Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Terluka


__ADS_3

***


Di dalam ruangan Ardian. Agnes sepertinya semakin memanas. Melihat wajah Rindu saja sudah membuatnya marah. Ingin rasanya maju dan merusak wajah menyebalkan itu.


"Boleh saya tahu, apa maksud kedatangan Anda, Nona?" tanya Rindu santai.


"Katakan, siapa kamu sebenarnya? Kenapa bisa berada di ruangan ini!"


"Saya sudah mengatakannya. Saya adalah calon istri Ardian," jawab Rindu sedikit menekan tapi tenang.


"Tidak mungkin, keluarga Moriz telah memilih saya sebagai calon menantu. Kamu jangan asal bicara!"


"Lalu, apakah Ardian menyetujui perjodohan itu?"


Agnes tak mampu berkata apa pun lagi. Memang selama setahun ini dialah yang mati-matian mengejar Ardian. Walaupun mendapat dukungan dari mamanya Ardian, Nyonya Della. Tetapi, ia tidak mendapatkan bantuan untuk merebut hati seorang CEO dingin itu. Karena Ardian bukanlah orang yang bisa dipaksa begitu saja.


"Kenapa Anda terdiam, Nona? Apa saya salah bicara?" tanya Rindu masih dengan sikap tenangnya. Namun, dalam hatinya tersenyum penuh kemenangan.


Tatapan mata Agnes semakin tajam kearah Rindu yang masih saja tersenyum. Tubuhnya terasa semakin panas. Amarahnya hampir mencapai ke ubun-ubun. Senyuman Rindu membuatnya merasa kalah.


Agnes meraih cangkir teh yang ada di hadapannya. Dengan marah dia mendorong cangkir itu pada Rindu. "Kamu …!"


Secepat mungkin Rindu memiringkan tubuhnya. Mengelak dari serangan Agnes ketika ingin menyiram dirinya. "Aaahhh …!" Teh yang masih panas itu mengenai lengan Rindu yang sebelah kanan.


Di saat bersamaan pintu terbuka secara kasar. Rindu meringis mengibaskan lengan bajunya, teh panas itu masuk melalui serat kain dan mengenai kulitnya.


"Apa yang sedang terjadi!"


Suara teriakan yang sangat lantang mengagetkan mereka. Agnes reflek menjatuhkan cangkir yang ada di tangannya. Rindu yang sedang kesakitan menoleh sesaat lalu kembali fokus pada lengannya yang terluka. Ardian segera berlari menghampiri Rindu begitu melihat kejadian itu.


"Sayang … kamu tidak apa-apa?" Ardian berlutut di hadapan Rindu. Dia segera melepaskan cardigan berbahan katun yang Rindu kenakan, pria itu terlihat sangat panik. Pakaian yang basah karena teh panas itu dibuang ke lantai. Sekarang hanya tersisa kaos polos tanpa lengan di tubuh wanita sederhana itu.


"Eja … ambilkan P3K!" teriaknya lagi.


"Baik, Bos." Eja yang baru saja ikut masuk ke dalam segera berlari lagi mencarikan permintaan Ardian.

__ADS_1


"Mira, panggil sekuriti, tahan wanita ini!" perintah Ardian lagi pada sang sekretaris. Dia berteriak sambil sibuk meniup luka Rindu yang telah kemerahan.


"Ba–baik, Tuan."


Mendengar kemarahan Ardian, Agnes ingin segera pergi melarikan diri.


"Mau kemana kamu? Diam di sana, atau aku panggil polisi!"


Tubuh Agatha bergetar ketakutan. Dia tidak berpikir jika wanita yang disiram tadi benar-benar adalah kekasih Ardian. Setengah hatinya marah, setengah lagi takut. Ia terduduk lemas melihat kepedulian Ardian pada Rindu.


Tak sampai satu menit Eja kembali dengan kotak putih yang berisikan banyak obat-obatan. Sekretaris pintar itu memang selalu menyiapkan segala keperluan dengan baik. Seperti perlengkapan P3K yang selalu disimpan di dalam kantornya.


"Ardi …." Rindu bersuara.


"Sssttt … jangan bicara dulu. Aku akan mengobati lukamu." Ardian mengoleskan salep luka bakar dengan hati-hati. Luka itu diamati dan ditiupnya secara seksama.


Rindu terkesima melihat sikap Ardian yang sangat cepat tanggap dan perhatian padanya. Diam-diam ia tersenyum manis melihat wajah tampan Ardian yang sedang serius mengobati lukanya. Tanpa sadar Rindu meraba pipi Ardian yang sedang fokus pada luka di lengannya.


"Cukup Ardi, aku tidak apa-apa," ucapnya manis, tersenyum seraya membelai wajah kekasihnya itu.


"Iya … aku baik-baik saja, ini hanya luka bakar biasa. Lihat, hanya merah sedikit saja," kata Rindu menunjuk lengannya dengan gerakan wajah.


"Sebentar lagi, aku hanya memastikan luka ini tidak membekas."


Sikap keras kepala Ardian membuat Rindu menggeleng. Tidak ada seorang pun yang bisa melarang Ardian. Dari dulu lagi, Rindu yang paling mengerti watak kekasihnya itu.


Beberapa menit kemudian, dua orang sekuriti datang dan membawa Agnes keluar dari ruangan itu.


"Ardian, aku mau dibawa kemana? Hei … lepaskan!"


Tanpa memperdulikan penolakan dari Agnes. Kedua orang security itu memaksanya keluar dari ruangan kantor Ardian. Aganes tak mampu berkutik lagi. Ardian tidak pernah memperdulikannya selama ini.


Ardian pun kembali berdiri, tangannya menggenggam jemari Rindu. Ia kembali bersikap dingin dan berwibawa.


"Mira, aku sudah memerintahkan untuk melarang siapa pun masuk ke kantorku. Jika hal ini terjadi lagi, segera panggil sekuriti!"

__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab sang sekretaris dan berlalu pergi dari ruangan itu.


Saatnya untuk mendengarkan penjelasan dari Rindu. Ardian duduk di sofa, tepat berada di sebelah Rindu duduk. Tatapan matanya tajam meminta pengakuan. Rindu yang tadinya diam menjadi bingung dibuatnya. Ardian memposisikan dirinya agar mereka bisa berhadapan. Rindu memutar sedikit posisi duduknya hingga menghadap pada Ardian. Masih dengan genggaman tangannya, Ardian menuntut penjelasan saat itu juga.


"Ada apa?" tanya Rindu seraya mengerutkan keningnya.


"Jelaskan!" pinta Ardian singkat.


"Aku harus menjelaskan apa?" Rindu seolah-olah tidak mengerti dengan jelas maksud Ardian.


"Apa yang baru saja kamu lakukan?" Ketegasan terdengar dari nada bicaranya, Ardian menatap tajam.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Wanita itu saja yang bersikap berlebihan," jawab Rindu dengan suara manja mencoba meluluhkan hati Ardian.


Ardian tersenyum tipis, sedetik kemudian ia kembali bersikap tegas. Tingkah Rindu yang manja seperti ini membuatnya tidak tahan. Sangat menggemaskan, begitu yang dia pikirkan. Namun, Rindu tidak menyadarinya senyuman Ardian yang tipis itu.


"Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Agnes bukan orang sembarangan, dan aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Kenapa kamu tidak mendengarkan?" tanya Ardian terlihat kesal dan melepaskan tangannya Rindu, wanita itu terdiam.


Tiba-tiba Ardian terpikir untuk mengerjai wanitanya itu. Walau ia sedikit emosi, bukan karena marah pada Rindu yang tidak mendengarkannya. Tetapi pada hal yang membuatkan mengkhawatirkan keselamatan Rindu. Seperti yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.


"Ini yang kamu bilang aku akan terkejut? Benar, aku benar-benar terkejut. Aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut kamu akan terluka. Dan lihatlah, kamu terluka, bukan?"


"Ardi, maaf. Aku tidak berpikir jika dia bisa sebrutal itu. Aku hanya memancingnya sedikit, dan dia tiba-tiba …." Dia diam sejenak, menilai tanggapan Ardian dari raut wajahnya. "Apa sekarang kamu marah?" Rindu tertunduk menyesali perbuatannya.


Melihat wanitanya meminta maaf dengan cepat, membuat hati Ardian luluh seketika.


"Maafkan aku telah membuatmu khawatir. Maaf karena aku tidak mendengarkan perkataanmu." Rindu semakin mengiba.


"Lalu."


"Aku hanya mengatakan bahwa aku adalah calon istrimu. Dia yang tidak terima, dan mengatakan bahwa keluargamu telah menerimanya sebagai calon menantu. Lalu aku mengatakan, apa kamu mau menerima perjodohan itu? Wanita itu tiba-tiba marah dan menyiramku."


Mendengar penuturan Rindu, Ardian merasa berbunga-bunga. Calon istri, tidak disangka Rindu akan mengatakan itu pada Agnes. Ardian tersenyum dalam hati. "Kamu cemburu?"


"Aku … tidak!" ucapnya menutupi rasa malu.

__ADS_1


***


__ADS_2