Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kisah masa lalu


__ADS_3

***


Beberapa menit kemudian Ardian kembali membawa secangkir teh hijau. Pria itu ternyata pergi ke dapur untuk membuat teh agar Rindu bisa tidur dengan nyenyak. Dari dulu dia memang selalu memperhatikan hal-hal kecil untuk Rindu.


Teh hijau yang mengandung asam amino yaitu theanine. Yang memiliki kemampuan dalam meningkatkan fungsi otak, menenangkan diri dan pikiran, serta mengurangi stress. Dapat memperbaiki kualitas tidur. Theanine bekerja dengan mengurangi hormon stres di otak, sehingga membantu seseorang untuk bisa lebih rileks.


"Minumlah teh ini."


"Terima kasih."


Rindu menyesap teh itu beberapa kali, lalu mengembalikan pada Ardian. Cangkir teh diletakkan di nakas. Lalu Ardian naik ke atas kasur sisi satunya, masuk ke dalam selimut dan membaringkan tubuh.


"Kemari lah." Bantal di sebelah Ardian ditepuk pelan, mengajak Rindu ikut berbaring di sebelahnya. Tatapan matanya teduh hingga menerbitkan senyuman wanita cantik itu.


Perlahan Rindu ikut masuk dalam selimut membaringkan tubuhnya sedikit berjarak dari Ardian. Pandangannya lurus ke langit-langit, jantungnya berdebar lebih cepat. Tangan kekar Ardian tiba-tiba menyelip ke leher Rindu dan menarik hingga mendekat. Sekarang kepala Rindu berbantal lengan berotot pria itu. Tangan Ardian satunya meraih pundak Rindu dan menariknya hingga mereka berhadapan. Ardian menatap iris hitam wanita itu penuh kelembutan, wajah cantik itu seakan menyihirnya.


Rindu yang semula terpaku, membalas tatapan itu, kedua tangannya menempel ke dada bidang Ardian. Dia bisa merasakan detakan jantung di dalam sana sangat cepat. Sama dengan tempo jantungnya saat ini. Hanya saja Ardian tidak ikut merasakannya.


"Kamu gugup?" tanya Ardian.


"Emm, sedikit." Tentu saja dia gugup, pertama kalinya dia tidur sedekat ini dengan Ardian, hanya berdua.


"Kelihatanya kamu tidak canggung sama sekali," kata Ardian lirih.


"Kenapa aku harus canggung, ini bukan pertama kalinya aku tidur dengan seorang pria. Hanya sedikit gugup karena tidur di pelukan pria yang berbeda," ungkap Rindu jujur. Dia hanya merasakan gugup karena dia dalam dekapan pria yang dulu pernah mengisi hatinya. Jarak mereka sangat dekat.


Ardian diam sejenak. "Rin, mau mengobrol sebentar?"


Hah, malam ini sepertinya akan panjang. Rindu yang tadinya ingin tidur, terpaksa membuka mata tetap terbuka. Ardian mengajaknya mengobrol dan menanyakan banyak hal.

__ADS_1


"Bagaimana kehidupan rumah tanggamu dulu, apakah kamu bahagia?"


Rindu tertawa kecil. "Pertanyaan yang aneh. Jika aku bahagia, tidak mungkin aku berada di sini, kan?"


"Benar juga. Kamu tidak akan menceritakannya?"


"Kamu sungguh mau tahu?"


"Emm."


Rindu diam sejenak, dia memilih kata-kata yang tepat. "Mantan suamiku hanya orang biasa, kami bertemu waktu aku pergi berlibur ke Jepang. Pertemuan yang tanpa sengaja dan kami berkenalan. Dua bulan kemudian kami menikah di kampung halamannya. Awalnya aku merasa pernikahanku sangat bahagia, mertua juga terlihat baik."


Ardian mendengar dengan seksama. Tumbuh rasa kesal ketika Rindu mengatakan tentang pernikahan.


"Dia bekerja di perusahaan ekspor impor, entah bagian apa. Dia tidak pernah cerita banyak hal tentang urusan pekerjaannya. Di tahun pertama pernikahan masih baik-baik saja. Hingga ketika aku hamil, kami memilih tinggal sendiri. Setelah anak kami lahir, dia tiba-tiba berubah, tidak pernah perhatian. Setiap ada permasalahan tidak pernah bercerita. Ibu mertuaku yang selalu memberi tahu. Suatu saat dia kehilangan pekerjaan, tabungan kami habis untuk biaya hidup." Rindu diam, hatinya kembali merasa nyeri mengingat kisah masa lalunya.


Rindu menghela napas sejenak. "Ya, dan akhirnya kami sering bertengkar. Aku mengajaknya tinggal di rumah mama. Namun, dia menolak dan memilih tinggal di rumah ibunya. Aku mulai diperlakukan tidak adil, dipandang sebelah mata oleh ibu mertua dan iparku. Aku dianggap pembawa sial dalam keluarga itu. Kemudian aku memutuskan untuk pulang diam-diam bersama anakku dan kami berpisah." Rindu menghela napas panjang dan mengakhiri ceritanya.


Walau cerita itu hanya berupa garis besarnya saja. Ardian cukup mengerti bahwa Rindu sangat tidak bahagia. Seberapa banyak tekanan yang wanita itu rasakan? Seberapa sering dia merasa terabaikan? Ardian sangat menyayangkan dan menyesalkan perpisahan mereka dahulu.


"Kenapa dia bisa berubah?" Suara Ardian terdengar bergetar, dia masih ingin tau lebih banyak.


Rindu mengedikkan bahu. "Entahlah, mungkin saja karena hasutan dari keluarganya yang menyalahkan aku membuatnya kehilangan pekerjaan." Tak nampak ekspresi apapun dari wajah wanita itu, dia terlihat santai dan sudah menerima kenyataan.


"Kenapa mereka menyalahkan kamu?" Amarah Ardian mulai bergejolak karena kisah yang menyayat hati.


"Karena mereka pikir setelah kami menikah, mantan suamiku itu selalu mundur dalam pekerjaannya. Mereka menganggapku pembawa sial."


Rahang Ardian terlihat mengeras. "Tidak ada yang seperti itu. Mungkin dia kehilangan pekerjaannya karena salahnya sendiri!" Alasan yang konyol, dan itu tak dapat diterima sama sekali.

__ADS_1


"Mungkin, karena mereka masih menganut kepercayaan begitu sehingga aku disalahkan. Aku tidak pernah tau apa-apa, mungkin itu alasannya."


"Apakah dia ringan tangan?"


"Tidak sama sekali. Tapi pernah beberapa kali dia pulang dalam keadaan mabuk. Aku tak pernah suka lagi dengan barang haram itu sejak menikah. Karena aku tidak suka, kami sering tidur terpisah."


"Tidak lagi? Jadi kamu pernah menyukainya?" Ardian mengerutkan kening. Tak menyangka Rindu pernah menyentuh minuman keras itu.


"Dulu pernah, ketika aku di Jerman," jawab Rindu jujur.


Jerman, kota tujuan tempat Rindu melarikan diri darinya dulu. Ardian semakin ingin tau setelah Rindu menyebutkan. "Jerman? kehidupan seperti apa yang kamu jalani di Jerman?"


Rindu malah terkekeh. "Apakah aku harus menceritakan yang itu juga?" Rindu memutar tubuhnya hingga terlentang, terlihat enggan untuk melanjutkan.


"Jika kamu tidak keberatan."


Rindu menoleh dan menggeleng. "Oow … tidak, tadi kamu cuma nanya tentang pernikahanku dulu. Untuk yang itu aku masih belum bisa cerita."


"Apakah, itu sangat menyakitkan? kamu pasti mengalami hal buruk, lukamu pasti masih membekas, dan ingin menguburnya saja. Begitukah?"


"Ya, bisa dibilang begitu." Rindu mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit.


"Ya Tuhan, Rin. Hal mengerikan seperti apa yang pernah kamu alami? Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kamu dulu. Seandainya kita tidak berpisah seperti itu, mungkin kamu tidak akan menderita." Ardian menarik Rindu dalam pelukannya. Membayangkan penderitaan seperti apa yang telah Rindu alami. Dia menahan genangan air mata yang hampir menetes.


"Kamu menyesal?" Wajah Rindu tepat berada di dada bidang pria itu.


Katanya 'menyesal' seharusnya juga diberikan untuknya. Tidak seharusnya Rindu memutus kontrak dengan pria itu. Namun, apalah artinya penyesalan jika akhirnya tak akan mengembalikan keadaan.


***

__ADS_1


__ADS_2