Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Gangguan mental


__ADS_3

***


Beban berat yang harus dipikul oleh orang tua, adalah ketika anak mereka mengalami kesusahan. Dahlia sudah lama menyaksikan betapa sakitnya hidup Rindu. Dia sama sekali tidak ingin melepas Rindu jauh darinya. Namun, jika dia tidak.memberi sebuah kepercayaan, Rindu akan terus terperangkap dalam masa lalu.


Hal itu yang membuat Dahlia melepas Rindu menikah dengan pria pilihan putrinya sendiri. Tetapi, harapan agar Rindu bisa bahagia, ternyata belum terkabul. Rindu malah dipertemukan dengan pria yang salah. Dahlia kembali menyaksikan bagaimana sang putri terluka, untuk yang kedua kalinya.


Namun, kini di hadapannya, adalah sosok pria berbeda. Pria yang sejak lama mendapat persetujuan darinya. Dulu, dia sangat berharap Ardian bisa memilih Rindu dan membahagiakannya. Kini, keputusannya tetap sama, Dahlia akan mendukung, jika Ardian berniat ingin serius dengan Rindu.


"Iya, Mama mau tanya apa?" Ardian tampak sedikit tegang, syok akibat kejadian tapi masih belum pulih.


"Apa yang kamu pikirkan setelah melihat kejadian tadi?" Dahlia yang peka dengan ekspresi wajah Ardian, mulai bertanya dengan gamblang. Apalagi setelah pria itu mengatakan bahwa dia ingin menjadi calon suami putrinya. Juga, melihat Kanaya juga sangat menyukai Ardian, wanita paruh baya itu tidak akan ragu lagi untuk bertanya.


"Syok, Ma. Itu hal pertama yang Ardi rasakan."


Dahlia memejamkan mata sejenak. "Mama ulangi sekali lagi pertanyaan Mama beberapa hari lalu. Kamu masih mencintai Rindu, kan?"


"Sangat, Ma. Ardi sangat mencintai putri Mama, sudah sejak lama." Pria itu tampak yakin dengan ucapannya.


"Apakah kamu benar-benar ingin menikahinya?"


"Tentu saja, Ma. Hanya Rindu satu-satunya wanita yang akan Ardi nikahi. Dia satu-satunya yang akan Ardi bawa ke dalam mahligai rumah tangga. Rindu satu-satunya wanita yang menjadi masa depan, Ardi."


"Syukurlah … ternyata Rindu masih bisa tertolong." Dahlia tampak bisa bernapas lega.


Ardian justru merasa bingung dengan ucapan Dahlia. Alan dan Alen hanya diam di tempatnya sebagai pendengar.


"Tertolong, Apa maksud, Mama?" Ardian mencondongkan tubuhnya ke depan, meminta penjelasan.


"Ardi … Rindu sebenarnya sakit," ucap Dahlia lemah, air muka wanita itu terlihat sayu. Membuka masa kelam Rindu, juga pukulan berat baginya.


"Sakit?" tanya Ardian, wajahnya mulai tegang.


"Seperti yang kamu lihat tadi. Rindu pernah mengalami trauma yang mengakibatkan mentalnya terganggu."


"Ya Tuhan!" Pria itu mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia mengepalkan tangan dan memukul-mukul kedua pahanya, mengerang tertahan. Alen yang duduk di sebelahnya menahan dengan menggenggam pergelangan tangan Ardian. Dia menoleh Alen sesaat, lalu melihat ke Dahlia lagi. "Apa yang terjadi dengan Rindu, Ma? Pernah mengalami hal yang sangat buruk?"

__ADS_1


"Iya, dan sepertinya Rindu tidak pernah minum obatnya lagi. Tadi sewaktu Mama lihat botol obatnya, masih tersisa banyak. Obat itu Mama tebus sudah sebulan yang lalu." Nada bicara Dahlia dibuat setenang mungkin.


Ardian lagi-lagi mengeluarkan cairan bening dari matanya. Laki-laki hebat itu mendadak menjadi sangat cengeng, dia menangis tanpa suara.


"Apakah kamu pernah bertanya mengenai masa lalunya? tanya Dahlia. "Kemungkinan Rindu bisa kambuh, karena mengingat masa lalu."


"Iya, empat hari yang lalu, Ma. Tapi Rindu bersikap biasa-biasa saja, tidak seperti sekarang ini," jawab Ardian dengan suara parau.


"Itu mungkin karena Rindu bisa mengendalikan diri. Atau karena suasana hatinya sedang baik, makanya dia sementara tidak memikirkan kejadian itu lagi."


"Lalu kenapa tadi Rindu bisa seperti itu?" Ardian semakin ingin tahu.


"Mama pikir mungkin karena pertengkaran di telepon tadi, pasti itu Bagas. Mama rasa Bagas juga menyinggung tentang masa lalu Rindu."


"Maksud, Mama. Pria itu yang mendorong Rindu?"


Dahlia mengangguk. "Mungkin juga perkataan Bagas yang memicu Rindu mengingat kejadian yang pernah dialaminya."


Ardian tampak mengetatkan rahangnya. Tangan yang masih mengepal ingin kembali memukul pahanya, tapi ditahan Alen dengan cepat.


"Iya, tentu saja. Mama rasa pertengkaran Rindu dan Bagas tadi juga ada hubungannya dengan syarat Bagas. Ketika Rindu dengan gigih ingin segera bercerai dengan laki-laki itu, dia menerima syarat." Suara Dahlia terdengar ditahan.


"Syarat seperti apa, Ma?"


"Laki-laki tidak bertanggung jawab itu mengajukan syarat. Jika ingin bercerai, Rindu tidak boleh berhubungan dengan pria manapun."


Ardian memejam sejenak. "Iya, Rindu pernah mengatakannya."


"Waktu itu, Rindu kembali mengalami gangguan traumatiknya, setelah lama tidak pernah kambuh lagi. Pertengkaran di telepon yang hampir tiap hari. Gugatan perceraian yang menyita energi dan waktu. Ditambah lagi, harus menjaga kondisinya untuk Kanaya. Rindu sempat hampir depresi lagi dan kambuh. Namun, tidak separah sekarang. Mungkin karena dulu Rindu rutin meminum obatnya. Tapi ternyata sekarang obat itu malah tidak pernah disentuh." Akhirnya luluh juga air mata yang telah tergenang di pelupuk mata Dahlia sedari tadi. Alan yang berada di samping segera merangkul dan mengusap-usap lengan mamanya. Sosok ibu yang penyayang itu menangis sesenggukan.


"Ma, sebaiknya kita hentikan saja dulu. Lain kali kita ceritakan pada Kak Ardi," ucap Alen kemudian. Melihat kondisi sang mama yang juga tidak kuat menahan tekanan.


"Iya, Ma. Sebaiknya mama tenang dulu, kak Ardi sepertinya juga masih belum bisa tenang," bujuk Alan seraya mengusap lengan mamanya lagi.


Mata kedua kembar itu sudah memerah dari tadi. Mereka menahannya agar tidak ikut menangis. Jika tidak, mamanya akan semakin merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya, baiklah, Mama mau istirahat dulu. Ardi, tidak apa-apa, kan, Mama cerita lain kali saja?"


"Iya, Ma, Ardi bisa menunggu. Walaupun ini sangat terasa berat. Namun, Ardi tetap ingin mengetahui semuanya. Ardi berjanji akan mengambil semua penderitaan Rindu dan mengubahnya jadi kebahagiaan."


"Benarkah? Mama sangat senang mendengarnya. Mama yakin kamu bisa membahagiakan putri Mama, Ardi. Kamu anak yang baik."


Dahlia menghampiri Ardi lalu menyentuh pundak laki-laki yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Kemudian Dahlia masuk ke kamar, menemani cucu kesayangan yang masih tidur.


***


PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pasca trauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa yang traumatis, baik dengan mengalaminya maupun menyaksikannya.


Gejala PTSD tidak selalu muncul segera setelah kejadian tersebut terjadi. PTSD umumnya didiagnosis setelah seseorang mengalami gejala selama setidaknya satu bulan, setelah mengalami kejadian traumatis. Namun, seseorang bisa saja baru mulai merasakan gejalanya, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah mengalami kejadian traumatis tersebut.


Secara umum, gejala PTSD dibagi menjadi empat tipe, yaitu intrusive memory (gangguan pada ingatan), avoidance (menghindar), perubahan cara pikir menjadi lebih negatif, dan perubahan reaksi secara fisik maupun emosional.


Ardian mencari apapun informasi yang berkaitan dengan kondisi Rindu di internet. Dalam pikiran Ardian saat ini, Rindu harus selalu ada dalam pengawasannya. Dirogohnya kantong celana mengambil ponsel.


"Eja … carikan aku psikiater terbaik. Yang khusus menangani PTSD!" perintah Ardian.


"Apakah kamu sudah mulai gila?" tanya Eja.


"Tidak, itu untuk wanitaku," jawab Ardian dingin.


"Rindu sakit? Baiklah akan aku urus secepatnya."


"Oya, bagaimana dengan hal yang aku minta tempo hari?"


"Masih dalam proses pengalihan saham."


"Baiklah, aku mau besok semua sudah selesai."


"Iya, Bos, tenang saja. Aku akan bekerja mati-matian untukmu, walaupun sudah waktunya aku cuti," sahut Eja kemudian.


Ardian melemparkan ponselnya begitu saja ke sofa. Lalu dia bersandar memejamkan matanya sejenak. Candaan Eja tidak bisa mengubah mood-nya sama sekali. Wajahnya kusut, hari ini terlalu banyak hal yang harus dia pikirkan. Terutama Rindu, dia harus memberikan yang terbaik untuk wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2