Ardian yang kebingungan melihat semuanya tampak sigap dalam situasi seperti ini. "Ada apa ini? Obat? Apakah Rindu sakit?" batinnya.
Dahlia telah di pinggir ranjang bersebelahan dengan putrinya. Ardian hanya diam, seolah sedang membaca situasi. Berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Matanya terus mengarah kepada mata Rindu yang seakan tidak melihat apa-apa, kosong. Tatapan wanita itu masih lurus menghadap depan. Tubuhnya masih bergetar, menggigil kedinginan. Kedua tangan Rindu mengepal hingga memutih.
Seketika itu Ardian menangis melihat kondisi Rindu yang memprihatinkan. Tangan mengepal, matanya merah membara. Tungkai kakinya mulai goyah, sekuat tenaga Ardian mencoba untuk tetap berdiri tegak.
__ADS_1
Alan dan Alen yang datang hampir bersamaan, langsung menyerahkan obat dan air yang diminta pada sang mama.
"Len … bantu mama meminumkan obat." Dahlia langsung meminumkan obat, Alen membantu dengan membuka mulut Rindu.
Alan yang menyadari keadaan Ardian yang juga tertekan pun menyadarkan pria itu. "Kak … kak Ardi." panggilnya berbisik, menepuk ringan lengan Ardian.
Pria itu melirik sesaat, tubuhnya seakan tak kuat lagi menahan, detik kemudian Ardian mulai roboh juga. Dengan sigap Alan menopang tubuh Ardian, karena terlalu berat dia pun sedikit kesulitan. Lalu Alen datang membantunya dengan cepat. Kedua saudara kembar itu melihat deraian air mata di pipi pria tegap itu.
"Sebaiknya Kak Ardi duduk dulu," pinta Alan pada Ardian.
Kemudian pria itu mengikuti Alen yang menuntunnya duduk di sofa kamar. Alen kembali membantu mamanya. Sedangkan Alan kembali lagi ke dapur mengambilkan air untuk Ardian. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan gelas berisikan air putih.
"Ini, Kak, minum dulu." Alan menyerahkan itu air ke tangan Ardian, pria itu menerima dan langsung meminumnya. Setelah merasa cukup, lalu gelas itu dikembalikan.
"Lan … kenapa kakakmu bisa jadi seperti itu?" tanya Ardian kemudian, suara berat.
"Ceritanya panjang, Kak, sebaiknya kita pastikan kondisi Kak Rindu dulu. Kak Rindu sudah lama tidak kambuh seperti ini. Selama beberapa tahun ini kakak sudah terlihat membaik," ujar Alan.
Ardian mengangguk mengiyakan. Rasa ingin tahunya semakin besar. Rindu bisa menjadi seperti ini, pasti bukan karena masalah biasa. Pasti ada kejadian yang tidak biasa, sangat buruk.
Beberapa menit kemudian Rindu mulai memejamkan matanya. Semua orang tampak sudah bisa bernapas lega. Mereka semua keluar dari kamar itu meninggalkan Rindu beristirahat sendiri. Dahlia mengajak semua orang ke ruang makan. Supaya obrolan mereka tidak sampai terdengar hingga kamar putrinya. Alan pergi melihat Kanaya yang tidur di kamar mamanya. Di menit kemudian, satu persatu mereka duduk saling berhadapan.
Dahlia menatap sendu pria muda di hadapannya. "Ardi … Mama mau menanyakan sesuatu padamu."
***
__ADS_1