Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Memulai lagi


__ADS_3

***


Rindu duduk santai sambil menonton televisi di ruang tengah. Ardian sedang sibuk membereskan meja makan. Sesekali Rindu melirik memperhatikan. Pria itu membereskan piring, mengelap meja dan mencuci piring. Sepertinya dia telah biasa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Sosok pria perfeksionis, mandiri, serba bisa.


"Sudah puas kamu mengagumi aku, em?" Ardian tiba-tiba mendekat dan berdiri di hadapan Rindu.


"Hah? En–enggak." Rindu mengalihkan pandangan kembali melihat ke layar.


"Lalu, kenapa matamu terus mengekori setiap gerakanku?" Ardian pun duduk di sebelah Rindu dan menatap matanya.


"Hahaha … kamu terlalu percaya diri." Wanita itu salah tingkah, menekan tombol siaran televisi secara acak.


"Eleh, kelihatan bohongnya," ejek Ardian.


Rindu mendelik. "Aku bosan, tidak ada acara yang menarik." Dia berkilah.


"Semua adegan sinetron berlebihan, terlalu dibuat-buat. Entertainment membahas gosip tidak penting, yang muncul di TV kebanyakan settingan. Kenapa tidak ada acara musik seperti dulu, ya?" ucap Rindu mencari alasan, raut wajahnya dibuat kesal.


"Hahaha, kamu lucu jika cemberut." Ardian mencubit pipi wanita itu gemas, Rindu berdecak padanya. "Kalau gitu tunggu, aku akan buatkan satu untukmu, kamu mau acara musik yang bagaimana?"


"Maksudnya? buatkan untukku?" tanya Rindu bingung.


"Iya, buat acara seperti itu mudah. Kalau kamu suka akan kulakukan." Ucapan Ardian terdengar serius. Untuk mengatur suatu acara, apalagi di dunia entertainment, hanya perlu memerintahkan beberapa orang bagi Ardian.


Rindu tak menyangka Ardian menganggap serius ucapannya. Hal itu terdengar sombong dan dia pun memutar bola matanya. "Iya, iya … Tuan Ardian yang hebat. Kamu bisa melakukannya."


Ardian tersenyum lalu melipat satu kakinya ke sofa, menghadap ke Rindu. Kedua tangannya melingkar di bahu Rindu yang menghadap depan. Dia meletakkan pelipis kirinya di bahu Rindu yang sempit, hingga wanita itu tersentak. Tidak siap dengan perlakuan Ardian yang tiba-tiba.


Rindu memfokuskan pandangannya ke layar dan terdiam. Dia kesulitan mengatur napasnya. "Kenapa harus seperti ini, aku takut akan jatuh cinta lagi. Ardi, cintamu sudah kusimpan jauh di lubuk hatiku. Aku takut untuk memulainya lagi." Batin Rindu meronta.

__ADS_1


Ardian menghela napas. Bulu kuduk Rindu rasanya menggeliat terkena terpaan panas dari mulut pria itu. Sebisa mungkin dia tahan, mengendalikan diri.


"Rin, … aku sangat merindukanmu," ucap Ardian.


"Ardi, jangan gini. Geli tau."


Ardian pun melepas pelukannya, lalu pundak Rindu diputar menghadap padanya. Mereka bertatapan, tapi wanita itu menghindari sorot mata Ardian yang menuntut. Tau sedang dihindari, Ardian menangkupkan kedua tangan ke wajah wanita cantik itu, Rindu menahan napas sejenak.


"Rin, lihat aku, tatap mataku." Rintu tak dapat lagi mengelak, iris hitam milik Ardian mendominasi matanya.


Senyuman kecil Ardian tersemat. "Dengar, kamu ingat saat terakhir kita bertemu? Kita pergi ke taman hiburan, kita bersenang-senang, aku sangat bahagia waktu itu. Kamu menghadiahkan aku ciuman pertamamu dan itu juga pertama kali untukku. Sampai detik ini aku masih mengingat dengan jelas rasa dan aromanya. Aku semakin mencintaimu dan aku tidak berpikir bahwa itu adalah sebuah kado perpisahan. Hanya itulah kenangan yang masih aku simpan dengan rapi," tutur Ardian jujur.


Memang kenangan itu yang selalu dia jaga dan simpan di lubuk hatinya yang terdalam. Sebuah ciuman pertama yang tanpa dia sadari adalah ciuman perpisahan.


Rindu menurunkan perlahan genggaman Ardian pada pipinya. Sebisa mungkin Rindu bersikap tenang. Padahal pacu jantungnya telah meningkat saat ini. "Ardi, maaf ... aku tidak punya pilihan lain. Aku terpaksa pergi, semua sudah dipersiapkan dari jauh hari," lirih Rindu dengan nada sedih.


"Aku mengerti. Tapi kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku dulu? Kamu tiba-tiba menghilang." Ardian tak terima dengan cara Rindu meninggalkan dirinya.


"Aku?" Tentu saja pria itu jadi bingung, kenapa dia yang jadi alasan?


Rindu tersenyum tipis. "Ingat perkataan kamu yang itu. 'Mencoba pacaran,' aku bukan alat untuk menguji cintamu, Ardi."


Ardian tersentak menegakkan tubuh, sadar akan perkataannya dulu membuat Rindu tidak senang. Dia pun meremas rambutnya. "Jadi? Ya Tuhan, aku nggak pernah menganggapmu sebuah alat, Rin. Aku nggak nggak pernah mikir kalau omonganku kamu artikan gitu. Jadi semua karena itu?"


"Hhmm …." Angguk Rindu.


Helaan napas berat Terdengar. "Maaf, maafkan aku … kenapa aku begitu bodoh, seharusnya aku berpikir sebelum mengatakannya." Tatapan Ardian sayu dengan penyesalan.


"Sudahlah, semua sudah berlalu," balas Rindu santai dan tersenyum, lalu kembali menghadap ke layar menekan-nekan tombol pengendali jarak jauh televisi.

__ADS_1


Ardian terdiam sesaat. "Rindu."


"Ya, kenapa?" tanyanya tanpa menoleh. Rindu tampak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Tenang dan tak bisa ditebak.


"Kamu masih mencintaiku? Masih adakah aku di hatimu?" tanya Ardian lirih. Matanya masih fokus menyorot mata wanita di hadapannya.


Rindu terkekeh kecil. "Haruskah aku menjawabnya?" Dia melirik Ardian sebentar.


"Ya, tentu saja," jawab Ardian menuntut jawaban.


Rindu mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu, itu sudah bertahun-tahun yang lalu," jawabnya tanpa beban.


Ardian menebak isi hati wanita itu. "Bisakah kita memulainya lagi? Bolehkah aku masuk lagi ke dalam hatimu? Aku akan membuatmu kembali mencintaiku." Nada bicara pria itu sangat berharap.


Rindu kemudian menatap dalam mata Ardian. Memiringkan wajahnya menyamping. Mengabaikan siaran televisi yang tidak menarik baginya. Kening Rindu mengerut, melihat adakah ketulusan dari ucapan Ardian barusan.


Benar, mata itu terlihat tidak berbohong. Ardian masih ada perasaan padanya, masih mencintainya. Terlihat dari sorotan mata pria itu yang tampak terluka. Tapi sebenarnya Rindu takut untuk membuka hatinya lagi. Dia sudah menutup rapat dan tidak ingin diisi lagi. Bukan karena Ardian, tapi masa lalu yang membuatnya enggan untuk mencintai lagi.


Rindu pun kembali menghadap depan seraya tersenyum tipis. Rindu masih setia dengan diamnya.


"Rin, katakan sesuatu."


"Aku … aku tidak yakin apakah itu bisa?"


"Aku akan membuat itu bisa. Aku yakin di lubuk hatimu yang terdalam masih ada aku. Aku akan berusaha membuka lagi hatimu, Rin." Ardian mencoba meyakinkan.


Walaupun dia tau itu akan sulit. Ardian setidaknya masih mempunyai sedikit harapan. Dulu Rindu mencintainya. Mungkin perasaan itu telah memudar, karena terkikis waktu. Ardian perlu memupuk dan membangkitkan lagi.


Rindu membuang napas panjang. "Cobalah kalau kamu mau." Terserah Ardian mau melakukan apa pun. Rindu tidak yakin, kalau hatinya masih punya rasa cinta untuk lawan jenis. Rindu juga tak akan memaksa.

__ADS_1


Senyum manis terbit di bibir Ardian, perjalanannya masih sangat jauh. Dia akan berusaha sekuat tenaga. Tanpa aba-aba tubuh Rindu pun dipeluk sangat erat, puncak kepala dikecup, menghirup aroma khas yang sangat dirindukannya itu. Persetujuan Rindu membuat Ardian senang. "Terima kasih, Rindu … terima kasih, Sayang."


***


__ADS_2